Petik Pelajaran Berharga dari Sejarah Syekh Abdul Qodir

ADV. Sejarah Syaikh Abdul Qodir Diulas Sang Cicit
CERAMAH. Syaikh Fadhil saat menyampaikan ceramah didampingi KH Achmad Chalwani, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Sayyid Assyarif Prof Dr Muhammad Fadhil Jailani al-Hasani cicit Syekh Abdul Qodir Aljailani dari Istanbul Turki mengupas sejarah sang kakek dalam cara haul Syekh Abdul Qodir Aljailani yang digelar Pondok Pesantren An-Nawawi, Kamis (13/12) malam. Acara tersebut digelar bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad 1441 H.

Dalam ulasannya, Syekh Fadhil mengungkapkan jika salah satu kunci keberhasilan dari Syekh Abdul Qadir Aljailani adalah ibundanya yakni Sayyidah Fathimah. Dari sejarah yang beliau baca, sang ibunda tidak pernah memberikan air susu sebelum ia berwudhu.

“Jadi buat ibu-ibu jika ingin putra-putrinya menjadi anak yang saleh atau salehah, kalau mau menyusui anaknya berwudhu dulu seperti yang dilakukan oleh Sayyidah Fatimah, ibunda Syekh Abdul Qodir,” katanya dalam bahasa arab yang di translete oleh penerjemah beliau.

Lebih lanjut dikatakannya, ketika Syekh Abdul Qodir hendak pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama, Sayyidah Fatimah mewanti-wanti kepada putranya untuk senantiasa menjaga kejujuran. Pesan itu dipegang teguh tidak hanya saat nyantri di Baghdad tapi seumur hidupnya, kejujuran itu terus melekat.

Baca Juga
LPBH NU Temanggung Siap Layani Konsultasi Hukum Gratis

“Orang yang istiqomah menjaga kejujuran itu memiliki martabat setingkat di bawah kenabian. Sementara kebohongan akan menjadi fitnah besar di kemudian hari. Seperti yang terjadi belakangan, di mana kebohongan atau yang dikenal berita hoax menyebar di mana-mana bahkan mengancam keutuhan negara,” tandasnya.

Untuk itu, Syekh Fadhil mengajak umat untuk lebih berhati-hati dan terus menjaga sikap jujur serta menghindari kebohongan karena tidak ada untungnya. Bahkan sikap tersebut akan terus menjerumuskan karena kebohongan mengurangi keberkahan, menyebabkan faqir dan mencelakakan pelakukan di dunia hingga akhirat.

Artikel Menarik Lainnya :  Kasus Korupsi Propedakin Kabupaten Purworejo Memasuki Babak Baru

Pada bagian lain, Syaikh Fadhil juga mengungkapkan bahwa Syaikh Abdul Qodir adalah ulama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Terbukti, pesantren beliau yang santrinya mencapai 70 ribu orang tidak hanya beraga Islam saja.

“Banyak santri-santri non muslim yang beliau ajar dan tidak ada diskriminasi di lingkungan pembelajaran. Oleh Syaikh Abdul Qodir seluruhnya dipanggil dengan sebutan yang sama yakni, anakku,” tandasnya.

Banyaknya santri non muslim yang ikut belajar di pesantren tersebut sempat menjadi kontroversi hingga mendapatkan protes dari berbagai kalangan kala itu. Yang tidak sepakat tidak hanya kalangan ulama muslim saja, namun kalangan non muslim juga protes karena santri non muslim sudah banyak yang masuk Islam karena terpukau dengan ilmu dan akhlaq yang mereka saksikan sehari-hari.

Baca juga
Ratusan Remaja di Purworejo Pilih Nikah Muda, Bupati: Jauhi Seks Pra Nikah

“Syaikh Abdul Qodir menguasai berbagai cabang ilmu. Tidak hanya ilmu agama saja, namun 13 cabang ilmu umum seperti kedokteran dan lain-lain juga dikuasai. Maka kegiatan belajar kemudian dibagi menjadi dua session. Sesi pertama dari pagi hingga siang untuk membedah ilmu-ilmu agama. Sementara untuk siang sampai sore materinya adalah ilmu pengetahuan umum,” katanya.

Sebelum mengakhiri ceramahnya, Syaikh Fadhil menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara keduanya setelah Turki dan Pondok Pesantren An-Nawawi merupakan rumah keduanya. Syaikh Fadhil juga menyematkan gelar Assomadani kepada KH Achmad Chalwani yang telah beliau anggap seperti saudaranya sendiri. “Saya sangat senang dengan sambutan yang luar biasa dari keluarga besar Pondok Pesantren An-Nawawi. Semoga ke depan saya bisa segera kembali berkunjung di sini,” tuturnya. (adv/luk)