UI dan ITS Ciptakan Ventilator Murah

UI dan ITS Ciptakan Ventilator Murah
UI dan ITS Ciptakan Ventilator Murah

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan secara signifikan. RS Rujukan dan RS Darurat di Indonesia semakin banyak membutuhkan Ventilator. Diperkirakan dalam bulan April ini dibutuhkan tambahan 400-500 Ventilator.

Berdasarkan data Maret 2020, jumlah rumah sakit di seluruh Indonesia mencapai 2.867 dengan 8.413 unit ventilator. Jumlah ventilator terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Barat (1.215 ventilator untuk 364 rumah sakit) dan DKI Jakarta (1.071 ventilator untuk 190 rumah sakit).

Menanggapi kebutuhan itu, tim Ventilator Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ventilator transport lokal rendah biaya berbasis sistem pneumatik (COVENT-20) guna memenuhi kebutuhan ventilator rumah sakit di Indonesia selama pandemi virus corona. Alat itu hasil kolaborasi dari para peneliti lintas jurusan.

“Saat ini di Indonesia ada sekitar 70-an distributor ventilator yang dapat memasok 231 jenis/tipe Ventilator Impor. Dengan kondisi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, terjadi keterbatasan stok ventilator impor. Sementara belum ada ventilator lokal produksi asli Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Ketua Tim Ventilator UI, Basari, Selasa (7/4).

Basari menjelaskan, dalam praktiknya ada 2 tipe ventilator yaitu yang digunakan di ruang ICU dengan mode lengkap dan ventilator transport biasanya hanya 1 mode dan bisa digunakan dalam kondisi emergency. Basari dan timnya fokus pada ventilator transport.

“Pertimbangannya ketersediaan sparepart lokal lebih banyak, PDP dan pasien positif Covid-19 yang mengalami gagal nafas membutuhkan ventilator transport untuk perjalanan dari rumah ke rumah sakit, serta mode ventilasi yang dapat diatur,” ujar Basari.

Basari menjelaskan, terkait mode ventilasi COVENT-20, ventilasi multimode yang digunakan ialah sistem mode Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) untuk pasien PDP yang biasanya masih sadar. Sehingga hanya perlu dibantu diberikan oksigen ke paru-paru.

Adapun mode Continuous Mandatory Ventilation (CMV) digunakan untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala pneumonia berat yang tidak dapat mengatur pernafasannya, sehingga perlu dikontrol dengan mode CMV. Ventilator ini juga dilengkapi Positive End Expiratory Pressure (PEEP).

“Keunggulan COVENT-20 biaya produksi lebih hemat, compact, portable, hemat energi, serta mudah dioperasikan sehingga aman bagi PDP maupun pasien positif Covid-19 untuk perjalanan dari rumah atau ruangan observasi ke ruangan isolasi,” ucap Basari.

Sementara itu, Dekan FTUI Hendri DS Budiono menuturkan biaya pembuatan COVENT-20 lebih rendah bila dibandingkan dengan tipe ventilator transport komersial yang tersedia saat ini. CONVENT-20 juga memiliki ventilasi multimode, hemat energi dengan baterai lithium-ion dan memiliki bentuk ringkas dan sederhana.

“Pengoperasian yang mudah, serta menggunakan filter bakteri sehingga aman digunakan baik untuk PDP dan maupun pasien positif Covid-19,” ucap Hendri.

Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya juga tengah menciptakan Robot Ventilator untuk membantu tim medis dalam penanganan terhadap pasien Covid-19.

Pembuatan robot Ventilator ini juga merupakan kerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dan RSUD dr Soetomo selaku mitra peneliti dan calon pengguna inovasi ini.

Rektor ITS Prof Mochamad Ashari mengtakan, dalam pengembangan Robot Ventilator ini selalu didampingi oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Surabaya agar sesuai standar dibutuhkan, lalu segera diproduksi massal.

“Robot ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan terbatasnya alat ventilator yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Ventilator ini menggunakan basis desain open source dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat dengan sistem mekanik dan beberapa spesifikasi diadopsi dari MIT. Kemudian, sistem elektronik dan sistem monitoring dikembangkan sepenuhnya oleh Tim ITS.

“Ventilator ini dikembangkan bersandar pada ketersediaan komponen di pasaran, dengan pertimbangan kemudahan dalam proses fabrikasi nantinya untuk memenuhi jumlah kebutuhan ventilator yang besar,” terangnya.

“Produk ventilator di pasaran saat ini bisa mencapai kisaran Rp800 juta per unit, namun buatan ITS ini diperkirakan harganya Rp20-an juta per unit,” sambungnya.

Ketua Tim Ventilator Departemen Teknik Fisika ITS Dr rer nat Aulia MT Nasution menjelaskan, Robot Ventilator ini dapat menjadi alat bantu napas bagi penderita Covid-19 yang mengalami gangguan pada sistem pernapasannya.

“Dibandingkan ventilator yang sudah ada di sejumlah rumah sakit, robot ventilator ITS ini juga didesain dapat mudah dipindahkan dan diproduksi dengan lebih cepat. Mungkin yang akan menjadi kendala nantinya adalah ketersediaan bahan baku,” pungkasnya. (der/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here