Kemenag Sayangkan Minat Kajian Keislaman di PTKIN Menurun

Kemenag Sayangkan Minat Kajian Keislaman di PTKIN Menurun
Kemenag Sayangkan Minat Kajian Keislaman di PTKIN Menurun

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) menyayangkan, turunnya minat kajian keislaman di kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Padahal, kajian keislaman di kampus PTKIN berkembang pesat pada tahun 1980-an.

Menteri Agama, Fachrul Razi meminta pada seluruh sivitas akademika PTKIN untuk memikirkan inovasi, agar dapat menghidupkan kembali kajian keislaman di kampus PTKIN.

“Saya meminta kepada semua pejabat terkait untuk turut memikirkan inovasi-inovasi yang perlu dilakukan, agar PTKIN tidak hanya menyuburkan ilmu-ilmu umum, namun menghidupkan kajian strategis ilmu-ilmu keislaman sebagai korps keilmuan yang strategis,” kata Fachrul, Senin (23/12)

Facrul berharap, PTKIN ini terus berkembang dan banyak diminati masyarakat. Untuk itu, sivitas akademika PTKIN diminta memikirkan agar kejian keislaman tidak pudar.

“Ini juga concern saya,” tegasnya.

Menurut Facrul, melemahnya rumpun ilmu keislaman di PTKIN, karena kebanyakan mahasiswa yang ingin melanjutkan ke UIN, umumnya lemah dalam ilmu keislamannya.

“Ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama kampus IAIN yang berniat menjadi UIN,” ujarnya.

Kendati demikian, Fachrul mengapresi jumlah pendaftar PTKIN yang terus meningkat. Untuk jalur UM-PTKIN misalnya, sejak dibuka kali pertama pada 2010, pendaftar meningkat dari hanya 8.845 meningkat menjadi 157.039 orang. Sedangkan pendaftar SPAN 2017 sebanyak 82.005 siswa. Jumlah pendaftar naik lagi di tahun 2018 dan 2019.

“Peningkatan jumlah pendaftar PTKIN cukup baik setiap tahunnya. Tapi, ada satu fakta yang kurang baik, karena minat mahasiswa pada bidang kajian keislaman terus menurun. Ini menjadi keprihatian bersama, karena PTKIN awalnya dibangun sebagai wadah kajian ilmu keislaman,” tuturnya.

Sementara itu, seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) dan Ujian Masuk (UM) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) telah dirilis Kemenag. Pendaftaran SPAN PTKIN akan dimulai 3-28 Februari 2020. Adapun pendaftaran UM PTKIN akan berlangsung dari 15 April – 29 Mei 2020.

Artikel Menarik Lainnya :  SMK Negeri 3 Magelang Gelar IHT Kurikulum Merdeka Belajar

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin menjelaskan, Ada lima jalur penerimaan mahasiswa PTKIN. Pertama, seleksi siswa-siswi berprestasi bersama dengan Kemendikbud.

“Ini untuk menjaring mahasiswa prodi (program studi) umum yang ada di UIN, seperti kedokteran, kesehatan, Saintek dan lainnya,” katanya.

Kemudian yang kedua, ujian masuk Peguruan Tinggi bersama Kemendikbud. Ini juga dikhususkan bagi seleksi mahasiswa untuk pilihan program studi umum.

Ketiga, jalur SPAN PTKIN. Jalur ini untuk menjaring mahasiswa dari madrasah tanpa seleksi. Jadi penjaringannya tidak tertulis karena berdasarkan prestasi siswa-siswi di sekolah dan madrasah dengan melihat nilai raport dan prestasi lainnya.

“Keempat, jalur UM PTKIN. Proses ini dilaksanakan secara nasional. “Ketua UM-PTKIN tahun 2020 adalah Rektor UIN Bandung dan ini tahun pertama,” jelasnya.

Kelima, lanjut Kamarudin, yakni jalur Mandiri. Perguruan Tinggi melakukan ujiannnya sendiri-sendiri, dan hanya 20 persen yang diterima lewat jalur Mandiri. “58 PTKIN secara serentak akan melaksanakan SPAN UM-PTKIN 2020,” imbuhnya.

Kamaruddin menambahkan, bahwa PTKIN telah berkontibusi secara fundamental dalam meningakatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Nasional dan Human Develompment Indonesia.

Saat ini, APK Indonesia sudah mencapai 34,5 Persen. Artinya, sebanyak 34,5% anak Indonesia yang berumur 18-23 tahun telah mendapat kesempatan kuliah di perguruan tinggi.

“Meski masih kecil, sudah ada kemajuan luar biasa. Indonesia masih harus memperluas akses masuk perguruan tinggi karena masih tertinggal dari Singapura (82%), Malaysia (39%), Thailand (hampir 40%), dan Korsel (hampir 92%). Di Indonesia secara nasional baru 34,5%,” tandasnya. (der/fin)