Industri Kelapa Sawit Dorong Pertumbuhan Ekonomi

sawit
Industri Kelapa Sawit Dorong Pertumbuhan Ekonomi

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stagnan di level 5 persen. Kondisi demikian sangat riskan apabila berada di bawah 5 persen.

Karena itu, Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menyebut industri kelapa sawit Indonesia atau Crude Oil Palm (CPO) salah satu cara bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Betapa penting kita perjuangkan sawit untuk kehidupan ekonomi Indonesia ke depan. Ekspor sawit bagi Indonesia sangat besar melebihi ekpor migas porsinya 11 persen,” ujarnya ditemui di Jakarta, Selasa (17/12).

Selain itu, lanjut dia, peranan CPO juga bisa menekan defisit transaksi berjalan (CAD) di mana selama puluhan tahun seperti dikeluhkan Presiden Joko Widodo, Indonesia kerap dilanda CAD.

“Kalau kita defisit digenjot ekspor sawit akan menggenjot surplus CAD kita,” kata dia.

Nah, saran dia, guna mendorong kinerja ekspor, maka pemerintah harus memperkuat produk CPO dalam negeri dengan fokus melakukan hilirisasi terhadap produk turunan CPO.

“Semakin ke hilir ekspornya semakin sedikit. CPO bisa jadi produk makanan, kosmetik, energi dan kimia. Ini hilir sawit, kita mau fokus kemana,” ucapnya.

Dia juga meminta pemerintah agar fokus mengembangkan industri Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Ekspor FAME Indonesia sendiri baru mencapai mencapai 1,6 persen dari total ekspor dunia yang mencapai USD45 miliar.

“Potensi ekspor ini cukup luas, mengingat tren penggunaan bahan bakar nabasi (BBN) di dunia semakin meningkat. Saat ini Cina, Jepang, AS dan UE pengguna FAME terbesar,” ujar dia.

Saat ini, diketahui pemerintah tengah memperjuangan gugatannya terkait diskriminasi produk sawit Ri oleh Uni Eropa (UE) di sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kasdi Subagyo menyatakan optimis Indonesia bisa memenangkan gugatan tersebut.

Artikel Menarik Lainnya :  Ekspor Gurita ke Jepang Tembus Rp1,03 Miliar

“Minggu depan itu sudah siap sidang WTO, persiapannya pun sudah dimatangkan,” ujar dia.

Sementara itu Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah meminta pemerintah untuk tidak menggugat UE ke WTO, sebab kemungkinan kecil bisa menang.

“Sebaiknya pemerintah tidak menggugat ke WTO. Sulit untuk menang. Ditambah lagi biayanya juga mahal,” ujar Piter.

Melansir Data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor minyak kelapa sawit dan FAME Indonesia ke UE selama Januari-September mencapai USD882 juta, atau menurun 5,58 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 sebesar USD934 juta.(din/fin)