Adaptasi Pandemi, Kuliner Frozen di Wonosobo Naik

DAGING. Lapak daging banyak menyediakan produk frozen olahan lokal maupun dari pasokan luar daerah siap olah.
DAGING. Lapak daging banyak menyediakan produk frozen olahan lokal maupun dari pasokan luar daerah siap olah.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Meskipun bahan pangan dalam kondisi segar masih melimpah dan harganya stabil, namun inovasi produk makanan kini mendapat perhatian para konsumen.

Hal itu terbukti dengan meningkatnya penjualan produk makanan beku atau frozen yang ternyata tidak hanya di segmen daging maupun ikan laut saja.

Salah satu pemilik toko Frozen di kecamatan Kota, Nahdia, yang menyebut penjualan beberapa produknya justeru naik hingga hampir 100% dalam sebulan terakhir.

“Awalnya saya hanya jual naget, sosis, dan beberapa varian daging beku. Tapi ternyata banyak produk masuk seperti olahan makanan seperti lumpia, bakso, hingga rendang yang bisa diolah dengan mudah. Dari sisi harga memang cukup terjangkau karena bisa menakar sekali saji dan biasanya tidak membutuhkan alat masak rumahan. Sejak pandemi ini permintaan naik terus mungkin karena untuk antisipasi pembeli sendiri,” ungkapnya kemarin.

Beberapa produk frozen diungkapkan nahdia merupakan olahan lokal, mengingat pasokan daging lokal cukup melimpah, terutama untuk produk seperti sapi hingga ayam. Namun pembeli lebih memilih produk yang siap masak dan sudah tersedia bumbu. Kini beberapa produsen makanan rumahan juga banyak menyuplai dengan berbagai varian.

Baca juga
PDAM Wonosobo Pasang Dua Toren Cuci Tangan di Alun-alun Sisi Barat

“Yang cukup banyak dicari seperti roti Maryam sampai olahan untuk campuran sup maupun seblak. Kebanyakan memang sudah beredar sebelum pandemic dan mungkin stok melimpah untuk antisipasi momen libur lebaran yang ternyata ada pembatasan. Sehingga harganya memang cukup terjangkau,” ungkapnya.

Meskipun sempat ada pemberitaan tentang jamur Enoki yang lazim menjadi campuran makanan frozen, menurutnya produk yang pernah dipasarkannya berasal dari sumber yang berbeda. Bahkan untuk non daging, pihaknya cukup selektif mengingat resiko serupa yang terjadi untuk varian lain seperti kacang-kacangan.

“Kalau untuk jenis seperti sayuran saya memang tidak begitu tertarik karena resiko rusaknya lebih tinggi dan Wonosobo pasokannya selalu segar,” pungkasnya. (win)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here