Aniaya Korban hingga Meninggal, 9 Warga Kota Magelang Ditangkap Polisi

PENGEROYOKAN. Kapolres Magelang Kota AKBP Nugroho Ari Setyawan didampingi Kasat Reskrim AKP Dewa Ditya saat gelar kasus pengeroyokan yang membuat korban meninggal dunia di mako Polres setempat,
PENGEROYOKAN. Kapolres Magelang Kota AKBP Nugroho Ari Setyawan didampingi Kasat Reskrim AKP Dewa Ditya saat gelar kasus pengeroyokan yang membuat korban meninggal dunia di mako Polres setempat,

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG  – Sembilan dari 12 tersangka kasus penganiyaan hingga membuat korban meninggal dunia di Kota Magelang berhasil ditangkap polisi. Saat ini, Sat Reskrim Polres Magelang Kota menetapkan 3 warga lainnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Ke-9 warga yang rata-rata masih berusia belia ini ditangkap setelah terlibat aksi penganiayaan terhadap korban Bagas Himawan (23), warga Kampung Bogeman, Kelurahan Panjang, Magelang Tengah, hingga meninggal dunia, Kamis (4/6) lalu.

Sembilan tersangka yang sudah berhasil diamankan salah satunya masih berstatus sebagai pelajar yakni, NF (18), warga Kampung Magersari, Kelurahan Magersari. Kemudian ANG (24), MLP alias Galih (19), dan RF alias Bunder (37). Mereka seluruhnya berasal dari Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan.

Kemudian lima tersangka lainnya berasal dari satu kampung yakni Kampung Trunan, Kelurahan Tidar Selatan, Magelang Selatan, antara lain, DA (28), CH alias Mbahe (24), AAS alias Liyong (20), SJ alias Jarwo (20), dan RS (34).

Kapolres Magelang Kota AKBP Nugroho Ari Setyawan mengatakan, ketiga DPO ini antara lain Hendra alias Hendro (18) pekerjaan sebagai tukang parkir dengan ciri-ciri tinggi badan 158 cm, kulit sawo matang.

Lalu, April (23), dengan ciri-ciri tinggi badan 160 cm, memiliki percing di mata sebelah kanan, ada tato di leher dan tangan kananya. Kemudian Roni Purwanto alias Boneng (36) dengan ciri-ciri badan kurus, kulit sawo matang, dan tinggi badan 170 cm.

”Masyarakat yang mengetahui keberadaan tersangka DPO ini kami harapkan untuk menginformasikan kepada petugas kepolisian,” kata Nugroho saat menggelar perkara kasus pengeroyokan ini, di Markas Komando Polres Magelang Kota, Jalan Alun-alun Selatan, Senin (6/7).

Baca Juga
Petugas Temukan Cerutu Ilegal, Operasi Cukai Pertama di Wonosobo Masa Pandemi Covid-19

Nugroho menjelaskan kronologi pengeroyokan yang membuat seorang korban meninggal dunia ini terjadi pada awal Juni lalu. Kala itu, ke-12 pelaku menyebut pos kamling di Kampung Trunan, Tidar Selatan sebagai markas mereka.

”Ada salah satu dari 12 pelaku ini kemudian yang mengatakan kalau saudaranya pedagang bawang di Pasar Gotong Royong kemalingan. Setelah dilihat rekaman CCTV, mereka menuduh bahwa pelaku pencuriannya itu adalah Bagas,” ujarnya.

Berbekal bukti rekaman CCTV ini, belasan warga ini kemudian menyusun strategi untuk menjemput paksa korban untuk diadili di markas mereka.

”Mereka sebenarnya tidak kenal dekat dengan korban. Sebatas tahu saja. Tapi berbekal rekaman CCTV, yang kata mereka itu melakukan pencurian, mereka mendatangi rumah korban dan secara paksa membawanya ke tempat yang mereka sebut markas,” jelasnya.

Nugroho menyebutkan, kekerasan yang dilakukan kawanan pria ini sudah terjadi sejak penjemputan paksa di rumah korban. Mereka kemudian menginterogasi keterlibatan korban saat melakukan aksi pencurian 1 karung bawah di Pasar Gotong Royong.

”Sejauh ini polisi belum menerima adanya kasus pencurian ini. Rekaman CCTV juga belum kami periksa. Kita terpaku untuk menyelidiki kasus pengeroyokan yang membuat satu nyawa melayang,” tandasnya.

Proses interogasi menjadi makin emosi karena belasan pria ini dalam pengaruh minuman keras. Lantaran tak terima dengan pengakuan korban yang dianggap berkelit, belasan warga ini kemudian mulai memukul dan menendang.

”Satu orang pelaku ada yang membenturkan kepala korban ke tembok hingga mengalami pendarahan hebat. Setelah itu korban yang sudah tidak berdaya, dibawa oleh para pelaku ke RSUD Tidar. Tapi hanya ditinggal saja, habis itu mereka pulang,” ucapnya.

Tak berselang lama, korban pun menghembuskan napas terakhirnya. Nugroho mengaku prihatin dengan kejadian ini. Terlebih Kota Magelang selama ini selalu kondusif dan tenang.

”Saya mengimbau masyarakat jika menemukan tindak kriminalitas, laporkan ke kami. Tidak perlu main hakim sendiri, apalagi terpengaruh miras,” imbuhnya.

Para tersangka kini ditahan di Mako Polres Magelang Kota yang dalam waktu dekat, berkas perkara akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Magelang. Mereka dijerat pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman pidana 12 tahun penjara. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here