Jawa Tengah Borong Juara Dalam Anugrah Indonesia Damai 2019

Anugerah Indonesia Damai 2019
JUARA. Para pemenang lomba Anugrah Indonesia Damai 2019 dari Jawa Tengah berfoto bersama dengan pengurus FKPT Jawa Tengah usai pengumuman pemenang di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Selasa (10/12) malam.

MAGELANGEKSPRES.COM, JAKARTA-Provinsi Jawa Tengah berhasil memborong juara dalam ajang Anugrah Indonesia Damai 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pengumuman pemenang sekaligus pembagian hadiah dilaksanakan bersamaan dengan Rakor FKPT se-Indonesia di Hotel Mercure, Ancol Jakarta, Selasa (10/12) malam.

Dalam ajang lomba tahunan tersebut, Jateng berhasil meraih 4 juara sekaligus. Yakni juara 1 kategori penulis umum atas nama Petrus Sangu Lewar (guru SMP N 4 Wonosobo), kemudian juara 4 kategori umum atas nama Muh Solikul Wafi (Pesantren Sirotul Fukoha Kudus). Juara 4 kategori jurnalistik atas nama Joko Suroso (wartawan Magelang Ekspres) serta juara harapan 1 RPH atas nama Cintrai Cynthra Elfe Dinaria (guru TK Al Azar Pekalongan). Dari 4 kategori yang dilombakan, hanya lomba pembuatan video pelajar yang belum meraih prestasi.

Ketua BNPT Suhardi Aliyus mengapresiasi prestasi yang diraih para pemenang dari Jateng tersebut. “Dari Jateng, yang terbanyak, kami berharap mereka bisa bersinergi dan bekerjasama dengan FKPT setempat dalam menangkal ancaman terorisme di daerah,” harapnya.

Dalam waktu yang sama, BNPT juga merilis hasil survei nasional “Internalisasi Kearifan Lokal dan Potensi Radikalisme di 32 Provinsi. Hasilnya, orang tua dan guru ngaji menjadi kendali bagi anak-anak dalam sebuah keluarga dari keterpaparan paham radikal.

Menurut Suhardi, survei tahun ini kembali menegaskan kearifan lokal dan tingkat kesejahteraan menjadi daya tangkal paling efektif membendung penyebarluasan paham radikal terorisme.

“Dengan kata lain, meningkatnya implementasi kearifan lokal dan tingkat kesejahteraan masyarakat dapat memperkuat daya tangkal terhadap paham radikal terorisme,” katanya.

Khusus untuk meningkatkan implementasi kearifan lokal, lanjutnya, salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran orang tua dan guru ngaji di dalam keluarga. Pola pendidikan pada keluarga merupakan kunci pendapaiannya.

Artikel Menarik Lainnya :  Kasus Korupsi Propedakin Kabupaten Purworejo Memasuki Babak Baru

“Khususnya terkait peningkatan pendidikan kebhinekaan, peran orang tua dan guru ngaji memegang kendali. Anak-anak akan mencontoh orang tua dan guru ngajinya tentang bagaimana mereka mengimplementasikan kebhinekaan dalam menciptakan perdamaian,” jelasnya.

Survei nasional “Internalisasi Kearifan Lokal dan Potensi Radikalisme di 32 Provinsi” dilaksanakan melalui metode tatap muka langsung dengan 15.360 responden di 32 provinsi, dengan batas usia di atas 17 tahun. Pengambilan sample dilaksanakan melalui metode Multistage Cluster Random Sampling dengan rumah tangga sebagai unit terkecil. Secara nasional margin of error riset ini sebesar 0.79% pada selang kepercayaan 95%.

Pada skala 0 – 100, pola pendidikan pada keluarga memiliki skor 67,89 atau tertinggi sebagai hal yang dapat membendung penyebarluasan paham radikal terorisme. Survei berhasil mengungkap bahwa keluarga di Indonesia sudah memiliki pola pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.

“Semakin terdidik orang tua dalam sebuah keluarga, potensi anak-anaknya terpapar paham radikal terorisme semakin kecil,” ungkapnya.

Pada hal lainnya, survei ini juga mencatat bahwa masyarakat yang sudha tersentuh program pencegahan terorisme oleh BNPT atau Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) memiliki kemampuan yang cukup untuk membentengi dirinya dari pengaruh paham radikal terorisme.

Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Tengah Budiyanto merasa bangga dan bersyukur atas prestasi yang telah diraih Jawa Tengah.
“Kami mensupport agar ke depan bisa meraih prestasi yang lebih baik lagi,” ungkapnya. (oko)