Rasakan Sensasi Makan Opor Enthok di Wonosobo, Pengunjung Makan di Pawon

SAJIKAN. Bu Siti menyajikan opor enthok, satu-satunya menu yang legendaris dari warungnya pada salah satu pelanggannya, 
SAJIKAN. Bu Siti menyajikan opor enthok, satu-satunya menu yang legendaris dari warungnya pada salah satu pelanggannya, 

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Selama ini, citra dari warung makan. Bahkan sebuah restoran biasanya dilihat dari penampilan fisik dari bangunannya. Namun hal itu terbantahkan oleh daya tarik sebuah warung makan di Desa Seprih, Jalan Raya Purworejo, KM 10 Kecamatan Kalikajar, yang selama ini hanya dikenali lewat cat luarnya yang berwarna hijau.

Para pelanggan juga kebanyakan tidak terlihat ramai di bagian tempat duduk luar seperti warung makan pada umumnya. Ketika pengunjung masuk, ada pemandangan menarik yaitu sebuah amben yang biasanya digunakan pemilik warung untuk memilah dan menyiapkan bahan untuk dimasak.

Para pelanggan pun, lebih memilih untuk menyantap menu utama dan satu-satunya di warung itu, yakni Opor Enthok di dalam pawon atau dapur.

Baca juga
Tidak Kantongi Izin, Tiga Tower Seluler Ditertibkan Satpol PP Wonosobo

“Saya baru pertama kali makan di sini dan cukup kaget melihat luarnya sepi, ternyata pengunjung ramai di dalam Pawon. Padahal di sini cukup panas karena dekat tungku api dari bakaran kayu, seperti pawon-pawon zaman dulu, bahkan alat masaknya masih tradisional sekali. Menunya sederhana, tapi rasanya sangat enak. Opor Enthok dipadu dengan daun singkong dan sambal hijau. Boleh ambil sendiri sepuasnya,” ungkap salah satu pengunjung asal Sapuran, Ari Sunandar, Kamis (5/12).

Dikatakan Ari, citarasa opor Enthok bu Siti memang tiada duanya dan mengingatkannya pada masakan rumahan tempo dulu. Dari sisi harga dengan kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per porsi plus minum, siapapun bisa makan kenyang dan puas, mengingat nasi maupun sayur dan sambal boleh menambah sepuasnya. Suasana rumah yang sangat kental ditambah pemandangan dapur yang memang diseting untuk warung menambah rasa betah bagi pengunjung.

Artikel Menarik Lainnya :  Diduga Depresi, Perempuan Muda Akhiri Hidupnya di Sungai Galuh

Dijelaskan pemilik warung, Siti Mohsanatun, usaha itu sudah dilakoninya bersama adik laki-lakinya sekitar 15 tahun lalu. Para pelanggannya yang dahulu masih berusia belasan kini rata-rata sudah jadi pengusaha maupun pegawai. Banyak dari mereka yang datang untuk nostalgia dan mengakui bahwa rasanya tidak pernah berubah.

Baca Juga
329 Pelamar CPNS Kota Magelang Dinyatakan TMS

“Dulu harga seporsi mulai Rp7.500 juga sudah banyak yang datang tiap hari dan sekarang bisa habis 40 ekor enthok lebih. Banyak orang-orang besar, seperti pejabat sering mampir ke sini. Banyak yang memilih diambilkan katanya seperti di rumah neneknya,” katanya.

Memang bagi mereka yang kerap makan di restoran atau warung terbiasa melihat lebih dari satu menu dan kerap awalnya merasa aneh ketika masuk ke warung bu Siti. Namun kebanyakan justru merasa betah dan kembali lagi.

Berbagai bumbu khas sederhana termasuk kunyit, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan lada menjadi dasar untuk Opor dan kuahnya. Sedangkan, sambal hijaunya hanya cabe hijau dan garam yang cocok dipadu dengan daun singkong rebus dan nasi putih hangat. (win)