Petani Gelar Kirab Budaya, Panen Tembakau di Temanggung Bagus

INTERN. tradisi kirab budaya pasca panen raya
KIRAB. Warga Desa Liyangan melakukan tradisi kirab budaya pasca panen raya tembakau.

TEMANGGUNG – Petani tembakau di Dusun Liyangan Desa Purbosari Kecamatan Ngadirejo menggelar kirab budaya. Tradisi turun temurun ratusan tahun ini digelar sebagai salah satu bentuk rasa syukur petani kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan panen raya tembakau tahun ini.

Sejumlah gunungan yang terbuat dari hasil bumi petani di lereng Gunung Sindoro ini diarak oleh warga masyarakat setempat yang sebagian besar berprofesi ssbagai petani tembakau. Tidak hanya gunungan saja iring-iringan kesenian juga tampak terlihat dalam kirab budaya ini.

Kirab budaya sendiri dimulai dari ujung desa menuju situs Liyangan yang berada kurang lebih satu kilometer dari Desa tersebut.  Tampak iring-iringan kirab ini disambut oleh ribuan warga yang sengaja menunggu prosesi kirab yang hanya dilakukan satu tahun sekali ini.

Pada ritual kirab tersebut juga dilakukan pengambilan air oleh Kepala Desa Purbosari Saifudin Ansori di Tuk Tempurung dekat Situs Liyangan selanjutnya dibawa ke tempat ritual kirab.

Setelah dibacakan doa, gunungan palawija dan sejumlah nasi tumpeng dari setiap RT di Desa Purbosari tersebut diperebutkan oleh ratusan orang yang hadir di kompleks Situs Liyangan. Acara dilanjutkan dengan pentas kesenian yang ada di Desa Purbosari.

Kepala Desa Purbosari Saifudin Ansori mengatakan kirab budaya di Liyangan ini merupakan simbol dari tasyakuran setelah panen raya tembakau.

Baca Juga
Kebakaran di TNGM Wilayah Kabupaten Magelang Belum Padam

“Kita rayakan dengan bersyukur kepada Allah SWT, membuat beberapa tumpeng sekaligus ada ritual pengambilan air yang merupakan sumber kehidupan,” katanya.

Ia menuturkan tradisi budaya itu sudah berlangsung sejak dulu. Pengambilan air sebagai simbol bahwa pada zaman dulu itu seorang rakai atau raja kepada rakyatnya memberikan air sebagai tanda kehidupan.

“Air diberikan kepada masyarakat atau rakyatnya pada era itu sehingga tradisi itu kita jaga sampai saat ini sekaligus sebagai daya tarik wisata ke depan sesuai program yang ada di desa wisata ini,” katanya.

Ia menuturkan guna mendukung sebagai desa wisata, di dekat Situs Liyangan dibangun enam rumah zaman Mataram Kuno.

“Tahun ini baru bangunannya saja yang berdiri belum ada isinya, ke depan akan kita lengkapi sehingga pengunjung bisa menginap di sana. Kita akan buat suasana seolah-seolah kita hidup di zaman Mataram Kuno,” katanya.

Sementara itu Zaili (43) salah satu pengunjung mengaku, dirinya sengaja menyempatkan waktu untuk melihat dan menyaksikan gelaran kirab budaya tahunan ini.

“Sekalian liburan, sangat menarik dan harus dipertahankan,” tuturnya.

Ia mengaku setiap tahun pasti menyaksikan langsung kirab budaya di Desa Purbosari ini. Karena selain unik kirab yang dilakukan di Purbosari ini berbeda dengan daerah lain.

“Disini unik,  kirab dilakukan disitus Liyangan, kita seakan terbawa ke jaman dulu,” tuturnya. (set)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here