Perkembangan Zaman Menggerus Nilai-nilai Budaya

    RITUAL. Sekelompok kesesnian kuda lumping sedang melakukan ritual di tuk Budoyo sebelum melakukan pertunjukan di tempat tersebut.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Pesatnya perkembangan zaman saat ini seakan menggerus nilai-nilai budaya yang sudah mendarah daging di masyarakat. Tanpa kepedulian, budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun silam bisa tergeser oleh kerasnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini. Oleh karena itu generasi milenial sangat perlu dikenalkan pada budaya, agar warisan nenek moyang ini bisa terus dikenal.

    Pagi menjelang…. mataharipun mulai menebarkan kehangatan…., warga di Dusun Logede Desa Losari Kecamatan Tlogo Mulyo mulai bersiap diri menuju tuk Budoyo (mata air Budoyo) yang berada di lereng Gunung Sumbing untuk menggelar tradisi budaya warisan nenek moyang mereka ratusan tahun silam.

    Dengan membawa tumpeng, ingkung ayam jantan, buah-buahan dan makanan lainnya, mereka berjajar berjalan menuju tuk Budoyo. Sesampainya di lokasi tersebut, pelengkap tradisi berupa makanan dan jajanan pasar yang dibawa oleh mereka lalu ditaruh di depan tuk tersebut.

    Tak berselang lama kemudian sesepuh desa setempat langsung mengambil tempat untuk memimpin ritual tradisi Umbul Dongo (Doa mata air). Tak satupun warga yang mengikuti prosesi ritual tersebut berani bersenda gurau, mereka tampak sangat khidmat dan khusuk mengikuti jalannya ritual tersebut.

    “Bagi warga semua ritual yang dilakukan di tuk Budoyo ini harus diikuti dengan khidmat, dengan harapan doa-doa yang dimunajatkan bisa tercapai,” ungkap Sarjimin, salah satu perangkat desa setempat.

    Menurutnya, sepanjang setahun ada beberapa tradisi yang digelar di tuk budoyo, di antaranya, kirab budaya, umbul dongo, selamatan desa, nyadran pepunden dan sejumlah kegiatan lainnya. Tradisi ini digelar sesuai jadwal dan waktunya.

    “Tidak saling bertabrakan, setiap tradisi sudah ada waktunya sendiri,” terangnya.

    Menurutnya, even-even bertajuk kebudayaan setiap tahun memang harus digelar, sehingga perkembangan budaya di negeri tembakau ini bisa semakin maju. Selain itu generasi penerus bangsa ini bisa mengenal lebih dekat dan mendalam terhadap tradisi warisan nenek moyang mereka.

    “Umbul Dongo ini memang mepet dengan perayaaan natal dan tahun baru, perencanaan acaranya juga sangat mendadak. Namun demikian kami harus mampu dan bisa menjalani tugas ini,” ujarnya.

    Ia berharap dengan digelarnya tradisi ini, kedepan masyarakat juga berfikir lebih maju lagi, sehingga kegiatan berkesenian di daerah Temanggung bisa terus dipertahankan.

    Koordinator kegiatan Srawung Manggung, Very Adrian menambahkan, selain umbul dongo,juga akan dilakukan beberapa kegiatan diantaranya, petas seni tradisional dan sejumlah acara lainya.

    Ia mengatakan, dalam kegiatan ini seniman di Kabupaten Temanggung bakal menggelar “Srawung Temanggung”. Langkah ini sebagai upaya melestarikan kesenian tradisional yang hidup di masyarakat Temanggung.

    “Srawung Manggung sebagai pentas pemanasan menuju gelaran Festival Kampung II yang akan dihelat pada 2020 mendatang,” katanya.

    Srawung Manggung ini dipersiapkan cukup singkat dan pementasan dipusatkan di Dusun Growo, Desa Danupayan, Kecamatan Bulu pada 20-21 Desember 2019.

    Namun, katanya, untuk mengawali kegiatan Srawung Manggung, hari ini di Tuk Budoyo di Dusun Logede, Desa Losari, Kecamatan Tlogomulyo dilakukan prosesi umbul dongo dan sowan budoyo.

    ‎”Selain prosesi doa, dudah tumpeng dan kembul bujono, di Tuk Budoyo juga akan diisi pementasan Wahyu Turonggo Manunggal. Hal ini untuk memberi edukasi kepada masyarakat, bahwa kita ini punya leluhur dan ada tradisi yang patut dilestarikan. Di hari yang sama, pada malam harinya kita gelar mujahadah akbar, di Growo‎,” katanya.

    Selanjutnya pada Jumat (20/12)‎, Srawung Manggung akan dimulai pada sekitar 19.30 WIB di Dusun Growo, Desa Danupayan dengan pementasan sejumlah kesenian, antara lain tari Dayakan Putri Rimba dari dusun setempat, pentas Keroncong Nom, Turonggo Setyo Utomo, dan Wahyu Tu‎ronggo Manunggal.

    Kemudian pada Sabtu (21/12) di tempat yang sama akan pentas warokan cilik Dusun Growo, dayakan putri, Turonggo Setyo Utomo, Kuda Kepang Ngesti Budoyo dari Jragan, dan juga pemutaran film pendek.

    Very mengatakan Srawung Manggung mendapat dukungan dan apresiasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Kebudayaan.

    “Direktur Kesenian Direktorat Kebudayaan memberi apresiasi khusus atas suksesnya pelaksanaan Festival Kampung I, yang dihelat beberapa waktu lalu di sejumlah tempat di Temanggung,” katanya. (*)