Kisah Dagang Nea Jelajahi Dunia Dari Desa

    KAKIAN. Kisah Dagang Nea Jelajahi Dunia Dari Desa
    REPOSISI. Nea (kanan) bersama karyawannya mereposisi sistem pemasaran digital di rumah produksi Neana Hijab Purworejo,

    MAGELANGEKSPRES.COM,Bisnis besar tidak selalu tumbuh di kota besar. Usaha rumahan di pedesaan pun bisa berkembang pesat jika ditekuni dengan tekad kuat dan strategi yang tepat. Setidaknya hal itu telah dibuktikan oleh Kurnia Nur Arifah (29), warga RT 02 RW 02 Desa Maron Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah. Berkat kejeliannya menangkap peluang, wanita yang akrab disapa Nea ini mampu memotori bisnis meski bertahan di desanya. Produk fashion berlabel Neana Hijab miliknya kini kencang menjelajahi belahan dunia.

    Sentra produksi fashion Neana di Gang Pecitran Desa Maron memang tak sebesar namanya. Lokasinya yang masuk sekitar 300 meter dari Jalan utama Magelang-Purworejo Kilometer 7 tidak menampakkan adanya tanda-tanda sebuah kawasan industri yang tumbuh subur.

    Ya, Nea hanya memfungsikan rumah pribadinya yang berlantai dua dalam berwirausaha. Sebagian rumah bagian bawah yang ditempati bersama suami dan anak-anaknya dijadikan ruang produksi, mulai dari proses desain, menjahit, hingga finishing. Sementara lantai atas menjadi gerai sekaligus tempat pengepakan produk siap kirim serta kantor pemasaran digital.

    Ada belasan karyawan perempuan di sana. Masing-masing memiliki tugas berbeda, antara lain tim produksi, desainer, admin pemasaran,  customer service (CS), dan pengepak.

    Dari rumah itulah, produk-produk eksklusif Nea tercipta. Ada berbagai mode busana gamis, hijab, aksesoris, dan sepatu. Hampir setiap harinya, puluhan hingga seratusan item produk itu dikirim untuk memenuhi pesanan konsumen atau pelanggan.

    “Rata-rata per hari kita melayani pemesanan sekitar 50 sampai 100 produk per hari. Kadang juga bisa lebih. Seperti pernah kita mendapat pesanan dalam satu pekan seribu Gamis,” kata Ana Rosiana (23),  salah satu karyawan yang dipercaya menjadi CS Neana di ruang pemasarannya, Jumat (1/11).

    Kecuali hari libur, hampir setiap hari petugas JNE Express Loano selalu datang memberikan layanan pick up servis untuk mengambil barang pesanan konsumen. Mayoritas produk dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. Namun, tidak sedikit produk yang dikirim luar negeri, seperti Amerika, Jepang, Hongkong, Qatar, Canada, Taiwan, Singapore, dan Malaysia.

    “Kita juga ada agen dan reseller di beberapa negara,” ujarnya.

    Dengan produk berkualitas dan pilihan mode yang bervariatif, Neana tetap menawarkan harga yang terjangkau semua kalangan. Mulai dari Rp30 ribuan hingga Rp500 ribuan. Wajar saja jika fashion bikinan tangan anak-anak desa itu laris di pasaran.

    “Pemasarannya melalui online, pesanan kita sampaikan melalui jasa pengiriman logistik. Fashion kita lebih ke segmen dewasa, tapi sering juga melayani pesanan untuk anak, misalnya saat lebaran,” sebutnya.

    Tumbuh dan berkembangnya Neana tidaklah instan. Butuh kerja keras, keyakinan, kesabaran, serta doa.

    Kurnia atau Nea merintis usahanya sejak tahun 2009. Saat itu, Nea yang tercatat sebagai lulusan Pondok  Pesantren An-Nur Maron Purworejo mencoba menekuni hobinya di bidang busana dan aksesoris.

    “Saya mulai dari nol dengan motivasi menekuni bidang usaha ini agar bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Berkarya, tapi tetap berdakwah,” kisahnya.

    Niat Nea membangun usaha kala itu disambut baik suaminya, Muhammad Adi Nugroho. Sang suami yang ahli desain grafis dan fotografer memberikan dukungan penuh dengan merancangkan sendiri produk yang ingin dibuat.

    “Ini couplepreneur, jadi ini usaha bareng. Kita saling melengkapi dalam menjalankan usaha ini,” lanjutnya.

    Hasil tak mengkhianati usaha. Produk-produk mereka laku dan kian laris di pasaran. Keduanya pun memutuskan untuk melabeli usahanya pada tahun 2012.

    “Mulai bikin merk sendiri Alhamdulillah langsung laris. Sejak awal kita lakukan pemasaran lewat online karena saat itu kita melihat peluangnya sangat besar,” ungkapnya.

    “Saat itu saya mulai pemasaran lewat facebook, masih pakai HP jadul dengan sistem operasi yang sangat terbatas,” sambungnya.

    Berawal dari itulah, Nea terus memacu usahanya. Sejumlah karyawan direkrut, jangkauan pemasaran diperluas. Sempat ada anggapan bahwa tinggal di desa sulit untuk berkembang. Namun, Nea mampu menepisnya dengan hasil nyata.

