Setelah Direnovasi, Sendang Hageng Tirta Kencana di Magelang Kembali Dibuka

sendang
SENDANG. Obyek Pemandian "Sendang Hageng Tirta Kencana" di Dusun Gatak Sirat, Blabak Mungkid Magelang, telah dibuka untuk umum.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Setelah usai direnovasi sejak 2018, Pemandian “Sendang Hageng Tirta Kencana” dengan mata air alami di Dusun Gatak Sirat, Blabak Mungkid Magelang, mulai dibuka untuk umum.

Peresmian sekaligus pembukaan dilakukan Pj Kepala Desa Mungkid, Lukisno pada Minggu (15/12) dengan syukuran dan pemotongan tumpeng. Dan yang menarik pemandian tersebut, menggratiskan tiket masuk hingga tanggal 21 Desember.

“Paling tidak masyarakat biar bisa menikmati dulu suasana baru pemandian Sendang Hageng Tirta Kencana ini. Dan nantinya untuk tiket masuk pada hari Selasa hingga Kamis hanya Rp8.000, dan pada akhir pekan Rp 10 ribu. Untuk hari Senin libur,” ucap Kasi Kesra Desa Mungkid, Aburori.

Tidak hanya dilakukan renovasi, tetapi juga  disematkan nama baru yaitu Sendang Hageng Tirta Kencana. Dimana nama sebelumnya masyarakat sering menyebutnya “Mudal Blabak”. Renovasi dengan menggunakan dana desa untuk memperindah tempat pemandian ini, tanpa mengganti atau menghilangkan unsur sejarahnya.

“Renovasi tetap mempertahankan bangunan utama karena merupakan bangunan lawas, bergaya Kraton Solo. Renovasi hanya mempercantik lingkungan dengan menambahkan taman, tempat duduk dan fasilitas lain agar pengunjung nyaman,” ungkap Kadus setempat, Irun.

Baca Juga
Tanam Bibit Pohon di Hutan Lindung, Warga Magelang Tewas Tersambar Petir

Adapun sejarah mata air tersebut, menurut penuturan sesepuh desa setempat, dilokasi tersebut dahulu terhampar persawahan yang diolah oleh penduduk secara konvensional. Di sebuah petak tertentu seorang petani penggarap lahan tanaman sedang bekerja keras membajak tanah lengkap dengan peralatannya.

Di saat giat bekerja pembajak tersebut bekerja tiba-tiba ia hilang tanpa jejak. Pembajak beserta seluruh peralatan yang dibawanya lenyap dalam sekejap.

Penduduk sekitar berbondong mencari ke mana petani pergi, dan timbul spekulasi yang beredar di tengah masyarakat dengan berbagai anggapan berhubung status dirinya masih pengantin baru dimana lima hari yang lalu pembajak tersebut melangsungkan pernikahan dengan seorang putri.

Artikel Menarik Lainnya :  Jangan Terprovokasi Soal Penundaan Ibadah Haji 1442

Saat yang sama di tempat yang digarap pembajak semula tampak keluar air. Kian lama kian deras se-hingga meluber menggenangi lahan sekitar. Air yang keluar pun tak terbendung lagi, dengan hikmah menyuburkan tanah pertanian dan sarana irigasi.

Air yang terus mengalir tersebut, oleh pihak Kraton didirikan bangunan dan digunakan untuk tempat pemandian pada pusat mata air. Sedangkan air yang keluar dari pemandian, dipergunakan untuk mengairi lahan pertanian.

“Bangunan yang ada pada pemandian,  bergaya Kasultanan Solo, dengan warna asli cat bangunan kuning dan hijau yang menjadi simbol Kraton. Harapan kami potensi desa ini berupa pemandian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Irun.(cha).