Banjir Bikin Jakarta Rugi Rp1 Triliun, Aktivitas Bisnis Lumpuh Total

Banjir Bikin Jakarta Rugi Rp1 Triliun, Aktivitas Bisnis Lumpuh Total
Banjir Bikin Jakarta Rugi Rp1 Triliun, Aktivitas Bisnis Lumpuh Total

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Kelanjutan bencana banjir di Jakarta dan sekitarnya yang terjadi di awal tahun kemarin, pada akhir bulan Februari ini paling parah. Hal ini karena sejumlah aktivitas bisnis lumpuh total, sehingga ditaksir kerugian mencapai Rp1 triliun.

Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, dampak banjir berdampak bagi pelaku usaha di semua sektor.

Misalkan, ritel, restoran, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pengelola destinasi wisata, pengelola taksi, Grab, dan Gojek.

Sarman menghitung, terdapat 400 toko ritel diperkirakan tutup karena terkena dampak banjir. Jika satu toko memiliki pelanggan sekitar 100 orang, maka ada 40 ribu jumlah pelanggan yang hilang.

“Kalau satu orang belanja Rp250 ribu, maka kerugian diperkirakan mencapai Rp10 miliar per hari,” ujar dia dalam keterangan persnya, kemarin (25/2).

Angka tersebut, kata dia, belum termasuk toko ritel yang ada di dalam mal dan pasar tradisional. Jika ada sekitar 82 mal yang tutup dengan rata-rata jumlah pengunjung saat libur tahun baru mencapai 5 ribu orang. Adapun satu orang belanja minimal Rp200 ribu, maka transaksi mencapai Rp82 miliar per hari.

“Nah, akibat banjir terjadi penurunan pengunjung sekitar 50 persen, sehingga kerugian ditaksir Rp 41 miliar,” katanya.

Dia melanjutkan, terdapat 28 pasar tradisional yang terkena imbas banjir. Akibat itu 7 ribu ribu pedagang tidak bisa berjualan. Jika rata-rata penjualan sekitar Rp500 ribu per pedagang, maka terjadi kerugian Rp3,5 miliar.

Untuk sektor pariwisata di Jabodetabek, kata dia, akibat banjir terjadi penurunan hingga 50-70 pesen pengunjung.

Sedangkan untuk Taksi, Grab dan Gojek mengalami penurunan omzet mencapai 70 persen akibat banjir. Jumlah taksi online di Jabodetabek mencapai 36 ribu kendaraan, jika omzet menurun rata-rata Rp100 ribu maka kerugian Rp 3,6 miliar.

“Jika kita kalikan selama lima hari sampai suasana banjir, maka taksiran kerugian mencapai minimal Rp675.270.000.000. Jika ditambah dengan kerugian langsung (taksi dan pedagang pasar sekitar Rp370 miliar) perkiraan kerugian mencapai Rp1.045.270.000.000,” tutur dia.

Dia menambahkan, kerugian tersebut belum termasuk kerugian material yang langsung dialami warga terkena banjir, antara lain mobil, motor, barang elektronik, sofa, surat-surat berharga dan perabotan rumah tangga yang angkanya juga bisa mencapai ratusan miliar. “Ini adalah perkiraan, tidak ada data yang pasti,” ucap dia.

Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan, banjir kali ini diprediksi membuat pelaku usaha logistik mengalami kerugian hingga mencapai Rp40-45 miliar. Sebab aktivitas pengiriman logistik di beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya terpaksa berhenti. “Dampaknya cukup besar karena Tanjung Priok juga banjir, pengiriman dalam kota Jabodetabek juga terhambat,” ungkap Zaldy.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menambahkan, ada sekitar 6 ribu truk tak beroperasi karena banjir. Dia menghitung, Jika satu truk dalam sekali angkutan memperoleh Rp2 juta, maka ditaksir kerugian hari ini mencapai Rp1,2 miliar untuk perjalanan truk saja.

“Kalau kita prediksi sekitar 6 ribu truk nggak bisa beroperasi. Ya secara kasar kalau satu mobil mengangkut itu Rp2 juta ya sekitar Rp1,2 miliar lah kerugiannya,” kata dia.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, banjir kali terparah dibandingkan awal tahun kemarin. Selain itu, bencana banjir terjadia pada hari kerja sehingga menyebabkan roda ekonomi di Jakarta dan sekitar mengalami kerugian yang cukup besar.

“Dibandingkan dengan banjir di awal tahun kemarin, kerugian banjir saat ini jauh lebih besar karena ada di hari kerja. Produktivitas Jakarta dan sekitarnya lumpuh,” ujar Bhima.

Bhima menjelaskan, dampak banjir berdampak terhadap ekonomi Jakarta. Pertama sektor ritel terpukul dengan menurunnya kunjungan ke pusat-pusat perbelanjaan dan restoran.

Kedua, distribusi industri manufaktur di kawasan industri terdampak, akibatnya pengiriman barang terlambat, baik bahan baku maupun produk jadi.

Ketiga, pariwisata juga terdampak dengan turunnya pengunjung ke hotel hingga restoran. Ditambah juga dampak mewabahnya virus corona.

Keempat, harga pangan bisa melambung, karena arus distribusi pangan terhambat. Cuaca yang ekstrem berdampak pada produksi pangan.

Kendati perekonomian Jakarta lumpuh, namun kata Bhima, sifatnya hanya sementara. Ketika air sudah surut aktivitas bisnis akan kembali normal seperti biasanya.

“Mau kerja dari rumah listrik mati, internet lambat. Jadi nggak produktif sama sekali karena banjir. Betul bisa dibilang lumpuh sementara,” ucap dia.

Mengenai banjir kembali melanda Jakarta, dan terparah kali ini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, akan fokus membenahi banjir di Jakarta.

“Penanganannya sedang kami kerjakan, karena itu kalau boleh izinkan kami bekerja sehingga fokusnya pada warga Jakarta,” kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu memastikan memastikan semua warga yang terkena dampak banjir bisa dievakuasi. Kesehatan dan ketersediaan logistik di tempat pengungsian, lanjut Anies, juga menjadi fokus.

“Tempat pengungsian makanannya cukup, kesehatan terjamin sehingga mereka bisa kembali ke rumahnya ketika banjir surut,” ujar Anies.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here