Mengenal Kembali Alat Musik Bindeng yang hingga Kini Masih Eksis

    Bindeng
    TAMPILKAN. Sukardi Boret dan Rihayanto menampilkan alat musik Bindeng di pentas NjabaNjero 3 Belum lama ini.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Mirip Kentongan, Memiliki Senar dari Kulit Bambu.Meskipun selama ini tidak begitu dikenal oleh masyarakat  Wonosobo secara luas, ternyata alat musik Bindeng masih eksis dan dipertahankan di kawasan Kecamatan Kaliwiro, khususnya di Desa Tanjunganom. Seperti apa?

    SALAH satu seniman yang hingga kini masih melestarikan alat musik dari bambu itu adalah Sukardi atau yang akrab disapa Boret.

    Boret mengaku alat musik itu dikenalnya lewat sang kakek yang bernama Mbah Amiarso. Sekilas, bentuk Bindeng mirip kentongan bambu, namun seakan memiliki senar yang terbuat dari kulit bambu yang diangkat. Sehingga, berbunyi seperti gending atau instrument gamelan.

    “Memang alat musik ini banyak yang mungkin mirip dengan bentuk bambu dan dibunyikan dengan dipukul atau diketuk dengan batang bambu kecil. Di sini dikenal dengan nama Bindeng sehingga pemainnya ketika memainkan disebut Mbindeng. Kebetulan saya juga diajari untuk membuat, selain memainkan,” ungkapnya usai tampil di pentas Njaba Njero 3.

    Pada dasarnya, Bindeng memiliki lima nada dari tiga bagian kulit luar bambu atau inis yang diangkat sehingga memiliki nada yang berbeda. Sedangkan satu bagian dikhususkan untuk nada yang paling rendah atau dianggap sebagai gong.

    “Kalau bindeng ini kendangnya memakai bagian atas dari bumbung yang berlubang dan memang tidak begitu dominan karena seakan seperti efek di alat musik petik atau bunyinya tergantung pada getaran pukulan dan memang tidak diberi karet atau membrane, aslinya seperti ini,” ungkap Boret yang tampil pekan lalu (7/12).

    Selain Boret, ada juga Rihayanto salah satu pemain muda yang kini juga belajar pada Boret baik dalam membuat hingga memainkan Bindeng. Dikatakan Yayan, panggilan akrab anggota sanggar seni Bagaskara Kaliwiro itu, Bindeng relative cukup mudah dimainkan dan dipelajari, terutama bagi mereka yang terbiasa melantunkan tembang Jawa.

    Boret sendiri diakui Rihayanto sebagai seniornya mengingat Boret telah akrab dengan alat musik itu sejak usia belia hingga kini di usianya yang menginjak 40 tahun lebih.

    “Biasanya ini untuk ngiringi tembang seperti Lir-ilir bahkan juga bisa melengkapi instrument shalawatan Jawa di desa-desa. Setahu saya, sudah jarang yang punya dan memainkan Bindeng ini dan kebanyakan di Kaliwiro. Bahan pembuatnya sembarang bambu bisa, asal kering dan bunyinya nyaring, tidak harus bambu tertentu,” ungkapnya.

    Dikatakan Bagus Santoso, pimpinan sanggar Bagaskara, bahwa kesenian itu diharapkannya bisa terus dikenal masyarakat dan tidak hilang ditelan modernitas. Bahkan menurutnya, alat musik itu bisa menjadi salah satu kekayaan seni Wonosobo yang patut untuk diangkat dan diajarkan pada generasi muda agar tidak punah begitu saja. (win)