Miris ! 22 Juta Penduduk Indonesia Kelaparan

Miris ! 22 Juta Penduduk Indonesia Kelaparan
Miris ! 22 Juta Penduduk Indonesia Kelaparan

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Sungguh miris Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris, namun sebanyak 22 juta penduduknya menderita kelaparan.

Data 22 orang Indonesia kelaparan itu terjadi pada era 2016-2018 yang dirilis oleh ADB (Asian Development Bank) bersama International Food Policy Research Institute (IFRI) didukung Kementerian Bappenas.

Dalam hasil riset yang bertajuk “Policies to Support Investment Requirements of Indonesia’s Food and Agriculture Development During 2020-2045”, itu juga menyebutkan pencapaian positif di sektor pertanian alam beberapa dekade terakhir.

“Pertumbuhan yang kuat telah mendorong transformasi struktural dan membentuk kembali ekonomi agraria, dengan peran dominan sekarang dimainkan oleh industri dan jasa,” ujar laporan ADB seperti dikutip Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (6/110.

Disebutkan juga, masih banyak pekerja di sektor pertanian yang masih dibayar rendah, sehingga para petani sulit sejahtera, bahkan perekonomiannya sangat memprihatinkan.

“Banyak dari mereka tidak mendapatkan makanan yang cukup dan anak-anak mereka cenderung stunting, membuat mereka dalam lingkaran setan kemiskinan selama beberapa generasi. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia masih menderita kelaparan,” jelas laporan tersebut.

Baca Juga
SMPN 19 Purworejo Luncurkan 41 Buku, Karya Siswa, Guru hingga Staf TU

Karena itu, maka tidak mengherankan bila Indonesia peringkat yakni ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh Economist Intelligent Unit (EIU).

Peringkat tersebut paling buncit di antara kawasan regional seperti Singapura (peringkat 1), Malaysia (peringkat 40), Thailand (peringkat 54), dan Vietnam (peringkat 62).

Terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, sektor pertanian Indonesia di mana buruhnya tidak memiliki lahan, sehingga mereka bergantung hanya pada penghasilan di sektor pertanian sebagai buruh saja.

“Mereka bekerja hanya mengadalkan upah doang, karena tidak punya lahan produktif. Apalagi produktivitas kita juga menurun, nah otomatif pertumbuhan kita (sektor pertanian) rendah dibandingkan sektor lainnya,” ujar Enny kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (6/11).

Catatan Enny, petani yang memiliki lahan pertahuan hanya sebesar 0,3 persen atau sekitar 0,25 hekatare (ha). Artinya para petani tidak memiliki akses lahan yang mana mereka bergantung hanya dari sektor pertanian. Sementara sektor pertanian produktivitasnya rendah sekali.

“Bila bicara rata-rata di sektor pertanian, seperti di daerah terpencil dan terluar masih relatif kecil, sehingga upah di sektor pertanian kecil, tidak sebanding dengan kebutuhan sehari-hari, harga bahan pokok mengalami peningkatan, harga kesehatan juga mengalami peningkatan. Nah sehingga kebutuhan mereka tidak terpenuhi akibatnya terkena stunting dan gizi yang buruk,” tutur Enny.

Lanjut Enny, lantaran upah yang diterima rendah, maka angka stunting menjadi meningkat. kata dia, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata garis kemiskinan adalah Rp400 ribu per kapita per bulan, sehingga konsekuensinya kekurangan gizi dan kelaparan yang terjadi.

“Karena pendapat Rp400 ribu (per bulan) nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka (para petani),” ujar Enny.

Lantas solusi untuk membenahi kelaparan di Indonesia, menurut Enny adalah salah satunya meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, maka pendapatan petani menjadi meningkat.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah menilai, kemiskinan bukan disebabkan oleh kebijakan satu kementerian seperti Kementerian Pertanian.

Untuk itu, kata Piter, solusi mengatasi kelaparan, kemiskinan adalah menumbuhkan perekonomian sehingga menciptkan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. “Artinya ini menjadi tugas hampir semua kementerian. Bukan satu kementerian tertentu,” pungkas Piter.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here