Motivasi Anak Putus Sekolah agar Produktif, Pemkab Purworejo Bantu Peralatan Menjahit

Anak Putus Sekolah Dimotivasi Mampu Produktif
SIAPKAN. Petugas sedang menyiapkan mesin jahit yang akan dikirimkan kepada anak purna panti ke alamat masing-masing

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO– Anak-anak yang putus dari sekolah mendapatkan peralatan menjahit dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo. Pemberian bantuan tersebut diharapkan dapat memotivasi mereka agar mampu produktif berkarya.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Keluarga Berencana Pengendalian Penduduk Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos KBPPPPA) Purworejo, Lilos Hapsaranto, menyebut tahun ini ada 8 anak yang menjadi penerima bantuan. Mereka tersebar di beberapa kecamatan di Purworejo.

Menurutnya, pemberian bantuan alat tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah di Panti Dharma Putra Purworejo.

“Bantuan berasal dari APBD murni Purworejo yang diberikan kepada anak purna bina panti,” kata Lilos, Kamis (7/11).

Dijelaskan, bantuan kali ini merupakan stimulan yang diharapkan dapat digunakan oleh para purna panti. Meski sebatas digunakan sendiri, nantinya mereka juga diarahkan dapat mengambil manfaat dari adanya alat itu.

“Digunakan sendiri tidak apa-apa, tapi memang alangkah baiknya digunakan untuk sesuatu yang produktif,” jelasnya.

Baca Juga
Jelang Pilkada Kota Magelang, Belum Ada yang Berminat Maju Lewat Perorangan

Anak penerima bantuan tersebut sudah mendapatkan pelatihan di Panti Dharma Putra. Mereka merupakan purna panti tahun 2017 dan 2018. Peserta pelatihan tidak hanya dari Purworejo, melainkan juga dari Jawa Tengah Bagian Selatan.

“Setelah selesai belajar di panti, dikembalikan lagi ke daerah. Dan daerah menindaklanjuti dengan memberikan alat pendukung tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak-anak tersebut merupakan anak yang putus sekolah atau tidak dapat menyelesaikan sekolahnya karena beberapa alasan. Mereka mengikuti pelatihan melalui bebeberapa cara, yakni datang sendiri ke pantai atau diusulkan oleh Pemkab.

“Mereka adalah anak yang masuk dalam basis data terpadu. Jadi kalau di luar BDT ya tidak bisa,” tandasnya.

Kasi Rehabilitasi Korban Bencana Alam dan Sosial, Yeni, menambahkan bahwa pendistribusian alat itu dilakukan secara bertahap. Ini dilakukan mengingat keberadaan para penerima tidak dalam satu tempat.

Keberadan mesin jahit itu juga akan terus dipantau oleh dinas. Ada petugas TKSK yang akan memberikan beberapa pendampingan serta pengawasan sehingga keberadaan alat tetap memiliki manfaat.

“Alat mesin jahit dikirim ke rumah penerima. Jadi mereka tidak mengambil di kantor,” kata Yeni. (top)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here