Aksi Bela Uyghur, Sejumlah Ormas di Pekalongan Kutuk Kekerasan Muslim Etnis Uyghur

AKSI BELA UYGHUR - Ratusan orang yang menamakan diri dari Solidaritas Umat Islam Pekalongan melaksanakan Aksi Bela Uyghur di Monumen Juang Kota Pekalongan, 
AKSI BELA UYGHUR - Ratusan orang yang menamakan diri dari Solidaritas Umat Islam Pekalongan melaksanakan Aksi Bela Uyghur di Monumen Juang Kota Pekalongan, 

MAGELANGEKSPRES.COM,PEKALONGAN– Ratusan orang yang tergabung dalam Solidaritas Umat Islam Pekalongan melaksanakan “Aksi Bela Uyghur” di Kota Pekalongan, Jumat (27/12).

Massa yang berasal dari sejumlah elemen masyarakat dan organisasi antara lain Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Pemuda Kabah (GPK), Kokam, Sabilillah, dan Loyalis itu mengutuk kekerasan terhadap muslim etnis Uyghur yang dilakukan oleh Pemerintah China.
Dalam aksi yang juga diikuti beberapa anak kecil ini, mereka membawa sejumlah poster dan spanduk berisi berbagai kecaman atas kekerasan yang menimpa etnis Uyghur. Mereka juga membawa beberapa bendera merah putih, bendera Uyghur, bendera FPI, bendera GPK, dan bendera berlafadz kalimat Tauhid. Mereka juga membawa
Aksi diawali dengan berkumpul di depan Masjid Agung Al Jami Pekalongan sekira pukul 14.00 WIB. Selanjutnya, mereka melakukan long march melewati Jalan KH Wahid Hasyim, Jl Hasanudin, Jl Salak, Jl Imam Bonjol, Jl Pemuda menuju Monumen Juang 45 Kota Pekalongan.
Sesampainya di depan Monumen Juang, massa melakukan orasi. Kegiatan ini mendapatkan pengamanan ratusan anggota Polres Pekalongan Kota, dibantu beberapa anggota TNI.
Ada empat poin pernyataan sikap dari Solidaritas Muslim Pekalongan yang dibacakan oleh Ketua DPW FPI Kota Pekalongan sekaligus selaku koordinator aksi, Ustaz Abu Ayyash.
“Menyayangkan dan mengecam sikap dan keputusan pemerintah yang menganggap krisis kemanusiaan berupa penindasan, penyiksaan, dan perampasan hak-hak kaum muslimin di Uyghur adalah persoalan dalam Negeri Cina,” kata Ayyash.
Selanjutnya, ia menyerukan kepada DPR RI untuk mencabut mandat pemerintah secara konstitusional karena kebijakannya telah melanggar konstitusi negara.
Selain itu, menyerukan kepada dunia Islam untuk terus melakukan tekanan terhadap Pemerintah Cina agar membebaskan seluruh muslimin Uyghur yang ditahan dan memulihkan hak-hak umat Islam Uyghur dalam menjalankan keyakinan agamanya.
“Menyerukan kepada kaum muslimin untuk terus menjalin ukhuwah islamiyah dan menggalang persatuan dan kekuatan dalam upaya mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan perang proxy berupa invasi Republik Rakyat Cina di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Setelah berorasi dan membacakan pernyataan sikapnya, para peserta aksi selanjutnya membubarkan dengan tertib pada pukul 15.30 WIB. (way)

Artikel Menarik Lainnya :  Kodam Diponegoro dan Polda Jateng All Out Perangi Covid di Kudus