Kepedulian Rukayah, Sudah 15 Tahun Berjualan Jamu Gendong

    JAMU. Rukayah warga, Dusun Kalikotes sodaqohkan jamunya tiap hari Jumat.
    JAMU. Rukayah warga, Dusun Kalikotes sodaqohkan jamunya tiap hari Jumat.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Jumat  menjadi hari yang sangat baik untuk meningkatkan segala ibadah bagi umat islam. Salah satu amalan ibadah yang diperbanyak saat hari Jumat adalah sodaqoh. Amalan ini banyak dilakukan banyak orang. Mereka menyisihkan sebagian hartanya untuk dibagikan kepada sesama. Jika biasanya banyak orang memberikan sodaqoh bentuk makanan atau uang, tapi tidak dengan penjual jamu ini, apakah yang diberikan?

    RUKAYAH, perempuan berusia 47 tahun itu mengaku menjual jamu gendong selama 15 tahun lamanya. Warga Dusun Kalikotes, Desa Madyocondro, Kecamatan Secang, Magelang menjelaskan bahwa bakat membuat jamu didapatkannya dari teman jualan di pasar yang kebetulan berjualan jamu. “Dulu saya jualannya ikan di Pasar Kranggan, kebetulan sebelah jualan saya, penjual jamu gendong dan suatu ketika saya ditawari akan diajari cara membuat jamu. Saya mau sekali dan setelah itu, saya mencoba membuat sendiri kemudian dijual di desa hingga tetangga desa,”ungkapnya saat di rumahnya, Jumat (26/6).

    Jenis jamu yang dijual Rukayah, antara lain, jamu beras kencur, kunir asem, pahitan, daun pepaya, suruh, temu lawak dan kayu secang. Tiap hari, Rukayah berjualan dengan berjalan kaki di lingkungan sekitar rumah, jika dagangan masih ia menjajakan dagangannya hingga luar desa menggunakan motor. “Setiap hari, saya berkeliling dari pagi hingga dagangan habis baru pulang,”ungkapnya.

    Satu porsi jamu dijualnya dengan harga Rp1.000. Setiap harinya Rukayah mendapatkan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. “Hasil jualan jamu yang saya dapatkan minimal Rp100 ribu,” ujarnya.

    Setiap minggu sekali,  Rukayah selalu niatkan untuk membagiakan dagangannya untuk bersodaqoh. “Sudah 2 tahunan, setiap hari Jumat saya memberikan jamu secara cuma-cuma untuk masyarakat yang ingin minum jamu. Dengan niat ikhlas, hati saya menjadi senang dan tenang meski di hari Jumat tidak mendapatkan hasil berupa uang,” tutur Rukayah.

    Rukayah sendiri mengaku selama badannya sehat, ia sempatkan membuat dan membagikan dagangannya kepada orang-orang yang ingin meminum jamu. “Takaran jamu yang saya buat tiap hari Jumat sama seperti hari biasa, tidak ada pengurangan sedikit pun,”terang warga RT 02 RW 04 Dusun Kalikotes ini.

    Ia berharap apa yang dilakukannya ini mendapat manfaat bagi orang lain. Keingianan bersodaqoh ini pun juga didukung oleh keluarganya, salah satunya suami, Sudiono (60).”Saya sendiri senang berbagi dengan sesama, karena sudah diajarkan oleh orang kita dulu. Dari mulai subuh kita juga sudah rutin menyisihkan untuk diberikan ke kotak amal,” tambah Sudiono.

    Selama meningkatkan sodaqoh, setiap hari, kehidupan yang dialami keluarga Rukayah  menjadi lebih tenang. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here