    “Sebagian orang menganggap tinggal di desa itu kendala, tapi saya ga gitu. Enjoy, nikmati, dan syukuri. Sudah zaman digital masalah tempat tidak jadi soal,” tandasnya.

    Ibu 2 anak yang lahir pada 12 juli 1989 ini justru mengaku bangga dengan produk-produk yang dihasilkan sendiri melalui karyawan yang semua berasal dari Purworejo. Kebanggan itulah yang membuat kepercayaan dirinya menguat. Produk-produk Neana tak hanya laris di pasaran dan dilirik artis papan atas, melainkan juga mendapat pengakuan dalam berbagai kesempatan.

    Salah satunya, akhir tahun lalu Nea diundang untuk menampilkan karyanya dalam ajang bergengsi Fashion Show Hijab di Australia. Sementara yang terbaru, pada 28 Oktober 2019, Nea berkesempatan mengikuti KodMode Paris Fashion Show di Impasse Lamiere, Paris Perancis. Sebuah ajang bergengsi yang diikuti penggerak Modest Fashion Paris, seperti komunitas hijabers di Paris.

    Saat itu Nea membawakan Koleksi brand Neahijab Berkolaborasi dengan 3 santri lainnya, yakni Iffah M Dewi dengan brand Sogan Batik, Ifa Mariya dengan brand Etniqo, dan Maria Fauzi seorang penulis dan pengajar, alumni Al Azhar Kairo dan CRCS UGM.

    “Kami menciptakan 8 karya dengan pesan-pesan Islam yang rahmatan lil alamin. Perjalanan kemarin kami sebut dedikasi santri untuk negeri,” kata Nea.

    Keberangkatan ke berbagai negara membuat Nea melek mata. Ia menyadari pentingnya digitalisasi dalam perdagangan. Ia pun termotivasi untuk terus mengembangkan produktivitas usahanya melaui berbagai inovasi.

    “Fashion Show Sogan Batik dan Nea Hijab di Paris juga menggandeng Jalananya Travel dan beberapa label yang menyeponsori aksesoris sebagai pelengkap koleksi busana. Di antaranya Nayys Hijab, Apple Hijab Brand, Alya Hijab by Naja untuk hijab, Sashe untuk kaos kaki, Etniqo, Rolia.id, Jims Honey Surabaya, Aznii official untuk tas. The Goods Indonesia untuk sarung tangan, dan Galery Alamea untuk bros,” bebernya.

    Kisah dagang Nea memang telah menemui titik suksesnya saat ini. Namun, hal itu tidak membuat Nea lupa terhadap misi awalnya untuk berdakwah dan menjadi manusia bermanfaat. Di sela-sela kesibukannya, Nea kerap menyempatkan diri untuk memberikan pelatihan kepada generasi muda.

    Jika ada kesempatan berbagi, Nea tidak menyia-nyiakannya. Hal itu juga yang membuat Nea melalui Sahabat Neana mendapat penghargaan piagam kemanusian dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) karena keaktifannya memberikan bantuan kemanusiaan untuk muslim Palestina pada tahun 2017 dan 2018.

    “Target atau capaian ke depan saya bisa menghaji atau umrohkan setiap karyawan, saudara-saudara dan mengajak mereka untuk sukses bersama,” ujarnya.

    Untuk mewujudkan itu, Nea terus memotivasi karyawannya rajin ibadah. Sebelum mulai bekerja, semua karyawan diwajibkan mengaji terlebih dahulu.

    “Meski waktunya memang terhitung berkurang dalam bekerja, tapi saya tak mempermasalahkan karena justru itu adalah penguat dalam menjalankan usaha. Allah dulu yang diutamakan,” pungkasnya.

    Langkah usaha Nea layak menjadi inspirasi pelaku usaha lain. Hal itu juga sejalan dengan arahan yang digembar-gemborkan pemerintah Kabupaten melalui OPD terkait agar pelaku usaha lokal dan koperasi go Digital.

    Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Kabupaten Purworejo diketahui jumlah UMKM yang tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo ada sebanyak 25.802 unit. Jumlah itu terdiri atas 24.805 usaha Mikro unit dan 997 UKM.

    Adapun  UMKM terbina sampai dengan tahun 2018 mencapai sekitar 7.173 dari data awal 22.330.

    “Target UMKM naik kelas 4 persen per tahun dari UMKM yang terbina. Harapan kami pertumbuhan wirausaha baru linear dengan pertumbuhan UMKM terbina,” kata Plt Kepala Dinas KUKM, Drs Boedi Hardjono saat dikonfirmasi melalui Kasi Kelembagaan UMKM, Nurhadi Trionggo.

    Sementara dari sekitar 265 koperasi, tercatat hanya sekitar 150 di antaranya yang aktif. Guna mendukung akselerasi UMKM naik kelas dan koperasi terus berkembang, salah satu program digiatkan sejak beberapa tahun terakhir, yakni pendampingan/pelatihan pemanfaatan IT dalam akses pemasaran. Kini, sebagian besar pelaku sudah melakukan pemasaran online dan mengandalkan jasa pengiriman logistik dalam hal distribusinya.

    “Kita terus mendorong agar UMKM dan koperasi dapat mengikuti perkembangan zaman,” tandasnya. (*)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here