Warung Mesum di Parin Bebes Kian Menjamur

KUMUH- Pengunjung nampak bermain di kawasan Parin yang penuh bedeng dan sampah.
KUMUH- Pengunjung nampak bermain di kawasan Parin yang penuh bedeng dan sampah.

     BREBES – Keberadaan warung mesum atau esek-esek di OW Pantai Randusanga Indah (Parin) di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes kian memprihatinkan. Jumlahnya terus menjamur hingga mencapai ratusan bedeng. Tidak hanya dikeluhkan masyarakat, pemerintah pun merasa gerah.

Kepala Bidang Pariwisata, Dinbudpar Pemkab Brebes, Iskandar Agung menyatakan penataan warung mesum di Parin merupakan tantangan terberat dalam upaya pengembangan pariwisata di Kabupaten Brebes. “Harus diakui memang tempat wisata itu sulit dibangun yang faktornya tidak lepas dari kondisi masyarakat,” kata Iskandar, Senin (14/10).

Iskandar melanjutkan, untuk menangani peliknya persoalan tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemdes setempat untuk ditata lagi. “Kami dengan pemerintah desa sudah mengatur langkah ke depannya. Karena, penataan tempat wisata ini sangat melibatkan masyarakat setempat,” tambahnya.

Baca Juga
Merapi Kembali Menggeliat, Masyarakat Dilarang Beraktivitas di Radius 3 Km

Terkait dengan tahap pengembangan tempat wisata tersebut, Detail Engenering Design (DED) sudah dibuat. Namun untuk melakukan pengembangan itu perlu diawali dengan penataan warung esek-esek. Ratusan warung bedeng atau esek-esek itu sejak puluhan tahun hingga kini masih eksis.

Sementara Kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiyono mengungkapkan, jumlah warung esek-esek tersebut mencapai ratusan yang berjejer di sepanjang kurang lebih 500 meter dan berada di kawasan timur pantai. Tempat tersebut sering dijadikan tempat mesum bagi sebagian wisatawan yang sengaja berkunjung hanya untuk memenuhi hasrat asmara.

“Jumlahnya sampai ratusan dan sudah ada sejak puluhan tahun. Para pemilik warung pun sengaja mendesain warung bilik ini secara tertutup dan disekat kurang lebih 2×2 meter,” kata Afan.

Diketahui, keberadaan warung esek-esek yang dijadikan tempat mesum tersebut sudah menjadi rahasia umum karena sudah berdiri sejak puluhan tahun silam. Upaya penertiban warung esek-esek itu sudah sejak lama dilakukan. Namun, lagi-lagi buntu dan hingga kini belum menemukan titik terang. Sementara terkait tanggapan masyarakat atas keberadaan warung itu, Afan mengklaim 80 persen warganya mendukung upaya penertiban.

“Kami sudah menyampaikan segi positif dan negatifnya terkait warung-warung itu. Keadaannya memang begitu. Beberapa waktu lalu kami sudah sepakat dengan dinas pariwisata untuk melakukan upaya penertiban,” lanjut Afan.

Upaya penertiban ini, lanjut Afan, perlu ada koordinasi secara intens antara Pemkab Brebes, pengelola wisata, pemerintah desa, serta masyarakat setempat. Namun di sisi lain, warung tersebut merupakan sumber penghasilan bagi masyarakat setempat. Selain keberadaan warung esek-esek, kondisi pantai juga kerapkali dipenuhi sampah. Kondisinya pun memprihatinkan karena tidak tertata. Event Brebes Berhias Grasstrack open tahun 2018 pun hanya menyisakan sirkuit yang terbengkalai. (fid/ism)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here