BP Jamsostek Harus Inovatif

BP Jamsostek Harus Inovatif
BP Jamsostek Harus Inovatif

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BP Jamsostek) diminta untuk lebih inovatif dan kreatif menggarap generasi milenial yang menggeluti bisnis digital. Saat ini, bisnis digital sudah demikian pesat dan BP Jamsostek harus bisa menggarapnya.

“Insan BPJS Ketenagakerjaan harus punya inovasi dan kreasi bagaimana bisa meraih mereka (generasi milenial) untuk bisa gabung dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan,” kata anggota Dewan Pengawas BP Jamsostek Puspita Wulandari, Kamis (5/12).

Menurutnya, tidak bisa dipungkiri generasi milenial saat ini lebih senang bekerja di sektor informal, online commerce juga sudah luar biasa, mulai dari menjual hijab, sepatu, buah dan sebagainya.

“Cita cita mulianya bisa meng-cover seluruh pekerja Indonesia di luar ASN harus bisa terwujud,” ucapnya.

Dikatakannya, hingga saat ini, peserta BP Jamsostek masih didominasi pekerja formal. Sebab untuk menjangkaunya relatif lebih terukur, tinggal masuk ke perusahaan dan bisa mudah menjaring 1.000-2.000 peserta.

“Sedangkan untuk yang informal harus head to head, man to man, dengan pangsa pasar yang besar dan menyebar. Oleh karena itu, dibutuhkan cara yang inovatif, misalnya dengan pendekatan platform, ada unicorn-unicorn seperti Tokopedia, Bukalapak, Gojek, Grab dan sebagainya. Sementara untuk mendekati UKM, bisa berkoordinasi dengan sejumlah kementerian terkait dan BUMN,” ucapnya.

Edukasi kepada masyarakat, tambah Puspita, juga memegang peranan yang penting. Tentunya edukasi yang harus benar-benar bersifat inovatif karena harus merambah ke semua wilayah.

“Apalagi untuk daerah dengan keterbatasan jaringan internet, insan BP Jamsostek harus turun langsung melakukan interaksi. Sedangkan untuk kota-kota besar, bisa dijangkau dengan layanan berbasis apps,” ujarnya.

Di samping itu, pihaknya mendorong manajemen dan direksi BP Jamsostek untuk menampilkan testimoni atas manfaat yang diterima masyarakat yang telah menjadi peserta BP Jamsostek, karena itu menjadi salah satu keunggulan BP Jamsostek.

“Contohnya ada kejadian yang begitu membekas, saat saya mengunjungi Kantor Cabang Kepanjen, di Jawa Timur. Ada tukang bakso yang kecelakaan karena roda gerobaknya patah, lalu menimpa penjual bakso tersebut. Karena sudah menjadi peserta, biaya operasi dan pengobatan tukang bakso itu gratis sampai benar-benar sembuh dan dicover pula uang hariannya sesuai dengan yang berapa dibayarkan,” katanya.

Keunggulan lainnya, layanan klaim dari BP Jamsostek yang cukup cepat, sehingga pihaknya sangat mengapresiasi layanan yang sudah semakin dipercepat dan dipermudah itu.

Sementara itu, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bali Denpasar Mohamad Irfan mengatakan pendekatan pada pekerja informal, telah dilakukan melalui berbagai komunitas di desa-desa. Dan melibatkan pihak pasar, hingga komunitas perajin dan UKM.

“Kita harus melakukan pendekatan yang anti-mainstream, jadi bukan pendekatan hukum, tetapi pendekatan manfaat. Kami sampaikan bahwa dengan premi yang kecil, manfaat yang diperoleh besar. Kami tidak menaikkan iuran, tetapi berusaha menaikkan manfaat,” ucapnya.

Mengenai bertumbuhnya usaha rintisan, dia tidak memungkiri ada kesulitan untuk mengetahui mereka mempekerjakan berapa orang, padahal aktivitas bisnisnya ada.

Menurut Irfan, sektor informal yang sudah menjadi peserta kurang 10 persen dari jumlah potensi yang ada.

“Karakteristik dari sektor informal itu pendapatannya tidak tetap, ada juga yang daya belinya tidak cukup meskipun sangat ingin menjadi peserta, sehingga akhirnya lebih memilih membeli beras dibandingkan ikut BP Jamsostek,” katanya.

Oleh karena itu, diperlukan kerja keras untuk terus menyosialisasikan betapa manfaat besar yang bisa diperoleh menjadi peserta BP Jamsostek.

Terpisah, Pimpinan Cabang BP Jamsostek Bandarlampung, Widodo, terus mendorong pekerja informal dan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk memiliki jaminan sosial.

“Lampung memiliki lebih dari 30 juta tenaga kerja informal namun tidak lebih 20 persen yang telah memiliki jaminan sosial dan terdaftar di kita,” katanya.

Ia pun mengakui masih minimnya pekerja informal menjadi peserta BP Jamsostek dikarenakan memang sosialisasi yang masih kurang. Padahal manfaat yang diperoleh peserta BP Jamsostek begitu besar, meski hanya iuran Rp16.800 per bulan.

Ia pun menegaskan bahwa tidak hanya pelaku UMKM saja yang menjadi target mereka untuk masuk dalam BP Jamsostek akan tetapi semua sektor usaha seperti freelance juga sebab mereka juga memiliki resiko dalam bekerja.

“Jika semua sudah tercover, pekerja yang meninggal dalam kecelakaan kerja akan mendapat santunan sebesar Rp24 juta,” katanya.(gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here