Nestapa Difabel Perempuan Minim Bantuan

    CERITA. Heri Purwaningsih menceritakan kondisinya kepada saat ditemui dalam peringatan HDI di Pendopo Kabupaten Purworejo, 
    CERITA. Heri Purwaningsih menceritakan kondisinya kepada saat ditemui dalam peringatan HDI di Pendopo Kabupaten Purworejo, 

    MAGELANGEKSPRES.COM,Seorang perempuan penyandang disabilitas stunting asal Senepo Barat Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo terpaksa harus bekerja banting tulang demi menghidupi keluarganya. Janda bernama Heri Purwaningsih (52) ini rela menjadi tukang parkir dan pedagang makanan keliling. Bantuan dari pemerintah berupa Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan khusus difabel belum menjangkau Ibu dengan dua anak ini.

    Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2019 yang diperingati Ikatan Disabilitas Purworejo (IDP) pada Selasa (3/12) memang berlangsung meriah. Pentas kuda lumping digelar, konvoi kendaraan bermotor dilakukan dengan finish di Pendopo Kabupaten Purworejo.

    Sejumlah penyandang disabilitas dengan berbagai keterbatasan fisik tampak ceria. Pantauan Purworejo Ekspres, beberapa dari mereka tampak bersuka cita menyambut acara seminar dengan swafoto bersama di bawah spanduk even HDI depan pendopo. Salah satunya adalah Heri Purwaningsih.

    Baca juga
    Sigit Dinobatkan Jadi Walikota Paling Inovatif Tahun 2019

    Namun, di balik keceriaan dan ketegaran yang ditampilkannya, tersimpan nestapa yang mendalam. Purwaningsih mengaku selama ini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Demi menghidupi keluarganya, dirinya harus bekerja keras menjadi tukang parkir di depan Warung Bakso Sukar, Jalan Diponegoro Kutoarjo dan berjualan Cakwe keliling.

    “Saya sudah setahun ini parkir, kalau jualan cakwe sudah lama keliling. Kadang juga mijit, kalau keliling sampai Pecinan dan ke sekitar desa-desaku,” katanya saat ditemui sejumlah wartawan.

    Ia mengaku terpaksa menjadi tukang parkir setelah ditinggal suaminya. Demi menghidupi anaknya yang masih sekolah.

    “Sekarang sudah pisah, jadinya saya sendirian, sudah lama sejak anak saya yang kecil itu berumur 2 tahun,” ucapnya

    Meski mengetahui ada progam PKH dan juga bantuan untuk orang difabel, hingga saat ini Purwaningsih belum pernah sama sekali mendapatkannya. Beruntung, anaknya mendapatkan bantuan berupa Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar.

    “Orang kaya-kaya kok dapat bantuan (PKH,red) saya nggak, yang pensiun tetangga saya dapat PKH, bedah rumah. Bantuan saya cuma KIS sama anak sekolah yang dapat Rp450 ribu, saya kan kepingin nya itu (PKH),” ujarnya.

    Baca juga
    329 Pelamar CPNS Kota Magelang Dinyatakan TMS

    Sekretaris Dinas Sosial Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Disnsosduk KBPPPA) Kabupaten Purworejo, Sri Lestari Ningsih, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa yang bersangkutan memang tidak mendapatkan PKH dan bantuan lainnya meskipun di Purworejo ada beberapa progam bantuan.

    “Saya cek di pendamping dan Korkab memang belum masuk PKH,” ungkapnya, Rabu (4/12).

    Menurutnya, bantuan uang bagi disabilitas berat memang ada. Untuk bantuan PKH sendiri ada 119 orang se-Kabupaten Purworejo dan bantuan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Rp15 juta per kelompok ada 2 penerima. Selanjutnya Progam Jaminan HIdup (Jadup) 81 orang, per orang Rp300 ribu per bulan. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here