Barongsai Tutup Rangkaian Imlek

    BERAKSI. Kelompok seni barongsai beraksi di depan Klenteng Kong Ling Bio atau Cahaya Sakti Temanggung, 
    BERAKSI. Kelompok seni barongsai beraksi di depan Klenteng Kong Ling Bio atau Cahaya Sakti Temanggung, 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek 2571 di Temanggung ditutup dengan atraksi Liong dan Barongsai di Klenteng Kong Ling Bio atau Cahaya Sakti Temanggung, Jawa Tengah Sabtu (8/2) Malam. Kesenian yang sangat identik dengan warga Tionghoa ini  memeriahkan peringatan Cap Go Meh pada malam bulan purnama pertama yang muncul di tahun tikus logam.

    PERAYAAN Cap Go Meh sekaligus untuk menutup rangkaian acara Tahun Baru Imlek yang telah berlangsung selama 15 hari. Pentas barongsai dan liong dipertontonkan oleh kelompok seni dari Salatiga. Pertunjukan digelar mulai sekitar pukul 20.30 wib di halaman klenteng. Kemeriahan itu menjadi perhatian masyarakat Temanggung yang telah menunggu dimulainya pertunjukan sejak pukul 17.30 wib.

    Sejak memasuki perayaan tahun baru imlek, tidak hanya warga Tionghoa saja yang menanti pertunjukan kesenian turun temurun ratusan tahun ini, namun warga asli Temanggung juga sangat menanti-nanti. Pertunjukan barongsai dan liong menjadi pertanda ditutupnya perayaan tahun baru imlek.

    “Setiap Cap Go Meh dirayakan pasti ramai, tidak hanya warga kami saja. Acara ini terbuka untu siapa saja,” kata Kepala Klenteng Kong Ling Bio Temanggung, Edwin Nugroho.

    Perayaan Cap Go Meh selalu dilakukan tiap malam bulan purnama pertama sejak pergantian tahun, atau tepatnya 15 hari setelah tahun baru imlek. Acara ini juga untuk menutup rangkaian acara imlek.

    “15 hari setelah perayaan tahun baru, Cap Go Meh dilakukan,” katanya.

    Sebelum pentas barongsai dan liong, para umat Tri Dharma melakukan sembahyang dan berdoa di klenteng. Dalam kesempatan itu mereka mendoakan tanah air Indonesia agar aman tentram dan masyarakatnya sejahtera. Doa yang sama juga dipanjatkan untuk masyarakat Temanggung.

    “Kami ingin tanah air kami juga dijauhkan dari segala bencana, angin bertiup lembut dan hujan turun pada musimnya,” tutur Edwin.

    Usai bersembahyang dilakukan pemilihan locu atau umat khusus melayani para dewa. Tugas locu adalah menyiapkan persembahan untuk dewa-dewi tiap kali sembahyang. Sedikitnya ada 20 orang yang mendaftarkan diri menjadi locu. Namun hanya dipilih enam orang locu untuk melayani para dewa di enam altar yang ada di klenteng tersebut.

    “Intinya meminta keselamatan dan keberkahan bagi semua warga, bukan hanya untuk warga kami saja,” tuturnya.

    Ratusan masyarakat yang datang ke klenteng selanjutnya dipersilahkan untuk menikmati lontong sayur cap go meh. Lontong ini menurut Edwin merupakan simbol persatuan antara masyarakat Tionghoa dan pribumi yang dimulai dari perjuangan bersama mengusir penjajah pada era kemerdekaan.

    Sementara itu Ahmad Zuhfri, salah satu warga Temanggung menuturkan, setiap perayaan Cap Go Meh dirinya selalu datang dan menyaksikan pertunjukan kesenian. Cap Go Meh sangat menghibur masyarakat.

    “Tidak tertutup, siapa saja boleh menonton kesenian yang beraksi pada penutupan tahun baru Imlek ini,” tuturnya.

    Bagi Zuhri, bisa menyaksikan pertunjukan dan menikmati hidangan saat Cap Go Meh menjadi pengalaman tersendiri. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here