Harga Kopi di Temanggung Turun di Tengah Pandemi

PETIK. Berlatih memetik dan mengenal kopi sejak dini, seorang anak usia TK sedang memetik kopi. 
PETIK. Berlatih memetik dan mengenal kopi sejak dini, seorang anak usia TK sedang memetik kopi. 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Memasuki panen raya kopi tahun 2020, harga kopi arabika turun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saat ini harga jual kopi arabika hanya Rp7.000 per kilogram.

Ahmad S (32) salah satu petani kopi di Desa Tlahab Kecamatan kledung menuturkan, jika dibandingkan dengan harga kopi di tahun 2019 lalu, hargakopi saat ini turunnya sampai Rp2.000 per kilogram.

“Tahun 2019 lalu awal panen kopi sudah dibeli dengan harga Rp6.000, dan kemudian harganya terus naik hingga saat memasuki panen raya mencapai harga tertinggi yakni antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram,” terang Ahmad, Minggu (28/6).

Namun kata Ahmad, harga awal petik sekitar bulan Mei lalu hanya Rp4.500-Rp5.000 per kilogram, kemudian harganya terus mengalami kenaikan secara bertahap. Dan saat ini harganya sudah mencapai Rp7.000 per kilogram.

“Alhamdulillah sudah mulai naik, meskipun jika dibandingkan dengan harga kopi di tahun 2019 lalu masih dibawahnya,” keluhnya.

Gito (48) petani lainnya juga menuturkan hal yang sama untuk harga kopi arabika petik merah. Sedangkan untuk kopi yang petiknya tidak merah maka harganya dibawah harga tersebut.

“Sudah beberapa tahun ini petani di desa kami mulai paham, hampir semua petani kopi sudah mulai petik merah. Sebab lebih menguntungkan meskipun harus lebih telaten,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini belum semua kopi di lereng Gunung Sindoro terutama di Kecamatan Kledung yang sudah siap panen raya. Baru sebagian tanaman kopi saja yang sudah mulai bisa dipanen.

Baca juga
Angka Positif Covid-19 di Temanggung Terus Turun

“Kopi itu kan panennya bertahap, mulai dari meliki (memilih), panen raya, dan penghabisan. Jadi waktu panennya cukup panjang,” ujarnya.

Oleh karena itu dirinya berharap, kedepan harga kopi bisa terus membaik, sehingga harga kopi arabika tahun ini bisa seperti tahun-tahun sebelumnya. Hasil penjualan dari kopi pada panen raya tahun ini menjadi sandaran bagi petani di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Dampak dari Covid-19 juga dirasakan oleh petani, alhamdulillah ada panen kopi jadi sangat membantu. Semoga saja harganya bisa terus membaik,” harapnya.

Sementara itu salah satu pedagang kopi di Kecamatan Kledung Arifin menuturkan, diawal panen raya lalu memang harga kopi gelondong merah basah belum bisa seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebab kualitas kopi diawal panen raya masih belum sesuai dengan permintaan pasar.

“Kopi diawal panen raya itu biasanya masih banyak yang mengambang saat diproses pasca panen, sehingga rendeman dari basah ke kering masih banyak, oleh karena itu harganya biasanya masih lebih murah,” tuturnya.

Namun demikian lanjutnya, kualitas kopi akan terus bertambah baik saat memasuki panen raya, harganya pun akan menyesuaikan dengan kualitas kopi.

“Kalau yang merahnya merata harganya bisa sampaiRp7.000 tapi kalau yang masih ada campurannya hijau atau setengah merah itu harganya dibawah itu,” tuturnya.

Ia berharap, petani juga bisa menjaga kualitas kopi saat melakukan pemetikan, sehingga harga jual kopi bisa terus membaik.

“Harus sama-sama, petani juga harus bisa menjaga dan meningkatkan kualitas dari kopi mereka, jika inging harganya terus membaik,” tutupnya.(set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here