Serangan Umum 1 Maret Diteatrikalkan , Pelajar Diedukasi Pentingnya Mempertahankan Kemerdekaan

    Foto: TEATRIKAL. Serangan Umum 1 Maret 1949 diteatrikalkan oleh rombongan muhibah Dinas Kebudayaan DIJ dan Komunias Juang 1945 di kawasan Alun-alun Purworejo, 
    Foto: TEATRIKAL. Serangan Umum 1 Maret 1949 diteatrikalkan oleh rombongan muhibah Dinas Kebudayaan DIJ dan Komunias Juang 1945 di kawasan Alun-alun Purworejo, 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur oleh rakyat dan TNI dalam pertempuran singkat di Purwore. Kemenangan itu pun disambut gegap gempita segenap warga. Mereka langsung mengambil sikap hormat saat bendera Merah Putih Berkibar.

    Peristiwa itu merupakan kisah sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang diteatrikalkan oleh rombongan muhibah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Komunias Juang 1945 di kawasan Alun-alun Purworejo, Kamis (20/2). Adegan demi adegan yang diperagakan siang itu berhasil memukau ratusan pelajar di yang melihat dari dekat.

    Sebelum digelar teatrikal, pelajar diajak mengikuti pengalaman sejarah dari veteran perang serta motivasi kebangsaan dari Dandim 0708 Purworejo Letkol Inf Muchlis Gasim di Amphitheater Alun-alun Purworejo.

    Kegiatan Ekspose Sejarah tersebut merupakan bagian dari rangkaian Muhibah Budaya yang digelar Dinas Kebudayaan DIJ bekerja sama dengan Pemkab Purworejo, sekaligus bagian dari peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo.

    Adanya teatrikal Serangan Umum 1 Maret diharapkan akan menjadi bentuk pengetahuan bagi pelajar di Kabupaten Purworejo. Diharapkan dari kegiatan ini, rasa kebanggaan dan kebangsaan pelajar akan meningkat serta tidak akan pernah meninggalkan sejarah.

    “Purworejo dalam Serangan Umum 1 Maret memberikan peran. Ada 2 kompi yang diberangkatkan ke Jogjakarta saat itu. Hanya 1 kompi gagal masuk ke Jogjakarta karena ada operasi besar-besaran dari Belanda waktu itu. Selain itu, Purworejo juga mengambil peran dengan mengganggu logistik bagi Belanda yang hendak menuju ke Jogjakarta,” kata Eko Isdiyanto, Penggiat Komunitas Juang 1945 Jogjakarta, Eko Isdiyanto.

    Muhibah budaya di Kabupaten Purworejo merupakan bentuk perereatan hubungan antara DIJ dengan Kabupaten Purworejo. Pasalnya, kedua daerah ini sebenarnya satu yang berada di bawah Kerajaan Mataram.

    “Secara kultur dan budaya, kita memiliki kesamaan,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan DIJ, Erlina Hidayati Sumardi.

    Nilai penting yang disampaikan dari teatrikal itu adalah untuk mengedukasi pelajar mengenai arti pentingnya Serangan Umum 1 Maret. Penyerangan yang dilakukan TNI terhadap pendudukan Belanda di Jogjakarta itu untuk menunjukkann bahwa Indonesia masih ada.

    “Kita ingin menunjukkan jika Indonesia itu masih ada dan rakyat juga memberikan dukungan. Penyerangan ini dilakukan siang hari dengan tujuan diketahui oleh seluruh dunia,” jelasnya.

    Dandim 0708 Purworejo, Letkol Inf Muchlis Gasim mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut. Pihaknya menurunkan sekitar 50 personel untuk memberikan dukungan kegiatan.

    “Ini menunjukkan kalau untuk mempertahankan kemerdekaan itu tidak mudah. Kita tahu Serangan Umum itu terjadi di tahun 1949 dimana kita sudah merdeka,” ungkap Gasim.

    Itu menunjukkan jika sudah merdeka pun cobaan masih ada. Dan dia menyebut hingga saat ini pun cobaan yang diarahkan untuk merongrong kemerdekaan itu tetap dilakukan.

    “Pelajar di sini kita ajak untuk bisa memahami dan mengaplikasi apa yang bisa dipersembahkan untuk negara dan Purworejo ini,” tegasnya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here