Cerita Ravi Ramadhani, Pemuda Wonosobo yang Baru Ikut Milset Expo-Sciences International (ESI) 2019

    Nasa
    PENELITI : Ravi bersama  peneliti Nasa, salah satunya seorang Comitee dari Milset, Jose Garcia seorang Engineer Artificial Intelligent dari Nasa AS.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Berangkat ke Nasa Tahun Depan, Tetap Prioritaskan Kuliah

    Ravi Ramadhani, pemuda yang belum genap 20 tahun asal Wonosobo yang baru saja mengikuti sebuah even internasional bertajuk Milset Expo-Sciences International (ESI) 2019 punya segudang cerita untuk dibagi. Dari event akbar yang diikuti 56 negara itu, Ravi akhirnya bertemu tokoh-tokoh yang hanya dikontaknya lewat surel maupun lewat media sosial.

    BEBERAPA di antaranya adalah para peneliti yang bekerja untuk Nasa (Amerika Serikat) dan juga para tokoh di berbagai Negara.

    “Milset itu setingkat dengan Fifa di sepak bola, ada di berbagai belahan dunia, termasuk di Asia dan internasional dihelat dua tahun sekali yang internasional. Misinya selain memberi penghargaan juga untuk membangun jejaring teknologi terkini di seluruh dunia yang dikembangkan oleh anak-anak dan pemuda,” ungkapnya kemarin (6/11).

    Berbagai workshop dan diskusi juga dihelat di Abu Dhabi National Exibishion center dan memberi kesempatan bagi Ravi untuk menerima penghargaan berupa medali emas sebagai Penemu muda dari Indonesia.

    “Memang ada sedikit perubahan di acara, tapi saya tetap dapat apresiasi Gold award dan di sana ada 1.250 peserta dari 56 negara dunia. Saya bangga bisa mewakili Indonesia, khususnya Wonosobo. Di even itu ada agenda conference oleh Nasa dan berbicara tentang Artificial Intelligent dan bagaimana bertahan di luar bumi dengan tanpa grafitasi. Ternyata alat saya bisa mendukung temuan-temuan itu,” imbuhnya.

    Salah satu comitee dari Milset, Jose Garcia seorang enginer AI Nasa, sudah menjalin komunikasi dengan Ravi bahkan jauh sebelum mengikuti Milset. Lewat chat di media sosial dan Whatsapp mereka berkomunikasi terkait penemuan Ravi hingga bertemu dan melihat langsung alat temuan Ravi yang memanfaatkan gerak kinetic dan magnet.

    “Saat lihat alat saya, dia exited dan ingin tunjukkan itu ke tim nya di Nasa. Saya juga ditemukan dengan Jorge Sotomayor salah satu peneliti Nasa yang juga banyak berdiskusi dengan saya.Bahkan tahun depan di bulan Maret-april 2020 saya dapat full funding untuk diundang ke Nasa, Amerika Serikat. Dan terus mendorong saya untuk bisa mengembangkan penelitian saya sampai ke paper yang lengkap sebelum berangkat,” ungkap Ravi yang tak sabar berangkat ke Nasa.

    Ravi tidak pernah menyangka akan ditawari ke Nasa dan di sana dia akan presentasikan problem solving dari temuannya. Mengingat alat Ravi mungkin bisa bekerja di luar grafitasi bumi dan memanfaatkan gaya magnet untuk induksi listrik.

    “Meski ini simple ternyata mereka sedang mencari itu. Harapannya saya mengembangkan sistem gerakannya secara otomatis. Saya tetap prioritaskan untuk kuliah di jurusan Elektro sesuai dengan minat saya sejak dulu dan fokus ke engineer. Ada cerita dari ibu yang jual tempe di pasar. Ketika saya viral, banyak yang kasih ucapan selamat di pasar pagi sepanjang jalan di pasar pagi. Bahkan ibu saya sampai menangis saking bahagia dan bangganya sejak dulu berjualan tempe hingga lelah,” tuturnya.

    Bahkan, Ravi memiliki niatan untuk menyumbangkan dana yang digalangnya lewat kitabisa.com untuk sumbangkan lagi ke anak-anak yang kurang beruntung. Kini Ravi juga punya kesempatan jadi brand ambassador Pertamina dan sudah ada kerjasama.

    “Saya ingin kumpulkan potensi dari anak-anak berbakat itu untuk bisa mengembangkan diri. Kalau untuk Obah Energy, banyak sekali yang ingin jadi investor seperti para peserta di Abu dhabi dan di Jakarta. Ada juga yang pernah meminta 1.000 unit per hari dan mereka siap jual. Tapi aku ingin kuliah dan kembangkan ini dengan sempurna dulu. Aku ingin fokus kuliah dan benar-benar kembangkan itu jadi skripsi,” katannya. (*)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here