Kontak Senjata, Dua WNI Selamat

Kontak Senjata, Dua WNI Selamat
Kontak Senjata, Dua WNI Selamat

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Drama operasi pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf menelan korban. Seorang prajurit Filipina gugur dalam kontak senjata. Informasi itu disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan tertulis, kemarin (22/12).

Tiga nelayan asal Indonesia yang ditawan yakni Maharudin Lunani (48), anaknya Muhammad Farhan (27), dan kru kapal Samiun Maneu (27). Samiun Maneu (27) dan Maharudin Lunani (48) sementara berhasil bebas dan tengah dalam perawatan. Sementara itu, Muhammad Farhan (27), sedang dalam upaya pembebasan.

Ya, pembebasan dua WNI ini berhasil berkat kerja sama pemerintah RI dan Filipina. Keduanya dibebaskan lewat kontak senjata pagi tadi. ”Pemerintah RI menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang baik dengan Pemerintah Filipina sekaligus mengucapkan duka cita atas gugurnya satu prajurit Filipina dalam operasi pembebasan tersebut,” terang Menlu Retno Marsudi.

Kelompok Abu Sayyaf yang menculik tiga nelayan asal Indonesia dari perairan dekat Lahad Datu, Sabah, Malaysia, dan membawa mereka ke Filipina, meminta uang tebusan sebesar 30 juta Peso (Rp8,3 miliar) untuk pembebasan mereka. Ketiga WNI itu diketahui telah disandera sejak September lalu.

“Setelah 90 hari dalam penyanderaan, melalui kerjasama erat Indonesia dan Filipina, 2 WNI berhasil dibebaskan dari penyanderaan ASG pada tanggal 22 Des 2019. Satu WNI masih terus diupayakan pembebasannya,” terangnya.

Sederet langkah diplomasi sudah dilakukan untuk membebaskan tiga WNI ini. Mulai dari pembicaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte hingga pembicaraan Menlu RI Retno Marsudi dan Menhan Filipina.

Pebicaraan itu, sambung Retno ditindaklanjuti dengan koordinasi di bawah Kementerian Polhukam. Berkat komunikasi intensif antara intelijen Indonesia dan militer Filipina, lokasi penyandera diketahui. “Saat ini SM dan ML akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya akan segera direpatriasi ke Indonesia,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Tinjau Vaksinasi Massal di Bandung, Panglima TNI dan Kapolri Minta Warga Tetap Disiplin Prokes

Sementara itu media Malaysia, The Star, melansir, permintaan tebusan itu disampaikan dalam rekaman video yang menampilkan ketiga WNI, yang dirilis via Facebook pada Sabtu (16/11).

Dilaporkan bahwa ketiga WNI dibawa ke gugusan Kepulauan Tawi-Tawi di Filipina bagian selatan dan kemudian ke Jolo, yang diketahui merupakan markas Abu Sayyaf. Sejumlah sumber keamanan Filipina menyebut pria bersenjata yang menculik ketiga WNI itu bekerja untuk penculik bagi kelompok Abu Sayyaf, Salip Mura. Menurut sumber-sumber itu, kelompok itu berkeliaran di area perbatasan laut selama berbulan-bulan untuk mencari sasaran untuk diculik.

Menanggapi peristiwa ini, pengamat intelijen Fauka Noor Farid menilai selain diplomasi yang dilakukan, sebenarnya pasukan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat mampu membebaskan tiga nelayan asal Indonesia yang ditawan oleh kelompok Abu Sayyaf sejak September 2019 lalu. “Kalau tim Kopassus kita pasti sudah sangat siap. Indonesia kan sudah terkenal dengan perang gerilya, ini yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf juga sama,” kata Fauka.

Tak hanya terlatih dalam perang gerilya, menurutnya, korps baret merah dinilai mampu membebaskan ketiga sandera dalam keadaan selamat. Fauka menuturkan kiprah Kopassus dalam tugas pembebasan sandera di berbagai medan tak perlu diragukan karena sudah terbukti.

“Tentu saja pada kondisi sesulit apa pun, contoh Mapenduma, itu sulitnya bagaimana. Tapi Kopassus mampu untuk membebaskan. Meskipun ada korban, tapi kecil,” ujar mantan prajurit Kopassus itu.

Mengenai waktu pembebasan, mantan anggota Tim Mawar ini menyebut waktu yang dibutuhkan anggota Kopassus untuk pembebasan tak sampai 10 menit. Keyakinannya didasari gemblengan keras selama tergabung dalam Kopassus yang memang dituntut siap menghadapi segala medan. “Kalau kita diajarkan di Kopassus, pembebasan tawanan enggak ada sampai 10 menit. Enggak ada 10 menit, paling lama 15 menit. Habis itu pelolosan. Kalau Kopassus diturunkan,” kata Fauka.

Artikel Menarik Lainnya :  Kapolri Paparkan 5 Manajemen Kontijensi Tangani Zona Merah Covid-19

Namun keberhasilan setiap misi pembebasan tergantung dari informasi yang diberikan intelijen sebelum melaksanakan tugas. Dalam hal ini, katanya lagi, Badan Intelijen Negara (BIN) diyakini sudah bergerak dan mengantongi informasi terkait kelompok Abu Sayyaf karena kehebatan pasukan pembebasan tak berarti bila tak punya informasi lengkap terkait musuh yang dihadapi. “Kami bergerak kalau informasi sudah A1. A1 tentang tentang jumlah, posisi, medan, keamanan yang menyandera. Di situ kita bisa tahu, ditentukan struktur pasukan,” ujar Fauka.

Dalam kasus pembebasan tiga nelayan, Direktur Institute Kajian Pertahanan dan Inteligen Indonesia atau IKAPII itu menyebutkan, peran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Kepala BIN Budi Gunawan sangat penting. Alasannya, Prabowo memiliki kemampuan pengalaman dalam kasus pembebasan dan kewenangan mengerahkan Kopassus.

Sedangkan Budi Gunawan sebagai pemimpin BIN memiliki jajaran yang sudah bergerak mengumpulkan segala informasi terkait kelompok Abu Sayyaf. “Dipastikan berhasil, Insya Allah berhasil. Saya yakin, karena Pak Prabowo punya pengalaman, BG pun punya pengalaman. Kunci pembebasan sandera pertama intelijen, kedua gerakan pasukan,” ujarnya pula.

Muhammad Farhan merupakan anak dari Maharudin Lunani. Ketiganya bekerja di kapal milik satu perusahaan Malaysia, dan ditangkap kelompok Abu Sayyaf saat mencari ikan di perairan wilayah Malaysia. (fin/ful)