Kemampuan Siswa Indonesia Masih di Bawah Rata-rata

SISWA
Kemampuan Siswa Indonesia Masih di Bawah Rata-rata

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Berdasarkan hasil tes Programme International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di Paris, Perancis, Selasa, menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, jauh dibawah rata-rata OECD yakni 487.

Kemudian untuk skor rata-rata matematika yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains skor rata-rata siswa Indonesia yakni 389, sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489.

Laporan OECD tersebut, juga menunjukkan bahwa sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran, dan pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.

Dalam kemampuan membaca, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Bandingkan dengan rata-rata OECD yakni 77 persen siswa.

Sedangkan untuk bidang matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, yang mana rata-rata OECD yakni 76 persen. Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis.

Menanggapi hasil PISA tersebut, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Pendis Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan, akan berencana melakukan asesmen atau tes untuk kemampuan matematika, sains, dan membaca kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) seperti yang dilakukan pada tes PISA, pada pertengahan 2020 mendatang.

“Kita sedang mengembangkan tesnya. Kita ingin tahu mereka (siswa MI) ini di mana kemampuan dan kelemahannya per madrasah,” kata Kamaruddin, Selasa (3/12).

Kamaruddin menjelaskan, meskipun tes literasi serupa dengan yang dilakukan oleh OECD, akan tetapi Kemenag melakukannya dengan metode sensus menyeluruh untuk siswa MI, khususnya kelas IV MI.

“Tes dilakukan pada siswa kelas IV dengan pertimbangan, perbaikan dan evaluasi masih dapat dilakukan ketika siswa berada di kelas V dan VI,” jelasnya.

Kamaruddin juga mengatakan, dalam menyusun soal untuk tes literasi ini, Kemenag bekerja sama dengan konsultan internasional dari Bank Dunia. Pasalnya, hasil tes ini tidak hanya bertujuan untuk menguji kemampuan siswa, akan tetapi juga digunakan untuk instrumen pelatihan guru.

“Para guru akan dilatih sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan hal tes siswa. Dengan begitu, pelatihan guru akan mengidentifikasi keadaan yang sebenarnya,” terangnya.

Adapun kompetensi pelatihan guru yang akan dijalankan, bertujuan untuk mendorong guru agar dapat meningkatkan tiga literasi dasar yaitu matematika, sains, dan membaca.

“Khusus untuk membaca, diarahkan kepada melatih siswa untuk berpikir HOTS (higher order thinking skills). Pasalnya, ini merupakan masalah utama siswa Indonesia yang selama ini hanya memiliki kemampuan menghafal,” tuturnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta, agar data PISA disampaikan apa adanya agar bisa dievaluasi lebih baik, sekaligus menunjukkan perspektif pendidikan di Indonesia.

“Laporan PISA sangat penting, memberi kita semua perspektif pendidikan Indonesia. Terkadang, kita tidak sadar dengan apa yang menjadi perhatian oleh PISA ini,” ujar Nadiem.

“Kita tidak bisa mengetahuinya, tanpa ada perspektif dari luar. Kunci belajar mendapatkan perspektif dari berbagai bidang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Nadiem menyoroti sejumlah kemajuan Indonesia terutama dalam upaya menarik anak-anak di luar sekolah, kembali ke sekolah. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

“Pertama, hampir semua sumber daya dan guru yang bagus berkumpul di sekolah bagus, yang mana diisi oleh siswa-siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang bagus juga,” katanya.

Kedua, lanjut Nadiem, perundungan yang terjadi di sekolah. Ia juga mengaku kaget, karena masih banyak perundungan di sekolah.

“Kemudian dari sisi kebahagiaan, siswa-siswa kita memiliki ketabahan yang tinggi. Ini harus ditangani, mau sampai kapan anak-anak kita dengan ketabahan bisa mengatasi trauma. Trauma itu tidak terlihat dalam waktu pendek, dalam dalam jangka panjang bermutasi ke arah yang tidak positif,” tuturnya.

Selanjutnya, dari perkembangan pola pikir optimistis siswa Indonesia yang rendah. Siswa, kata Nadiem, dibiarkan dengan ketidakmampuan mengenali potensi diri. Untuk itu penting menanamkan rasa percaya diri pada siswa.

“Terakhir, kecenderungan sekolah negeri lebih tinggi nilainya dibandingkan sekolah swasta. Padahal di negara lain, sekolah swasta memiliki nilai yang tinggi dibandingkan sekolah negeri,” terangnya.

Sementara itu, pemerhati pendidikan Matematika, Firman Syah Noor mengatakan, ada tiga penyebab utama mengapa indeks literasi matematika siswa di Indonesia sangat rendah.

“Pertama, lemahnya kurikulum di Indonesia, kurang terlatihnya guru-guru Indonesia, dan kurangnya dukungan dari lingkungan dan sekolah menjadi penyebab utama peringkat literasi Matematika siswa kita di urutan bawah,” jelasnya.

Firman menuturkan, kurikulum pendidikan matematika di Tanah Air belum menekankan pada pemecahan masalah, melainkan pada hal-hal prosedural. “Siswa dilatih menghafal rumus, tetapi kurang menguasai penerapannya dalam memecahkan suatu masalah,” ujarnya.

Selain itu, objek materi pelajaran yang diberikan guru juga tidak lengkap bila dibandingkan dengan kurikulum internasional, misalnya Cambridge.

“Tidak komprehensifnya kurikulum pendidikan matematika di Indonesia ini juga membuat nilai peringkat literasi matematika kita rendah,” pungkasnya. (der/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here