SNI Sebabkan Indonesia Banjir Impor Baja

SNI Sebabkan Indonesia Banjir Impor Baja
SNI Sebabkan Indonesia Banjir Impor Baja

JAKARTA – Kebijakan Non Tariff Measuser (NTM), sepertinya tak berjalan dengan efektif. Karena impor baja dan tekstil seolah tak terbendung di dalam negeri.

NTM sendiri merupakan instrumen di luar pengenaan tarif yang tujuannya untuk menjaga kinerja industri dengan mengendalikan impor, misalnya melalui kebijakan SNI.

Ketua Umum The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengatakan, implemenasi SNI selama ini belum efektif. Sebab kebijakan SPPT-SNI justru menyebabkan membanjirinya importasi baja.

“Kita dibanding negara lain dalam menerapkan kebijakan seperti bea masuk anti dumping relatif paling kecil, di banding luar negeri, ditambah lagi kita punya SNI,” kata Silmy yang juga Dirut PT Krakatau Steel, di Jakarta, kemarin (10/10).

Lajut Silmy, seharusnya SNI bisa melindungi industri dalam negeri, bukan sebaliknya mematikan produsen lokal. “SNI seharusnya bukan malah digunakan untuk membuka diri, melainkan untuk melindungi industri dan juga menjaga perlindungan konsumennya.” sambung Silmy.

Sementara Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Johnny Darmawan menilai penerapan NTM bisa menjadi instrumen meredam deras barang impor sehingga persaingan dalam negeri tetap sehat.

“Di tengah semakin kecilnya tarif bea masuk akibat kesepakatan FTA, maka NTM akan menjadi andalan sebagai instrumen yang dinilai efektif dalam memproteksi industri dalam negeri,” ujar Johnny.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, impor baja lapis yang masuk ke Indonesia sebesar 1,54 juta ton, mengalami peningkatan 12 persen dari 1,37 juta ton pada tahun 2017.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here