UM Magelang Gelar Seminar Single Session Counseling, Guru BK Dituntut Lebih Profesional

KONSELING. Mulawarman SPd MPd PhD, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Prof Dr Muhammad Japar MSi Kons, dosen FKIP UM Magelang, memberikan materi kepada puluhan guru BK se eks-Karesidenan Kedu, di kampus setempat,

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Selama ini, guru Bimbingan Konseling (BK) atau konselor sekolah cenderung mempelajari teori dan pendekatan konseling yang berorientasi jangka panjang. Pendekatan yang dilakukan berfokus pada eksplorasi masalah lebih mendalam dan konselor memiliki banyak waktu untuk proses konseling.

Sementara itu, di revolusi industri keempat ini, guru BK dituntut untuk bisa profesional dalam menghadapi tantangan zaman berkaitan dengan kualitas layanan yang tinggi dengan efektivitas waktu dan biaya. Untuk itulah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UM Magelang, menggelar Seminar Single Session Counseling (SSC).

Kegiatan yang diinisiasi Biro Marketing dan Kerja Sama (BMKs) diikuti setidaknya 200 guru BK SMA/SMK/MA se eks-Karesidenan Kedu. Bekerjasama dengan program studi BK FKIP sejumlah pemateri turut dihadirkan antara lain Mulawarman SPd MPd PhD, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Prof Dr Muhammad Japar MSi Kons, dosen FKIP UM Magelang.

Wakil Rektor I UM Magelang, Prof Dr Purwati MKons memberi apresiasi tinggi kepada para guru yang hadir pada kesempatan itu. Menurutnya, sesuai perkembangannya, konseling bersifat dinamis.

”Konseling yang dilakukan sekarang pastinya akan jauh berbeda dengan zaman dulu. Guru BK di era digitalisasi seperti ini harus bisa berimprovisasi, dinamis, merubah diri, dan mau belajar untuk bisa menghadapi siswa-siswa yang selalu berubah tiap tahunnya,” katanya.

Baca Juga
Pohon di Jalan Wonosobo-Prembun Tumbang Timpa Dua Siswa yang Sedang Melintas

Sementara itu, Mulawarman memaparkan tentang konsep dan pengaplikasian SSC di sekolah. Menurut dia, SSC bukanlah suatu metode treatment yang ‘cepat selesai atau tuntas (a quick fix)’. Melainkan, SSC ialah pertemuan tunggal tatap muka antara terapis/ konselor dan konseli dengan tidak menggunakan sesi awal ataupun sesi berikutnya dalam satu proses konseling.

”Jadi, setiap relasi yang dilakukan dalam sesi konseling dibuat seolah-olah itu mungkin yang terakhir,” ungkapnya.

Mulawarman juga menjelaskan bahwa untuk melakukan SSC, memerlukan keterampilan konseling yang terlatih agar dapat menggiring ke tujuan yang spesifik namun bermakna.

”Meski terlihat simple, SSC ini juga memiliki kekurangan. Metode ini tidak cocok untuk semua masalah, misalnya pada kasus pelecehan anak, kasus potensi bunuh diri. Konselor harus peka terkait kapan sesuai atau tidaknya pemakaian SSC tersebut,” ujarnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here