Melihat Potensi Langka Desa Somagede, Wadaslintang Mendaki Bukit, Berendam Air Panas, dan Menyeruput Minuman Herbal

    MAGELANGEKSPRES.COM,Desa Somagede Kecamatan Wadaslintang bisa jadi bagian kecil dari cuilan surga yang dilempar ke bumi. Desa di tepi selatan Wonosobo itu menyimpan segudang potensi alam yang luar biasa. Ada sumber mata ari panas alami, perbukitan yang indah, kesenian rakyat yang beragam serta kulinernya yang menggoda lidah.

    DESA Somagede layak menjadi pilihan untuk keluar dari kepenatan setelah bekerja keras selama satu tahun. Sekitar 5 kilometer dari pusat kota Kecamatan Wadaslitang. Desa tersebut menawarkan objek wisata pemandangan khas perbukitan, warga setempat menyebut sebagai bukti siloreng.

    Apa istimewanya, Bukit Siloreng merupakan gugus perbukitan yang memanjang dari Wadaslintang Kabupaten Wonosobo hingga Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen. Untuk mencapai bukit tersebut, pengunjung bisa berjalan kaki 20 menit dari dusun terdekat. Wisata alam yang ditawarkan berupa pemandangan landcape yang dipastikan akan memanjakan mata.

    Dari puncak Bukti Siloreng, terlihat dengan jelas, Kecamatan Sadang Kebumen, perbukitan pohon pinus Sigaluh Banjarnegara, dan tentu saja pegunungan Dieng, Sindoro dan Sumbing. Dari atas bukit Siloreng juga nampak indah sungai Luk Ulo meliuk-liuk seperti ular python raksasa yang tengah mengintai mangsa.

    Dari puncak bukit Siloreng, seolah melihat  pemandangan alam di bawahnya, seperti menikmati pemadangan dari pesawat udara. Hamparan padang ilalang di atas Bukit Siloreng juga menjadi bonus tambahan yang  bagus untuk penggila swa foto. Pohon pinus yang tumbuh di sekitarnya memberikan aroma segar khas pegunungan.

    Selain Bukit Siloreng, Desa Somagede juga memiliki sumber mata air panas alami. Air panas tersebut tidak berbau belerang, bening dan kabarnya, memilki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Banyak yang sudah mencoba, air panas Somagede untuk terapi penyembuhan penyakit stroke.

    Pemerintah Desa Somagede sudah membangun jalur penghubung antara dua objek wisata itu. Diharapkan wisatawan yang datang tidak hanya berkunjung di satu tempat saja, namun menikmati kedua objek wisata itu dalam satu waktu.

    Soal kuliner dan kesenian Desa Somagede, sama seperti desa-desa di wilayah Kecamatan Wadaslintang. Memiliki potensi seni budaya seperti kuda kepang, lengger dan janjanen. Sedangkan untuk minuman, UKM desa setepat mengolah aneka tanaman herbal dan rempat menjadi minuman, seperti minuman jahe, kunyit dan sereh.

    Penggiat wisata Desa Somagede, Subagio mengatakan, komunitas penggiat wisata desa bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Somagede terus berbenah mengelola potensi wisata di desa. Di antaranya bukit Siloreng dan sumber air panas Kalianget.

    “Objek wisata alam bukit Siloreng sudah kita buka sejak beberapa tahun lalu, sudah banyak yang berkunjung,” katanya.

    Menurutnya, di Bukti Siloreng wisatawan bisa menikmati pemadangan alam, camping ground, flying fox dan kegiatan alam lainnya.  Untuk pengembangan kedepan sedang dijajaki sebagai lokasi paralayang.

    “Yang sudah jalan dan dikelola untuk camping serta flying fox, namun kita juga sedang menjajaki kemungkinan untuk start point paralayang,” ujarnya.

    Objek wisata lain yang sudah dikenal adalah pemandian air panas Kalianget Somagede. Dijelaskan, objek tersebut udah cukup dikenal, namun pengembangnya masih cukup pelan. Sehingga belum ada dampak yang signifikan. Terkait hal itu, pihak pemerintah desa dan penggiat wisata bersama dengan BUMDes akan mengelola air panas untuk dikemas menjadi air minum.

    “Kita memang belum ada home stay yang representatif. Sebab, pengunjung yang datang belum maksimal, namun untuk pengembangan kita mulai melirik potensi air panas itu untuk air minum dalam kemasan. Sebab, dari hasil uji lab, kandungan bakteri E-colli sangat sedikit,” katanya.

    Pihaknya berharap dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Wonosobo, potensi alam yang ada di Desa Somagede bisa terus dikembangkan sehingga berdampak pada peningkatan perekonomian warga setempat. (*)