Roadmap Pengembangan Ekonomi Kreatif Wonosobo Libatkan 642 Komunitas dari 16 Subsektor

    Caption: Pelatihan Cagar Kuliner 1 bentuk Laskar Kuliner dan Jumpstart Your Start-up bersama 3 Pakar
    Caption: Pelatihan Cagar Kuliner 1 bentuk Laskar Kuliner dan Jumpstart Your Start-up bersama 3 Pakar

    MAGELANGEKSPRES.COM,Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Wonosobo 2016-2021, pada misi ketiga, yakni meningkatkan kemandirian daerah, terdapat sasaran pertumbuhan komunitas ekonomi kreatif dengan peningkatan jumlah komunitas kreatif yang dapat difasilitasi dalam ruang atau sarana kreatif.

    HAL itu diindikasikan dengan peningkatan jumlah orang kreatif yang menjadi wirausaha, peningkatan jumlah produk kreatif yang terfasilitasi dalam pameran/pemasaran, dan peningkatan jumlah produk kreatif yang terfasilitasi dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

    Kasi Ekonomi Kreatif bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Astien Umariyah, mengatakan sejak 2018 jumlah komunitas kreatif di Wonosobo mencapai 642 komunitas.

    Sebanyak  591 diantaranya dari bidang Seni pertunjukan dengan anggota total 11.820 orang. Sementara rekam jejak kegiatan ekonomi kreatif sejak dua tahun lalu, dimulai dengan Penilaian Mandiri Kabupaten Kota Kreatif (PMK3I) bersama Bekraf (2018) memunculkan 3 subsektor unggulan (Fotografi, Seni Pertunjukan dan Kuliner). Disusul Peningkatan kompetensi dan kapasitas orang kreatif, fasilitasi pemasaran produk kreatif, dan Fasilitasi komunitas/pelaku kreatif di Mandala Wisata.

    “Ada juga yang sedang berlangsung seperti fasilitasi akses pasar, permodalan sarana dan prasarana produksi serta penguatan kelembagaan, fasilitas market learning development workshop kriya bahan baku limbah, pelatihan digital marketing, peningkatan daya saing pelaku ekonomi kreatif, dan fasilitasi penilaian kelayakan start-up melalui workshop jumpstart your start-up,” ungkapnya.

    Pengembangan itu dicapai dengan sinergi dari lima elemen Akademisi (Unsiq, SMK/SMA), Bisnis (HIPMI, BUMN/BUMD, Swasta), Community (Pelaku dan komunitas Kreatif), Government (Pemkab dan DPRD), dan Media atau ABCGM. Hal itu juga tercermin dalam jumpstart your startup yang diikuti 15 tim finalis dengan masing-masing tim tiga orang anggota. Proses jumpstart sudah dimulai sejak Agustus 2019 lalu dan agenda terakhir berupa pitching di hadapan tiga pakar startup seperti Tyovan Ari, Bob Singadikrama Maulana, dan Anton Nemolab.

    “Tindaklanjut jumpstart, untuk 3 besar tim yang proposalnya terpilih akan mendapatkan peluang mengikuti inkubator pengembangan aplikasi atau bootcamp bekerjasama dengan Fastikom Unsiq dan akan dipusatkan di BLK digital creative,” ungkap Astien.

    Untuk pengembangan sub sektor kuliner diangkat melalui Program Cagar Kuliner yaitu inisiatif untuk menggali, menjaga, dan mengembangkan beragam makanan lokal.

    Dijelaskan Astien, Pencanangan Wonosobo sebagai pusat cagar kuliner yakni pada Festival Kuliner Wonosobo 2019 yang digelar Disparbud pada September 2019 lalu dan dicanangkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin.

    “Dalam pencanangan juga diluncurkan buku Cagar Kuliner, Revitalisasi & Konservasi Budaya Kuliner Wonosobo yang disusun oleh Benito Lopulalan dan Sigit Budi Martono dan Diterbitkan oleh Disparbud Wonosobo,” ungkapnya.

    Dijelaskan inisiator cagar kuliner, Sigit Martono, Wonosobo memiliki bentang alam yang lengkap, terdiri dari dataran rendah dan tinggi, dengan hamparan lembah, bukit dan gunung yang menghasilkan banyak ragam sumber bahan baku makanan. Maka cagar kuliner diharapkan bisa menjadi identitas Wonosobo sebagai wilayah yang kaya dengan varian kuliner lokal serta memperkuat slogan Wonosobo the Soul of Java.

    “Fokus kegiatan cagar kuliner adalah revitalisasi, yakni menggali sejarah kuliner lokal yang sudah ditinggalkan sehingga dibuat lagi untuk mengembalikan pada akar budayanya. Lalu konservasi dengan menjaga dan melestarikan kuliner lokal agar tetap bertahan dan menjadi identitas. Yang terahir kreatifitas dengan meramu produk kuliner lokal dengan adaptasi selera masyarakat kekinian,” terangnya.

    Selanjutnya, dibentuk tim cagar kuliner yang terdiri dari lima unsur kunci, lalu diadakan pelatihan cagarkuliner secara reguler dengan mengundang kader desa sebagai peserta. Untuk training tahap pertama diadakan pada November lalu di Pasar Kumandang dengan 40 peserta dari 8 kader desa dan komunitas. Langkah berikutnya adalah merancang cagar kuliner training center yang sekaligus jadi pusat kajian riset dan pengembangan. Dari sana bisa dirancang Cagar Kuliner Corner sebagai destinasi yang menampilkan beragam kuliner lokal.

    “Dari training Cagar Kuliner 1, telah terbentuk laskar cagar kuliner beranggotakan peserta yang terdiri dari kader desa dan komunitas. Laskar ini jadi penggerak dalam implementasi inisiatif menggali, menjaga dan melestarikan kuliner lokal. Laskar merancang tradisional foodcourt dengan penataan area yang artistik untuk konsep Corner ini,” katanya.

    Sementara itu, dari sub sektor lain seperti Kriya, disebutkan Kabid Kebudayaan Khristiana Dewi,  ekonomi kreatif Wonosobo juga mendorong peluang bagi penyandang disabilitas mulai dari tuna netra, tunarungu, hingga tuna daksa.

    Di agenda itu sekaligus menginisiasi pemberian kuota bagi disabilitas dalam berbagai kegiatan. Keterlibatan peserta disabilitas terlihat dalam workshop kriya khas Wonosobo baru-baru ini yang memberikan kuota 15 % peserta untuk disabilitas.

    Para peserta tidak dipisahkan dalam kelompok dan tidak ada kesulitan untuk membahas ide karyanya. Bahkan karya dari peserta difabel dinilai yang paling memukau, salah satunya dari peserta tuna netra, Iwan.

    “Ada 8 orang dari 50 peserta workshop yang difable. Panitia juga memberikan bantuan penerjemah bahasa isyarat untuk peserta tuna rungu dari Dena Upakara. Harapan kedepan, akan banyak lembaga pemerintahan yang menerapkan keterlibatan disabilitas dalam berbagai aktifitas pemeberdayaan, tanpa ada pengkhususan. Maka dengan model ini, akan membuka dinding pemisah dan pembeda bagi mereka yang berbeda. Ini memberi dampak positif untuk tumbuhnya rasa empati satu sama lain (disable awareness),” ungkapnya. (adv/*)