Yeni Irmawati Jadi Putri Tari Indonesia ,Ingin Angkat Ruwat Gembel Ke Tarian

Yeni ketika pentas tari di Kaliwiro
Yeni ketika pentas tari di Kaliwiro

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Salah satu putri Wonosobo sekaligus penyandang finalis Mbak Wonosobo duta Persahabatan 2018, Yeni Irmawati, kini mewakili Indonesia menjadi salah satu Puteri Tari Indonesia mewakili Jawa Tengah belum lama ini. Ketika ditemui di salah satu pentas di Kaliwiro, Yeni bercerita tentang pengalamannya pada bulan Mei lalu saat mengikuti seleksi mulai level provinsi yang awalnya minder.

“Awalnya minder ikuti seleksi provinsi dan akhirnya lolos di Jateng wakili di nasional. Waktu itu tiga hari di Jakarta ketemu semua wakil dari Indonesia bagus-bagus semua. Untuk tahap seleksi berupa administrasi termsuk prestasi yang sudah diraih sebelumnya sampai wawasan kebudayaan dan khususnya skill tari, minimal 10 tari dikuasai dan lima tari dari luar daerah. Jadi total minimal 15 tari tradisi,” ungkapnya kemarin (8/12).

Tak lama lagi, Yeni Bakal mewakili Indonesia untuk tampil di Singapura dan Malaysia. Harapannya, Yeni bisa menyuguhkan salah satu tari kreasi yang mengangkat budaya Wonosobo dengan mengonsep tarian Ruwatan Rambut Gimbal.

Baca Juga
Tahun 2020 di Wonosobo, 327 CPNS Datang, 362 PNS Bersiap Pensiun

“Saya ingin sekali angkat sejarah rambut gimbal, prosesi cukur hingga proses bagaimana anak itu jadi  berambut gimbal. Saya ingin jelaskan itu lewat yang menyimbolkan itu semua dan menyampaikan pesan kesakralannya. Selama ini banyak prosesi yang dibuka dengan tarian, tapi saya belum melihat prosesi cukur atau ruwat rambut gimbal dibuka tarian,” katanya.

Ketika menyusun suatu karya, Yeni selalu berusaha membuat sebuah riset hingga minta izin pada mereka yang berkaitan langsung seperti para tokoh. Yani sendiri sudah mulai menari sejak usia SD dan kerap memenangkan berbagai kompetisi hingga kini berkuliah di jurusan seni tari Universitas Negeri Yogyakarta, semester 7.

Artikel Menarik Lainnya :  Stop Dispensasi Nikah di bawah Umur

“Ini satu karya yang menurut saya butuh untuk minta izin ke pemiliknya istilahnya, dan harapannya segera bisa ditampilkan. Saya juga sedang menyiapkan ujian tari dengan uapaya yang cukup besar. Karena saya mengonsep mulai dari musiknya, hingga nanti ada dokumenternya. Harapannya hasil dari materi ujian ini juga bisa menjadi materi pembelajaran bagi teman-teman lainnya,” katanya.

Baca juga
Nyaris Rusuh, Massa di Wonosobo Lempar Salak ke Arah Mobil Tahanan

Di salah satu pentasnya di Kaliwiro, Yeni juga menampilkan sesuatu yang berbeda di pentas dengan gabungkan tari tradisional dengan teatrikal. Salah satu karyanya tentang kepedulian terhadap alam yakni kritik buang sampah sembarangan yang dilatih hanya dalam hitungan empat jam sebelum ditampilkan.

Sejak berusia 17 tahun, Yeni sudah aktif mengajar di sanggar dan kini mengembangkan sanggarnya sendiriyang bernama Swasti. Di usianya yang belia kala itu, Yeni juga pernah mengikuti ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) di sebuah stasiun televise hingga tahap ke 3. (win)