Masih Dalam Masa Ujicoba, Pembukaan Pendakian Gunung di Wonosobo Menunggu Pemberitahuan Resmi

TUTUP. Basecamp pendakian masih tutup menunggu ujicoba atau simulasi dan surat pemberitahuan dari pihak terkait.
TUTUP. Basecamp pendakian masih tutup menunggu ujicoba atau simulasi dan surat pemberitahuan dari pihak terkait.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Beberapa basecamp pendakian telah mulai melakukan simulasi untuk persiapan pembukaan jalur pendakian gunung di kawasan Wonosobo. Kendati sudah mulai melakukan simulasi, namun momentum tersebut belum dinyatakan secara resmi bahwa pendakian telah dibuka secara penuh.

Dikatakan salah satu petugas pos pendakian Gunung Bisma, Ulin, pihaknya sudah melakukan persiapan untuk simulasi sejak sepekan lalu dan untuk simulasi berkoordinasi dengan pihak terkait.

“Ini masih ujicoba dan persiapan, tapi belum ada edaran untuk pembukaan. Mengingat ada izin kelayakan yang disampaikan ke dinas pariwisata dan gugus tugas kabupaten yang kemungkinan akan mulai bulan Juli mendatang tapi belum ada kepastian tanggalnya,” ungkapnya kemarin (29/6).

Hal serupa juga dilakukan di beberapa basecamp pendakian di kawasan Dieng, seperti basecamp pendakian Prau via Patakbanteng. Salah satu hal yang jadi sorotan di masa simulasi adalah kesiapan pendaki selain secara fisik juga peralatan lain yang wajib dibawa termasuk surat keterangan sehat.

Menurut salah satu penggemar wisata pendakian gunung, Muhammad Rohman Azmi, salah satu syarat yang dinilai bakal memberatkan adalah surat keterangan sehat. Mengingat sekarang untuk mendapat surat keterangan sehat dipenuhi dengan mengikuti rapid test.

Baca Juga
Forpimda Kota Magelang Lakukan Simulasi Kedua, Pastikan Taman Kyai Langgeng Mulai Dibuka 1 Juli

“Kalau nantinya memang ada surat keterangan sehat untuk syarat pendakian, kemungkinan bakal sedikit yang bisa memenuhi. Untuk dapat surat sehat, setahu saya harus ikut rapid test minimal sekali dan itu pun hampir Rp400.000 untuk yang mandiri. Tapi saya juga belum tahu apakah seperti itu. Tapi untuk kelengkapan lainnya seperti masker dan alat kelengkapan lain sangat masuk akal,” katanya.

Diungkapkan Azmi, beberapa adaptasi kebiasaan baru mendaki gunung yang dibacanya dari media sosial meliputi surat keterangan sehat, handsanitizer, masker minimal dua buah per orang, sarung tangan dua pasang, selain perlengkapan standar pendakian.

“Ada juga pembatasan sistem kuota dengan kapasitas tenda 50 persen. Selain juga pastinya ada  pemeriksaan suhu dan semprot sterilisasi untuk calon pendaki. Kami masih menunggu dari pemerintah, yang katanya Juli besok. Maklum sekarang masih momen liburan, baik sekolah maupun kampus. Yang biasanya ramai kan Sikunir,” ungkapnya. (win)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here