Banjir Belum Surut, Aktivitas Warga Belasan Desa di Pekalongan Lumpuh

MAGELANGEKSPRES.COM,PEKALONGAN – Banjir yang merendam belasan desa di Kabupaten Pekalongan kemarin sebagian besar belum surut. Bahkan di beberapa desa ketinggian banjir masih ada yang mencapai 70 cm.
Aktivitas warga di daerah banjir pun nyaris lumpuh. Masyarakat tidak bisa memasak lantaran banjir menggenangi rumah mereka. Untuk mencukupi kebutuhan makan dan minum korban banjir, warga di daerah banjir ramai-ramai membuka dapur umum di desanya masing-masing. Namun, pasokan logistik yang sebagian besar sumbangan dari warga sekitar, donatur, dan BPBD kian menipis.
“Persediaan logistik untuk besok sudah tidak ada. Kita hanya ada persediaan untuk sarapan pagi, untuk makan siang dan malam ndak ada,” ujar Fitri, warga Desa Rowoyoso, Kecamatan Wonokerto, Selasa (25/2/2020) siang.
Diterangkan, pada tahun 2020 ini banjir di desanya paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, kata dia, banjir sehari bisa langsung surut, namun kali ini sudah tiga hari belum juga surut.
“Banjir terparah di Dukuh Buntek. Ketinggian air di dalam rumah saat ini masih sepinggang, sehingga aktivitas warga lumpuh,” kata dia.
Dikatakan, meskipun banjir cukup tinggi, namun warga enggan untuk mengungsi. Padahal, kata dia, untuk memasak saja warga tidak bisa. Oleh karena itu, beberapa warga desa setempat berinisiatif membuka dapur umum di kantor balai desa setempat sejak Minggu (23/2/2020) sore. “Kita berusaha memasok kebutuhan makanan warga korban banjir,” kata dia.
Diterangkan, korban banjir di desanya sekitar 1.400 jiwa. Sedangkan pihaknya hanya mampu membuat 300-400 bungkus nasi tiap kali masak.
“Semua warga tidak bisa mendapatkan bantuan merata, karena keterbatasan logistik,” ujar dia.
Disinggung kesehatan para pengungsi, Fitri menyatakan petugas dari Puskesmas sudah melakukan jemput bola untuk melakukan pemeriksaan bagi para korban banjir. “Untuk masalah kesehatan sudah rutin ada petugas dari Puskesmas datang ke sini,” imbuhnya.
Sementara itu, Kades Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Mubarok, kemarin, mengatakan, banjir di desanya kemarin juga belum surut. Ketinggian banjir rata-rata 40 cm. Wilayah terdampak banjir berada di Dusun Mbabatan RT 4-13/RW 2 dan 3. Dikatakan, rumah terdampak banjir kurang lebih 500 rumah, dengan 1.200 KK. Diterangkan, untuk fasilitas umum yang terdampak banjir di desanya berupa 2 sekolahan, masjid, 1 TPQ, dan lainnya. “Kulon kali (barat sungai, red) juga dari warga yang berjumlah 146 KK semua terendam banjir dengan rata-rata ketinggian air satu lutut,” terang dia.
Menurutnya, korban banjir di desanya mengungsi di beberapa lokasi, di antaranya di TPQ, TK, Ipal, musala, dan masjid. “Kami membutuhkan bantuan logistik terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan dan lainnya. Warga juga banyak yang kena penyakit, namun petugas sudah rutin datang ke sini,” kata dia.
Dikatakan, aktivitas warga di desa itu juga lumpuh total. Ibu-ibu, kata dia, tidak bisa masak. Warga di desa itu yang sebagian berprofesi sebagai tukang sablon batik juga tidak bisa bekerja. Untuk membantu korban banjir, kata dia, sudah didirikan dua dapur umum, yakni di tanggul di belakang pos ronda dengan memasang tenda dan di balai desa.
“Untuk makan kita dibantu dari BPBD. Bantuan logistik dari BPBD juga datang terus untuk mensuplai kebutuhan korban banjir,” ungkap dia.
Sedangkan Eko, warga Desa Werdi, Kecamatan Wonokerto, mengatakan, banjir masih menggenangi sekitar 100 rumah di desanya. Selain itu, area sawah juga terendam banjir, sehingga tanaman padi terancam gagal panen. “Saat ini di kampung masih tergenang sekitar 30 cm, namun untuk area persawahan banjir masih cukup tinggi,” kata dia.
Diakuinya, musim hujan yang ekstrem kali ini mengakibatkan hampir seluruh desa di Kecamatan Wonokerto tergenang banjir. Dari 11 desa di kecamatan itu, kata dia, 9 desa 100 persen tergenang banjir, dan 2 desa lainnya sekitar 60 persen wilayahnya kena banjir.
Menurutnya, titik terparah tergenang banjir di Desa Pecakaran, Pesanggrahan, Api api, Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, Tratebang, Semut, Sijambe, Bebel, Rowoyoso, dan Desa Werdi. “Rata-rata ketinggian banjir 50 cm hingga 90 cm. Ribuan jiwa kena dampaknya. Untuk itu, MWC NU Wonokerto juga membuka posko korban banjir di Desa Bebel, yakni di BUMDes Bebel. Bantuan yang diperlukan seperti mi instan, beras, minyak goreng, telur, makanan bayi, baju layak pakai, dan makanan kering,” kata dia.
Sementara itu, Sekcam Wonokerto, Ali Akbar, menambahkan, banjir di wilayahnya masih cukup tinggi. Ketinggian air di jalan masih sekitar 40 cm. Bahkan, kata dia, akses jalan dari Api api ke Bebel cukup dalam, sehingga motor tidak bisa lewat.
“Warga sudah ada yang mengungsi, termasuk di tenda-tenda pengungsian. Saat ini di tiap desa rata-rata sudah membuat dapur umum,” imbuh dia. (had)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here