Mengenal Lebih Dekat Candi Selogriyo di Kabupaten Magelang

    MengenalLebihDekatCandi Selogriyoyang SudahDipugarBerkali-kali   Terletak di PerbukitannanElok, SetahunDikunjungiRibuanWisatawan
    MengenalLebihDekatCandi Selogriyoyang SudahDipugarBerkali-kali   Terletak di PerbukitannanElok, SetahunDikunjungiRibuanWisatawan

    MAGELANGEKSPRES.COM,Candi di Kabupaten Magelang bukan hanya Candi Borobudur.Banyak candi lain yang belum terekspose seperti Candi Gunung Sari, Candi Retno, Candi Ngawen, Candi Asu dan lain-lain. Tak terkecuali Candi Selogriyodi Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari. Tepatnya dititik koordinat 7.36.16000 LS 110.16.20.000 BT. Seperti apa candi tersebut?

    KONON candi ini merupakan peninggalan masa kejayaan Hindu abad ke-8 Masehi. Candi Selogriyo merupakan sebuah peninggalan purbakala yang diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Hindu.

    Candi Selogriyo ditemukan pertamakali tahun 1835 oleh Hartmann, Residen Magelang pada masa penjajahan Belanda. Candi yang terletak di perbukitan inidibuka mulai pukul 08.00 – 18.00. Candi tersebut berjarak sekitar 12 KM dari pusat Kota Magelang.

    Candi Selogriyo merupakan salah satu candi yang unik. Terletak ditengah-tengah perbukitan Sukorini dan Giyanti, lereng Gunung Sumbing. Jadi, jangan heran Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah dari lokasi berdirinya candi.

    Dilihat dari ukurannya, candi tersebut termasuk kecil karena hanya memiliki luas 5,2 x 5,2 meter dan memiliki tinggi hanya 49 meter. Candi tersebut memiliki relung disetiap sisi. Yakni, arca Durga Mahisasuramardini di sisi utara, arca Ganesa di sisi barat, Resi Agastya di sisi selatan, dan di sisi timur. Terdapat pula dua arca di kanan kiri pintu yakni arca Nandhiswara dan Mahakala.

    Juru pelihara candi, Joko Edi Mulyono mengatakan, Candi Selogriyo dipugar pertama pada tahun 1955 sampai 1957. Kemudian pada Desember tahun 1998 pernah longsor mencapai 80 persen, tinggal sisi barat 20 persen. Terus pada tahun 2000 sampai 2002 disusun percobaan selama dua tahun di bawah.

    “Setelah dilakukan pengerukan di sini, pada tahun 2003 sampai 2005 dikembalikan ke tempat semula. Terus pertengahan 2014 pernah disabuk karena situs miring sampai direhap dan dipugar 2018 yang tahap pertama. Pemugaran total sampai pemasangan ulang 20 persen dan dilanjutkan tahun 2019 sampai selesai tanggal 10 November. Lalu,meski dipugar sejak tahun 2018 lalu dan selesai 10 November 2019, para turis tetap senang kesini. Terutama pada bulan Juli-September, dalam sebulan sampai ratusan turis ” katanya saat ditemui dirumahnyabelakanganini.

    Edi mengatakan, Candi Selogriyo dipugar untuk kesekian kalinya. Sedang pemugaran pada 2018, kata Edi, disebabkan kondisi pada tumpuhan dasar tanah labil. Sehingga, terjadi kemiringan pada posisi candi yang tidak berdiri tegak.

    Beberapa batuan candi, menurut Edi, terpaksa harus diganti dari batuan Muntilan dikarenakan batu asli sudah rusak dan patah.

    Wisatawan yang berkunjung di Candi Selogriyo, bukan hanya wisatawan domestik, namun juga wisatawan mancanegara. Untuk wisatawan mancanegara antara lain dari Amerika Serikat, Perancis, Australia, Belanda, India, Jepang, Kanada dan lain sebagainya.

    Berdasarkan data yang ada, dari bulan Januari hingga September 2019 jumlah total pengunjung sebanyak 4.158 orang terdiri wisatawan domestik 3.102 dan wisatawan mancanegara 1.056 orang. Adapun pengelola wisata candi ini dilakukankarang taruna didesa setempat.

    Untuk masuk ke lokasi candi ini harga tiketnya cukup relatif terjangkau yaitu hanya Rp 7.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 25.000 untuk wisatawan mancanegara. Namun perjalanan untuk ke menuju lokasi candi membutuhkan perjuangan yang tidak mudah karena harus melewati jalan setapak sejauh kurang lebih 1 km, jalan yang hanya memiliki lebar kurang dari satu meter itu sudah terlapisi oleh paving akan tetapi kondisinya tetap licin ketika turun hujan. Jadi jikaAnda ingin berwisata keCandi Selogriyo, harus tetap berhati-hati ketika melewati jalan tersebut.

    Disepanjang jalan menuju candi, tedapat pemandangan yang menajubkan dari lereng Gunung Sumbing, persawahan dari warga, suara kicauan burung, percikan air akan menemani perjalanan anda menuju candi.

    Di tengah perjalanan, terdapat Gardu pandang yang menghadap langsung dengan tulisan Candi Selogriyo. Tempat tersebut merupakan tempat yang sengaja disediakan untuk sekedar berswafoto bagi pengunjung.

    Setelah sampai dilokasi candi, akan melihat sebuah bangunan candi yang dikelilingi taman bunga yang sangat cantik. Anda juga bisa melihat puncak Gunung Merbabu dari lokasi candi. Jika beruntung, akan melihat candi ditengah dinginnya kabut dibalik perbukitan Windusari.

    Agus Supriyanto, pengunjung asal Kebumen yang baru pertama kali mengunjungi Candi Selogriyo mengaku merasa puas setelah menikmati suasana dan keindahan alamnya secara langsung.

    “Ya kalau menurut ya disini udaranya sejuk, pemandangannya juga indah, mungkin kalau kesininya saat sunrise atau sunset suasananya akan lebih mengena,” kata Agus.

    “Saran saya untuk fasilitasnya disini agar diperhatikan terlebih untuk akses jalannya, kalau bisa diperlebar untuk mempermudah pengunjung yang mau kesini, selain itu untuk toilet yang sedang dibangun agar segera diselesaikan agar pengunjung yang lainkalau kesini tidak kebingungan kalau misalnya mau buang air atau melakukan hal yang lain” tambahnya.

    Agus berharap agar Candi Selogriyo bisa terus dijaga, dilestarikan dan dikelola dengan baik supaya pengunjung atau generasi selanjutnya tetap bisa menikmati dan melihat karya-karya peninggalan zaman dahulu.(*)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here