Peluang Bisnis  di Tengah Pandemi Covid-19 Sepi Manggung, Musisi Pilih Jualan Jamu

    Peluang Bisnis  di Tengah Pandemi Covid-19 Sepi Manggung, Musisi Pilih Jualan Jamu
    Peluang Bisnis  di Tengah Pandemi Covid-19 Sepi Manggung, Musisi Pilih Jualan Jamu

    MAGELANGEKSPRES.COM,Dampak pandemi Covid-19 menjadikan sejumlah kegiatan terhenti. Salah satunya adalah dunia entertainment.  Adanya imbauan pemerintah untuk tidak berkerumun membuat sejumlah orang yang bekerja di dunia hiburan ini harus mencari cara untuk tetap menghidupi perekonomian keluarga.

    Haries Saprilla, pria yang berprofesi sebagai musisi ini memilih banting stir dengan memproduksi jamu saat job manggung tidak ada lagi. Jamu dipilihnya karena dirinya setiap hari mengonsumsinya. Berawal dari kebiasaan minum jamu, kemudian untuk  berinisiatf membuat sendiri, apalagi di tengah pandemi Covid- 19,  jamu sangat  bermanfaat dan banyak diminati masyarakat. “Saya mengonsumtif  jamu agar tetap sehat. Namun, kebanyakan jamu yang dijual di pasaran masih banyak airnya sehingga rasanya kurang mantep,  kemudian berniat  buat  sendiri untuk diminum sendiri setelah dirasakan kok layak untuk dijual kemudian saya coba  buat untuk dijual,” ujarnya saat ditemui koran ini.

    Haries mengaku memiliki tetangga yang ahli herbal. Ia bertanya dengan tetangganya itu, yang tempat tinggalnya depan rumahnya. “Saya memang tahu cara buat jamu, tapi tetangga depan rumah saya, ahli herbal namanya Pak Sarioto, dari dia lah saya belajar membuat jamu, sesuai takaran kesehatan,”kata pria yang berprofesi  sebagai basis  group band Esklamusic  itu.

    Pembuatan jamu dilakukannya di rumah yang beralamat di Dusun Bayanan, Desa Banyurejo, Kecamatan Meryudan, Kabupaten Magelang. Ada 2 jenis jamu baru yang ia produksi, yaitu kunir asem dan rempah keraton. Tapi yang setiap hari diproduksi kunir asem, mengingat banyak permintaan. “Rempah keraton masih rumit pembuatannya dan bahan bakunya pun banyak. Jadi kalau ada pesenan baru dibuat,”imbuh bapak dua anak ini.

    Meski baru memproduksi jamu kunir asem, tapi Haries mengaku ingin memproduksi jamu yang berkualitas dan bermanfaat jika dikonsumsi. Bahan baku yang digunakan yang terbaik, seperti empu kunir, asam jawa, gula aren dan jeruk nipis. “Saya menggunakan empu untuk kunirnya supaya lebih terasa jamunya, untuk asam pun yang jawa jadi tidak sembarangan barangnya pun harus dipesan dulu, sementara pemanis saya menggunakan gula aren murni dan tidak menggunakan gula putih dan pemanis,”paparnya.

    Jeruk nipis sendiri, lanjut Haris digunakan supaya rasanya lebih mantap dan menyegarkan jika diminum. Untuk setiap harinya sebanyak 35 botol ukuran 500 mililiter memerlukan bahan baku 500 gram kunir, 900 gram asam dan 500 gram gula aren dan 5 butir jeruk nipis.

    Pria kelahiran Magelang 35 tahun lalu  menjelaskan proses  memproduksi jamu, awalnya empu kunir dihaluskan kemudian disaring dan direbus bersama gula aren dan asam. Setelah mendidih api dimatikan tunggu sampai dingin kemudian diberi jeruk nipis dan disaring kembali supaya tidak banyak ampasnya. “Disaringnya satu persatu dimasukan botol, jamu kemudian diberi label kemudian siap dijual. Jamu tahan 3-4 hari disuhu kamar dan 5-6 hari di kulkas,” jelasnya.

    Jamu dijual dengan harga Rp7.500 untuk kemasan 250 mili dan Rp12.500 untuk kemasan 500 mili. Untuk penjualan masih kalangan tertentu, belum dilakukan  secara profesional, baru dari mulut ke mulut dan secara online. “Sudah banyak yang pesan dan cocok dengan rasanya,” kata suami dari Novi Karlinasari ini.

    Haries mengaku akan terus memproduksu jamu, meskipun ia akan bermusik kembali. “Saya ingin membuat perkumpulan penjual jamu kedepannya,” imbuhnya.

    Setelah banyak permintaan jamu kunir asam, kini Haries mulai memproduksi jamu beras kencur dan asam jawa. Menurutnya, banyak pelanggan yang meminta ia untuk memproduksi jamu beras kencur dan asam jawa. Ada yang membedakan beras kencur miliknya dengan beras kencur yang dijual dipasaran. “Beras kencur bahan nya sangat banyak dan harus melalui proses yang lumayan lama, karena bahan kami sedikit berbeda dengan beras kencur kekinian, kami pakai kapulaga kedawung, kerangean,manis jangan dan bahan-bahan yang lain,”ungkapnya.

    Untuk asam jawa, pembuatannya lebih lebih simpel, tidak banyak kendala dan lebih awet. “Asam jawa lebih tahan lama kalau di kulkas bisa hampir 2 minggu,”katanya.Haries berharap banyak pelanggan yang menyukai jamu-jamunya dan kedepan bisa menambah varian baru lagi.(*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here