Belasan Ribu Warga Terserang ISPA dan Deare

ISPA
Belasan Ribu Warga Terserang ISPA dan Deare

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Setelah DKI, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur, kini belasan ribu warga Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terserang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare akibat dampak perubahan cuaca kemarau berkepanjangan di daerah itu.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengatakan, peningkatan penyakit ISPA di Lebak hanya satu dari sekian kasus yang terjadi di Indonesia. Musim kemarau menjadi dorongan utama grafik peningkatan siklus. “Sudah kami catat, dan terus kami ikut perkembangannya,” terang Anung kepada Fajar Indonesia Network kemarin (1/12).

Data penyakit ISPA dari beberapa daerah yang dilaporkan ke Kemenkes, secara umum dalam tiga minggu terakhir, secara umum terjadi peningkatan cukup signifikan. ”Kalau data Agustus tembus sampai 3.000 kasus, di akhir November tidak jauh. Salah satunya yang terjadi di Lebak,” terangnya.

Data tersebut akumulatif, dari beberapa daerah. Seperti DKI Jakarta, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur. ”Rinciannya saya nggak pegang, jika dihitung per daerah.

Meski demikian jumlah total kasus penyakit ISPA baik saat musim kemarau atau penghujan berbanding lurus. “Ya seperti saya sebutkan tadi, antara 1.000, 2.000, 2.500 kasus seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Anung mengklaim, belum ditemukan adanya kasus kematian akibat tersebut. ”Secara simultan terus kita pantau kondisi daerah, tentu sumbernya dari daerah asal. Dan sejauh ini belum sampai ada yang kasus kematian akibat ISPA,” terangnya.

Terpisah, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebutkan selain ISPA, Indonesia menjadi negara dengan kasus tuberkulosis terbesar ketiga di dunia setelah Tiongkok dan India. Oleh sebab itu Menkes menegaskan pentingnya skrining tuberkulosis. “Misalnya di pesantren itu kan akumulasi orangnya besar sekali, nah di situlah harus melakukan skrining secara cepat, tepat, dan pengobatan yang memadai,” singkat Terawan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu membenarkan hal tersebut. ”Benar, bukan hanya tuberkulosis, ada beberapa penyakit menular lain yang mudah terpapar. Ini efek dari kerapatan yang tinggi, maka memungkinkan terjadinya penyakit diare. Kedua, selain diare tentunya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pneumonia, yang ketiga TB,” terangnya.

Kemenkes sambung dia, telah menerapkan program Pesantren Sehat. Ini dilakukan untuk mencegah faktor-faktor risiko penyakit seperti masalah kulit, diare, TB, ISPA, dan pneumonia pada penghuni tempat tersebut, contohnya adalah skrining tuberkulosis.

Sehingga, para santri dan santriwati yang positif tuberkulosis bisa sembuh dengan perawatan dan minum obat secara teratur. “Harapan kami bahwa di Ponpes ini kesehatan anak itu terjaga, sehingga nantinya, menghasilkan kualitas hidup santri yang sehat di Ponpes ini,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, dr Firman Rahmatullah mengatakan, data Januari-Oktober 2019 tercatat 15.300 orang terserang penyakit ISPA dan diare akibat perubahan cuaca kemarau berkepanjangan.

Meski jumlah penderita ISPA dan diare meningkat, namun tidak ditetapkan kejadian luar biasa (KLB), sebab penyebaran penyakit tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Biasanya, kata dia, jika penyakit itu memakan korban jiwa maka Bupati bisa menetapkan KLB. Namun demikian, pihaknya tetap mewaspadai penyebaran penyakit ISPA dan diare.

Saat ini, kata Firman, kasus ISPA di Kabupaten Lebak masuk kategori tertinggi dibandingkan 10 jenis penyakit lainnya. Gejala penyakit ISPA itu ditandai dengan batuk-batuk, kesulitan bernapas yang bisa berujung pada kematian. Selain itu juga ISPA bisa berbahaya apalagi bila sudah disertai pneumonia, sehingga sangat sulit ditolong.

Adapun, beberapa gejala ISPA di antaranya hidung tersumbat dan pilek, batuk kering tanpa dahak, demam ringan, sakit tenggorokan, sakit kepala ringan, bernapas cepat atau kesulitan napas dan warna kebiruan pada kulit akibat kekurangan oksigen. “Kebanyakan penderita penyakit itu akibat perubahan cuaca kemarau panjang itu,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ISPA dan diare itu tentu masyarakat harus membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan, mengkonsumsi makanan yang bergizi serta buah-buahan dan sayur-sayuran juga menjaga stamina tubuh serta banyak istirahat.

Sebab cuaca kemarau sekarang ini, masyarakat kesulitan air bersih juga menimbulkan udara kurang sehat, seperti bertebaran debu. “Kami minta warga agar menjaga kesehatan lingkungan dengan menggunakan air bersih dan jika memasak air hingga mendidih,” katanya. (dim/fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here