Tertimbun Tanah Longsor, Seorang Pendaki asal Semarang Tewas di Gunung Sumbing

pendaki gunung
EVAKUASI. Tim SAR mengevakuasi korban dari lereng Gunung Sumbing via Pos Banaran Kecamatan Tembarak.

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Seorang pendaki gunung asal Kota Semarang ditemukan tewas di lereng Gunung Sumbing, Minggu (22/12) malam. Pendaki tersebut meninggal dunia diduga karena tertimbun tanah longsor di lereng Gunung Sumbing yang masuk dalam administrasi Kabupaten Temanggung.

Salah satu tim SAR Sutikno mengatakan, sebelum diinformasikan meninggal di lereng Gunung Sumbing, korban atas nama Yoshi Dwi Saksono (23) warga Purwosari Perbalan RT 04 RW 05 Semarang Timur ini bersama rombongan berjumlah 15 orang berangkat menuju puncak Sumbing melalui Desa Banaran Kecamatan Tembarak.

“Dia tidak sendirian, bersama rombongan dari Semarang, mereka berangkat menuju puncak pada Sabtu (21/12),” terangnya, Senin (23/12).

Kemudian lanjutnya, Pos pendakian di Desa Banaran menerima informasi bahwa rombongan kehilangan salah satu anggotanya. Dari informasi tersebut kemudian dikembangkan dan tim SAR berusaha mencari kejelasan informasinya.

Saat turun dari puncak Sumbing, korban berusaha menolong pendaki lainnya yang saat itu sedang kelelahan di sekitar watu lawang dan pos empat di lereng Gunung Sumbing. Korban kemudian ditinggal oleh rombongan.

“Korban ini sempat menolong pendaki lainnya,” terangnya.

Menurutnya, dari informasi dan keterangan dari rombongan korban, bahwa korban saat itu berusaha memberikan pertolongan kepada tiga pendaki di sekitar Watu Lawang, dan kemudian tiga orang tersebut turun. Namun bersamaan dengan tiga orang tersebut korban tidak ikut turun.

“Rombongan korban saat ini beristirahat di pos empat, saat tiga orang yang sebelumnya ditolong oleh korban itu turun, rombongan korban menanyakan korban, kenapa tidak bersamaan dengan mereka,” ceritanya.

Kemudian katanya, sebagian rombongan korban ini kembali menuju daerah Watu Lawang untuk mencari korban, dan sebagian lagi turun untuk memberikan informasi kepada pos pendakian.

Artikel Menarik Lainnya :  Kelewatan! Korupsi Barang Tanggap Darurat Bencana Covid-19

“Kemungkinan besar korban meninggal karena tertimbun longsoran tanah, saat itu korban mungkin sedang berteduh di bawah tebing, dan kemudian tebing tersebut longsor dan menimpa korban,” katanya.

Menurutnya, jasad korban berhasil dievakuasi dan kemudian dibawa langsung ke pos pendakian Banaran. Sesampainya di pos tersebut jasad Yoshi langsung divisum luar oleh tim kesehatan dari Kecamatan Tembarak dan  tim Polres Temanggung. Dari hasil visum luar tersebut korban mengalami luka di bagian kepala dan patah kaki.

“Jasad Yoshi baru ditemukan sekitar jam 7, kemudian dievakuasi oleh tim SAR dan gabungan ke pos pendakian Banaran,” terangnya.

Pelaksana Harian (Plh), Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi menjelaskan, perihal hilangnya korban diinformasikan oleh rekannya yang berhasil turun gunung terlebih dahulu pada Minggu (22/12).

“Teman korban sempat mencari korban pada Minggu petang, tapi tidak berhasil menemukannya karena cuaca terhalang kabut. Ketika itu korban diduga tersesat,” tutur Gito.

Pihak BPBD bersama tim relawan melakukan pencarian dengan menerjunkan tim untuk mencari korban sebanyak lima personel. Mereka naik dari pos IV sekitar pukul 18.30 wib. Tim 2 sebanyak empat personel menyusul naik pada pukul 20.00 wib. Kemudian tim tiga 3 terdiri dari tujuh orang personel diberangkatkan pukul 21.00 wib.

“Pencarian dilanjutkan oleh tim gabungan yang berangkat pada Senin (23/12) pukul 04.00 wib. Korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia pukul 07.00 wib lantaran tertimpa longsoran  di area Watu Lawang, tepatnya di atas pos 4,” jelas Gito.

Selanjutnya, BPBD mengirimkan tim untuk mengevakuasi dan menjemput jenazah korban. Tim terdiri dari 13 orang personel. Saat ini korban tengah diupayakan untuk dibawa turun gunung. (set)

Artikel Menarik Lainnya :  Hukuman Jaksa Pinangki Disunat? KY: kami Tidak Berhak Menilai Putusan Hakim