Antologi Puisi Hikayat Sri Antarkan Jusuf AN ke Prasidatama 2019 Tafsir Dongeng Dewi Sri yang Menyimpan Banyak Pesan

TERBAIK. Antologi puisi karya penulis asal Wonosobo, Jusuf AN (Bersepatu putih, di samping Pimpinan BBJT) mendapat predikat Terbaik di Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2019 November lalu di Semarang
TERBAIK. Antologi puisi karya penulis asal Wonosobo, Jusuf AN (Bersepatu putih, di samping Pimpinan BBJT) mendapat predikat Terbaik di Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2019 November lalu di Semarang

MAGELANGEKSPRES.COM,Jatuh ke pelukan puisi, itulah gambaran singkat apa yang dirasakan M Yusuf Amin Nugroho di awal menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di UIN Yogyakarta. Penulis yang selama ini dikenal dengan nama pena Jusuf AN itu masih mengingat saat-saat di tahun 2002 hingga 2007. Ia tinggal di tempat yang jauh dari rumah dan berkawan dengan puisi.

MUNGKIN di masa itu, bahkan tidak ada bayangan puisi-puisinya akan mendapat penghargaan Prasidatama dari Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai antologi puisi terbaik tahun 2019 pada November lalu.

“Yang jelas, saya dan puisi kerap berdua saja, bertiga dengan sunyi. Saya lebih banyak menulis puisi di buku tulis dan tidak selalu berhasil saya pindahkan ke mesin tulis. Beberapa punya nasib baik sehingga dapat segera menyapa pembaca melalui lembar-lembar koran atau majalah. Banyak pula yang sampai saat ini mendekam di buku, atau laptpop, belum terpublish,” katanya bercerita tentang kelahiran Hikayat Sri, salah satu Antologi Puisinya yang terbit 2018 lalu.

Sebelum Hikayat Sri akhirnya diluncurkan, penulis asal Sunten Lipursari Kecamatan Leksono itu telah menerbitkan lima novel dan dua kumpulan cerpen. Jusuf menyebut bahkan awalnya tidak tertarik untuk menerbitkan antologi puisi. Meski menulis puisi baginya bukanlah pekerjaan yang sulit, mengingat banyak antologi puisi bersama penulis lain kerap diikutinya.

Namun diakuinya, kelahiran puisi memberikan kelegaan yang berbeda dengan karya lainnya. Prosesnya dinilai cukup menarik seperti saat memilah puisi untuk masuk dalam satu buku.

“Pada tahun 2009 sebenarnya saya pernah membuat satu antologi puisi yang memenangi sayembara Pusat Perbukuan. Tetapi kemudian saya teringat masa-masa 15 tahun silam, saat-saat saya dan puisi begitu kerap berjalan bersama. Menempatkan mereka dalam sebuah buku, tentu akan membuat mereka lebih nyaman dan bisa jadi akan membuat mereka lebih banyak berjumpa dengan para pembaca,” katanya

Artikel Menarik Lainnya :  Masuk Zona Merah, Satu Sekolah di Wonosobo Gagal Gelar PTM

Usai melewati kesulitan demi kesulitan akhirnya bapak dua anak itu berhasil menghimpun 40 puisi yang ditulis pada rentang tahun 2006 hingga 2018 dalam 76 halaman di sebuah antologi. Dalam penyusunannya, Jusuf menempatkan puisi secara berurutan sesuai dengan tahun ditulisnya. Bahkan Jusuf menjulukinya sebuah rangkuman catatan perjalanan.

Puisi Hikayat Sri dipilih  sebagai judul berkaitan dengan ketertarikannya pada dongeng. Puisi Hikayat Sri sendiri adalah tafsir Jusuf atas dongeng Dewi Sri yang menyimpan banyak pesan.

“Dongeng, juga yang sudah beralih jadi puisi, barangkali bisa menjadi semacam cermin dan tanda bagi perjalanan hidup seseorang. Saya dikabari sebulan sebelum penganugerahan Prasidatama sebagai nominator tanpa tahu memenangkan juara dan ini sangat berkesan,” ungkapnya.

Prasidatama dihelat oleh diberikan kepada lembaga atau instansi yang berkomitmen mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dan menerbitkan karyanya di Jawa Tengah. Penghargaan tahunan itu diberikan kepada buku sastra yang bermutu. Di Prasidatama 2019, hadir sastrawan Triyanto Triwikromo menyampaikan orasi kebahasaan dan kesastraan juga adik dari Pramoedya Ananta Toer, Soesilo Toer.  Adapun buku-buku sastra yang mendapatkan penghargaan bidang sastra adalah antologi puisi, antologi cerpen, dan novel dan penyerahan dihelat di Hotel Patrajasa, Semarang, Rabu (20/11).  (*)