Jokowi Optimistis UMKM Kuasai Pasar Global

Jokowi Optimistis UMKM Kuasai Pasar Global
Jokowi Optimistis UMKM Kuasai Pasar Global

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) saat ini masih menemukan sejumlah tantangan untuk bisa naik kelas apalagi untuk menguasai pasar global.

Namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) justru optimistis produk UMKM bakal merajai pasar dunia. Hal ini karena produk UMKM mengalami peningkatan yang pesat.

“Saya ngomong apa adanya. Kontribusi dalam ekspor masih didominasi oleh usaha-usaha besar. Tapi, gak perlu berkecil hati. Setelah saya masuk tadi, optimistis akan terbalik,” ujar Jokowi, di Jakarta, Jumat (20/12).

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu memastikan produk UMKM tidak kalah dengan produk dari merek asing. Misalkan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mampu melakukan pembinaan secara terintegrasi dengan para pelaku UMKM.

Untuk kontribusi, kata Jokowi, pelaku usaha besar yang melakukan ekspor mencapai 85,6 persen. Sementara sisanya dikuasai pelaku UMKM.

Jokowi juga mengingatkan, pelaku usaha tidak meninggalkan pasar domestik. Produk lokal juga tidak boleh kalah dengan produk impor yang banyak membanjiri pasar domestik.

“Artinya jangan sampai kita meninggalkan pasar domestik terlalu konsentrasi ke ekspor sehingga yang dalam negeri diserbu barang luar. Pasar dalam negeri dikuasai, namun setelah itu masuk ke pasar global untuk naikkan devisa,” tuturnya.

Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai tidak semudah itu UMKM bisa tembus pasar dunia. Sebab kondisi UMKM saat ini masih belum berkembang, dan masih harus banyak perhatian dari pemerintah.

“Apa dasarnya untuk optimis. Apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk UMKM. Saya belum melihat langkah-langkah terobosan yang diyakini akan meningkatkan daya saing,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (20/12).

Artikel Menarik Lainnya :  Review dan Membedah Fitur Xiaomi Redmi Note 10S, Ponsel Terbaik di Harga Rp2 Jutaan

Karena itu, produk UMKM masih kalah jauh dengan produk impor yang lebih berkualitas dan murah. Mestinya hal ini menjadi perhatian serius pemerintah sejak lama demi target ke depan merambah secara global.

“Jangankan untuk menguasai pasar global. Untuk menguasai pasar domestik saja masih sulit,” ucap Piter.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Digital, Yudi Candra menilai ada tiga faktor hambatan yang dihadapi UMKM yakni, permodalan, sumber daya manusia (SDM), dan menembus pasar.

“Selain modal, UMKM kita terkendala masalah jaringan pasar. Itulah pentingnya UMKM melek media supaya mampu merambah pasar lebih luas,” ujar dia.

Nah, solusinya menurut dia, pemerintah harus melakukan sosialisasi terhadap pelaku UMKM agar meningkatkan pemahaman tentang digitalisasi dan potensi media sosial sebagai sarana promosi yang efektif.

Catatan dia, hingga akhir 2018 jumlah usaha mikro sebanyak 58,91 juta unit, usaha kecil 59.260 unit dan usaha besar 4.987unit. Namun begitu yang sudah go digital baru 5 persen saja, sedangkan sisanya masih sangat konvensional dalam pengembangan usahanya.

“Kalau di Amerika sudah 90 persen yang sudah go digital, Indonesia baru sekitar 5 persen saja,” tukas Yudi.(din/fin)