Biodisel 30 Baru Tersebar di Delapan Titik

biodisel
biodisel

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Biodisel 30 (B30) sudah bisa dinimati masyarakat di delapan titik di Indonesia. Adapun ke delapan titik tersebut yakni terminal bahan bakar minyak (TBBM) Medan Sumatera Utara, Kilang Plaju Sumatera Selatan, TBBM Panjang Lampung, TBBM Plumpang DKI Jakarta, TBBM Balikpapan Kalimantan Timur, TBBM Rewulu Jogjakarta, TBBM Boyolali Jawa Tengah, dan Kilang Kasim Papua.

“Progress B30 sampai akhir 2019 di blending di delapan titik (enam TBBM dan dua kilang). Saat ini sudah lebih dari 1.200 SPBU yang menyalurkan B30 di seluruh indonesia,” kata Fajriyah Usman Vice President Corporate Commucation Pertamina saat dihubungi Fajar Indonesia Network, Minggu (29/12).

Rata-rata penyerapan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang dilakukan Pertamina hingga Oktober 2019 sekitar 460 ribu KL per bulan untuk menghasilkan B20. Dengan adanya implementasi B30 secara penuh, maka penyerapan FAME akan meningkatkan menjadi 690 ribu KL per bulan atau sekitar 8,3 juta KL per tahun. Sampai saat ini sebanyak 5,5 juta kiloliter (KL) FAME yang diserap. Sedangkan untuk menyambut 2020 alokasi FAME sebanyak 8,38 juta KL.

Untuk mengamankan suplai FAME sebagai bahan utama pencampuran B30, Pertamina telah melakukan penandatanganan kerjasama pengadaan FAME dengan 18 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Senin (16/12).

Pertamina telah menyiapkan 28 titik penerimaan FAME untuk B30, diantaranya Medan, Dumai, Siak, Teluk Kabung, Plaju, Panjang, Tanjung Gerem, Bandung Group, Tanjung Uban, Jakarta Group. Selain itu, masih ada di Cikampek, Balongan, Tasikmalaya Group, Cilacap Group, Semarang Group, Tanjung Wangi, Surabaya, Tuban, Boyolali, Rewulu, Bitung, Balikpapan Group, Kasim, Kotabaru Group, Makassar, Manggis, Kupang, dan STS Pontianak. “Mulai awal tahun 2020 akan diblending di 28 titik dan dilanjutkan penyalurannya melalui seluruh SPBU,” kata Fajriyah.

Artikel Menarik Lainnya :  Rivan A Purwantono Kembali Mendapat Mandat Memimpin PT Jasa Raharja

Presiden Jokowi meminta agar pengurangan impor solar harus dilakukan secara serius. Program B30 ini memberikan sumbangan yang sangat besar, karena dapat menghemat devisa sekitar Rp63 trilliun. “Ingat kita penghasil sawit tersebar di dunia. Kita punya sumber bahan nabati sebagai pengganti solar. Kita manfaatkan untuk kemandirian energi nasional,” kata Jokowi.

Program B30 juga akan dapat mengurangi impor BBM dan menciptakan permintaan domestik CPO (crude palm oil) yang sangat besar. Hal ini dapat memberikan multiplier effect bagi 13,5 juta petani perkebunan kelapa sawit. Ini artinya, B30 akan berdampak kepada para perkebunan kecil yang membina petani rakyat yang selama ini bekerja di Kebun Sawit dan para pekerja yang bekerja di pabrik Kelapa Sawit.

“Program B30 nantinya menjadi B50 dan seterusnya juga menjadi B100. Akan tidak mudah kita ditekan-tekan lagi oleh negara lain, terutama kampanye negatif dari beberapa negara terhadap export CPO kita. Karena kita sudah memiliki pasar di dalam negeri yang besar,” ujar mantan Walikota Solo itu.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan Pertamina siap menyukseskan lrogram B30 yang menjadi salah satu progam strategis pemerintah tahun 2020. Peresmian ini dilakukan lebih cepat dari yang direncanakan semula pada Januari 2020. “Diharapkan pada awal tahun 2020, seluruh SPBU Pertamina sudah menyalurkan B30,” kata Nicke.

Ia menambahkan, Pertamina telah melakukan langkah cepat dengan melakukan penyaluran B30 sejak November 2019 di beberapa wilayah. Kini, Pertamina telah menyiapkan 28 TBBM sebagai titik simpul pencampuran B30, yang nantinya akan disalurkan ke seluruh SPBU millik Pertamina di seluruh Indonesia.

Biosolar B30 merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Artikel Menarik Lainnya :  Redmi Note 10S Dibekali Layar Super AMOLED, Apa Sih Gunanya?

Program B30 ditargetkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 14,25 juta ton C02 selama tahun 2020. Selain itu, Program B30 juga ditargetkan bisa menyerap tenaga kerja tambahan hingga 1,29 juta orang.

Dengan direalisasikannya B30 terjadi lompatan besar di sektor energi. Hal ini tidak terlepas dari hasil kerja nyata Kementerian BUMN dalam mengurangi impor sektor migas sehingga mengurangi Current Account Defisit (CAD) sesuai dengan arahan Presiden Jokowi.

Pertama, pada 21 Desember lalu proses restrukturisasi keuangan Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) dipercepat yang semula tahun 2020 sudah dapat diselesaikan akhir 2019 sehingga TPPI bisa beroperasi maksimal dalam 3 tahun ke depan.

“Selama ini sejak 2012 TPPI dinyatakan default pengoperasian belum berjalan baik, saat ini restrukturisasi keuangan sudah berjalan baik, sehingga TPPI sebagai perusahaan bisa berjalan sehat,” kata Erick Thohir.

Progres TPPI berjalan dengan baik hasil kerja sama antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Energi dan Sumber Data Manusia (ESDM). Erick Thohir memastikan TPPI ini beroperasi maksimal.

Lompatan kedua di sektor energi adalah implementasi B30. “Kita bisa percepat penggunaan B30 sehingga ketergantungan kita terhadap impor berkurang, negara punya kompetitif dan lebih efisien. Ini juga bagian dari agenda besar yang sudah dicanangkan Presiden,” tegas Erick Thohir.

Biosolar B30, tambah Nicke, merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Program B30 ditargetkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 14,25 juta ton C02 selama tahun 2020. Selain itu, Program B30 juga ditargetkan bisa menyerap tenaga kerja tambahan hingga 1,29 juta orang. (dim/fin/ful)

Artikel Menarik Lainnya :  Pefindo Menaikkan Peringkat KB Bukopin AAA