Na Dhien Luncurkan Antologi Geguritan “Ngayawara”

Na Dhien Luncurkan Antologi Geguritan “Ngayawara”
PELUNCURAN. Acara Peluncuran Antologi Ngayawara karya Na Dhien diisi dengan diskusi dan pembacaan puisi di Aula Panti Wiloso Adi Yuswo Dinas Sosial Purworejo, kemarin malam.

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Seorang penyair perempuan kelahiran Salatiga yang  kini aktif di Jakarta meluncurkan antologi puisi bahasa Jawa atau geguritan karyanya berjudul “Ngayawara” di Aula Panti Wiloso Adi Yuswo Dinas Sosial Purworejo, Selasa (10/12) malam. Acara peluncuran diisi dengan bedah buku sekaligus diskusi melibatkan Kelompok Peminat Seni Sastra (Kopisisa) Purworejo dan diikuti kalangan penulis, penyair, dosen, guru, mahasiswa, serta pelajar.

Dua narasumber hadir untuk membedah “Ngayawara”. Keduanya yakni Dosen PBSI FKIP UST Yogyakarta, Wijaya Heru Santosa, dan sastrawan sekaligus teaterawan asal Surakarta, Sosiawan Leak. Turut mendai prosesi peluncuran dengan pemukulan kentongan antara lain, Kabid Kebudayaan Dinparbud Purworejo, Agung Pranoto.

Na Dhien menyebut, “Ngayawara” merupakan buku Guritan Piniji atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Buku Antologi Puisi Bahasa Jawa. Buku antologi puisi tersebut diluncurkan dengan segmentasi pada anak-anak dan remaja untuk melestarikan bahasa Jawa.

Baca Juga
Dua Pengguna Narkoba di Purworejo Diringkus

“Ini menjadi salah satu pemantik dari sekian cara yang saya gunakan, dengan Ngayawara ini yang memang benar-benar buku ini saya khususkan untuk anak-anak remaja khususnya anak SMP dan SMA,” sebutnya saat ditemui usai acara.

Menurutnya, apa yang dilakukannya menjadi upaya untuk membangun kembali semangat berbahasa Jawa bagi kalangan pemuda. Dirinya melihat akhir-akhir ini banyak generasi milenial sudah mulai melupakan budaya daerah, khususnya bahasa Jawa.

“Bisa juga digunakan referensi para guru, bahwa ini salah satu cara kreativitas dalam pembelajaran memperkenalkan bahasa Jawa, istilahnya memperkenalkan ya, karena anak-anak hari ini cenderung sudah melupakan akar budaya dan melupakan bahasa (Jawa),” ungkapnya.

Antologi “Ngayawara” yang memuat 72judul geguritan ditulis Na Dhien selama sekitar 2 tahun. Sebelumnya ia juga telah menulis buku berbahasa Jawa berjudul “Ngabekti”.

Artikel Menarik Lainnya :  Penetapan DMM sebagai Tersangka Kasus Propendakin APBD Purworejo Dinilai Janggal

“Untuk buku yang berbahasa Jawa, ini buku saya yang kedua. Secara keseluruhan buku saya ada lima untuk buku yang bersifat tunggal, tapi yang digarap bersama sudah ada beberapa juga,” sebutnya.

Ia berharap dengan diluncurkannya antologi bahasa Jawa tersebut dapat memacu kaum milenial untuk mencintai produk lokal daerahnya yang mulai terkikis hari ini, yakni Bahasa Jawa

Baca Juga
Bupati Magelang Stop Pabrik Pakan Ternak, PT Sidoagung Farm Dilarang Beroperasi Sementara

“Semoga buku ini menjadi manfaat dan menjadi salah satu titik awal dimana generasi milenial itu belajar atau mempertahankan kembali budaya jawa khususnya bahasa jawa,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Kopisisa Purworejo Soekoso DM memberikan apresiasi terhadap Na Dhien yang telah memilih Purworejo sebagai lokasi peluncuran karyanya. Menurutnya, kehadiran antologi tersebut turut memacu geliat kepenulisan di Purworejo, khususnya generasi muda.

“Memang apresiasi tehadap bahasa Jawa ada semacam keterkikisan, karena sekarang semakin global, sehingga seolah-olah semakin tersisih. Jadi kegiatan ini sekaligus membangkitkan semangat untuk menulis dengan bahasa lokal atau daerah,” tandasnya.

Selain diskusi, prosesi peluncuran juga diisi dengan pembacaan geguritan serta musikalisasi puisi oleh pimpinan Sanggar Serambi Begelen, Dandung Danadi. (top)