Nestapa Pekerja Seni Hadapi Pandemi

    MAGELANGEKSPRES.COM,Pandemi Covid-19 ternyata membawa dampak ke semua lini profesi khususnya di sektor nonformal. Tak terkecuali kalangan seniman. Sepinya job tanggapan, membuat sejumlah seniman terpaksa melego aset peralatan manggung demi mencukupi kebutuhan harian. Sementara, bantuan pemerintah yang jenisnya bermacam-macam itu ternyata juga tak menyentuk mereka. Seperti apa?

    Dalang senior Purworejo, Muji Waluyo bercerita banyak soal bagaimana kondisi rekan seprofesinya akibat serangan pandemi Covid-19 yang menghantam sejak beberapa bulan terakhir. Imbas yang sangat dirasakan adalah sepinya undangan pentas karena adanya larangan penyelenggaraan kegiatan keramaian. Beragam cara dilakukan agar mereka mampu bertahan hidup. Bahkan, ada juga yang sampai menjual aset mulai dari gong, kendang hingga motor.

    Penasehat Pepadi Kabupaten Purworejo ini menyampaikan bahwa beberapa dari rekan-rekannya rela menjual Gong, kendang dan alat-alat pentas lainnya untuk menghidupi keluarganya. Tidak hanya itu beberapa dari seniman panggung seperjuangannya juga banyak yang beralih profesi.

    “Gong perunggu yang menjual pak dalang Bagong Hadi Widodo. harga asli Rp 8 juta ditawar akhirnya laku Rp5,5 juta karena ia butuh uang. Sehingga meskipun harganya jauh di bawah standar akhirnya dilepas karena memang benar-benar membutuhkan uang,” katanya, Sabtu (20/6).

    Ada juga seniman yang lainnya seperti Dalang Sarjono mau menjual gawang kelir (alat pegelaran wayang) yang dibandrol Rp10 jutaan. Bahkan sampai ada seniman yang beralih profesi sebagai penjual angkringan karena masa pandemi Covid-19 ini tidak bisa pentas.

    “Sejak Maret kami tidak manggung, Seperti mas Gunawan menjadi pedagang angkringan orang Desa Keduren Kecamatan Purwodadi dia biasa berjualan dibarat SMA purwodadi,” katanya.

    Ia mengaku pada hari Senin besok ia akan mengirim surat ke Dinas Pariwisata terkait audiensi oleh beberapa seniman dan dijadwalkan hari Rabu para seniman datang semua ke kantor Dinparbud unuk audiensi dengan menggunakan pakaian adat Jawa.  “Ini terpaksa kami lakukan agar nasib para seniman ini juga diperhatikan pemerintah. Khususnya pemerintah daerah,” tandasnya.

    Sementara itu Subakir atau akrab dikenal dengan Bokir Al-Kantara nasibnya juga tidak jauh berbeda seorang MC ini harus menjual motornya untuk menghidupi keluarganya. Lebih parahnya lagi istrinya juga sebagai penyanyi juga resigne saat pandemi Covid-19.

    “Saya bahkan dalam rangka menghemat yang biasanya makan 3 kaki sehari saat ini hanya 2 kali sehari mas. Bahkan bisa sehari sekali, kita sudah tidak tahan lagi kalau harus berpangku tangan saja,” katanya.

    Ia berharap para pemegang kebijakan dapat memberikan solusi atas permasalahan para pemain panggung. Sampai saat ini ia dan rekan-rekannya belum bisa pulih dari dampak Covid-19.

    “Harapannya segera diberi izin untuk pentas dan mohon kami dari para seniman untuk dapat diperhatikan,” tandasnya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here