Guru SD Honorer Kreasikan Limbah Kayu Jadi Lure Berkelas

    LURE. Wahyu Pratitis membuat berbagai lure dari limbah kayu di bengkel produksinya Desa Semawung Kecamatan Purworejo, 
    LURE. Wahyu Pratitis membuat berbagai lure dari limbah kayu di bengkel produksinya Desa Semawung Kecamatan Purworejo, 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Seorang guru SD honorer asal Desa Semawung Kecamatan/Kabupaten Purworejo bernama Wahyu Pratitis (35), sukses berkreasi dengan umpan pancing buatan atau “Lure” warna-warni berbahan limbah kayu. Tak hanya digemari para pemancing dalam negeri, Lure berkelas dalam berbagai bentuk dan ukuran ini juga diminati para pemancing mancanegara. Pemasarannya menjangkau berbagai negara, seperti Thailand, Malaysia, Singapore, Taiwan, dan Perancis.

    Saat ditemui di bengkel Lure rumahan miliknya di RT 01 RW 02 Desa Semawung, Wahyu sedang sibuk mengecat kayu-kayu bekas limbah pengolahan kayu. Dilihat sekilas, benda-benda hasil karya Wahyu ini mirip mainan anak-anak. Namun, saat didekati itu adalah umpan pancing berbahan baku kayu limbah yang menjadi andalan para pemancing.

    Wahyu tercatat sebagai guru honorer di SDN Sebomenggalan Purworejo. Awalnya ia tak menyangka jika Lure buatannya menjadi peruntungan baginya. Ide pembuatan Lure ini berawal dari hobi memancing. Suatu hari, ia membutuhkan umpan ikan buatan dan mengharuskan ia membeli. Saat itulah ia berpikir jika harus membeli terus menerus, akan menjadi boros. Dari hal tersebut Wahyu mencoba membuat umpan pancing dari kayu limbah yang tercecer di tempat pengolahan kayu.

    “Awalnya saya suka mancing tapi ketika saya mancing umpannya sering nyangkut ke ranting dan bebatuan akhirnya hilang, terus saya akhirnya mencoba membuat sendiri dan ternyata respons dari teman-teman bagus dan pada beli juga,” kata Wahyu, Jumat (3/7).

    Wahyu memproduksi Lure berbentuk ikan, kura-kura kecil, dan cumi dengan berbagai ukuran. Ukuran terkecil seberat sekitar 10 gram hingga ukuran paling besar dengan berat 60 gram. Setiap hari ia dibantu dengan 2 orang temannya mampu membuat 10 hingga 15 Lure

    “Karena saya juga harus ke sekolah dulu biasanya sampai jam 14.00, jadi baru bisa mengerjakan setelah pulang sekolah,” sebutnya.

    Untuk membuat Lure, selain membutuhkan bahan baku berupa kayu yang bisa terapung, juga membutuhkan sejumlah bahan baku lain, seperti cat mobil, stiker, hingga bubuk fosfor. Dengan bubuk fosfor tersebut, umpan pancing hasil kreasi Wahyu mampu memancarkan cahaya di dalam air.

    “Untuk pesanan lokal di Indonesia saya mematok tarif mulai dari Rp40 ribu hingga Rp75 ribu (per buah) tapi kalau mancanegara seperti Thailand, Malaysia, Singapore, Taiwan, Perancis US$ 9-15. Dan besok mau kirim ke Australia,” ungkapnya.

    Wahyu mengaku memulai bisnisnya sejak 2015 silam dengan menggunakan paltform digital IG dan Facebook sebagai media pemasaran. Hampir seluruh tempat di Indonesia sudah ada yang memesan Lure buatannya, kecuali Papua yang aksesnya memang sedikit sulit.

    “Beberapa kesulitan yang saya hadapi adalah bagaimana menyeting agar umpan ini gerakannya bagus jika di dalam air, karena setiap jenis umpan harus beda gerakannya,” pungkasnya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here