Bikin Bangga, Karya Akrilik Warga Kota Magelang Diminati Imam Masjidil Haram

RT RT
AKRILIK. Fatur Rozaq, pengusaha akrilik asal Kota Magelang ketika memberikan inspirasi kepada sejumlah mahasiswa, tentang strategi pemasaran di dunia maya.

TOREHAN produk kerajinan karya Fatur Rozaq sebagai perajin akrilik sudah tembus ke jazirah Arab. Karya warga asal Kota Magelang itu bahkan sempat dipesan Imam Masjidil Haram, Arab Saudi, Syeh Adil Al-Kabani dan Syeh Ali Jaber.

Pria kelahiran Pemalang, 10 Februari 1982 itu sudah menetap lama di Kota Magelang.Namun, dia baru merintis usaha aneka kerajinan dari akrilik sejak 2016 lalu.

Dia mengerjakan pesanan dibantu 4 karyawan di rumah produksinya di Puri Sanden 3, Kampung Sanden, Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara. Kini omzet per bulan suami Andita Kusumastuti ini mencapai puluhan juta rupiah.

Ia bercerita, awal popularitas hasil kerajinannya mulai digemari konsumen, karena ia begitu rajin dalam mempromosikannya di dunia maya. Ia memanfaatkan jejaring media sosial untuk sarana promosi praktis.

“Awal saya tertarik bisnis akrilik karena kala itu saya membaca peluang besar dari usaha akrilik. Saya anggap usaha semacam ini belum populer bahkan tidak ada. Padahal, orang yang butuh terhadap akrilik terus saja banyak,” ujar Fatur.

Baca Juga
Kebakaran di TNGM Wilayah Kabupaten Magelang Belum Padam

Lantas dia berinovasi mengaplikasikan lampu warna-warni untuk memberikan efek cahaya pada akrilik. Pemikiran cerdas inilah yang membuat produk akrilik milik Fatur diperhitungkan oleh konsumen.

“Memang, awal usaha ini berdiri, setiap ada pesanan, saya lempar ke Jogjakarta. Tapi konsep dan finishing di sini,” katanya.

Hal itu dilakukan lantaran Fatur belum memiliki mesin yang bisa memudahkan proses produksi. Tak lama kemudian dia bisa membeli satu unit mesin grafir impor karena menerima pesanan senilai Rp1 miliar.

“Karena itu, saya berani beli mesinnya. Waktu itu konsumen tersebut melunasi sebelum barang jadi,” ujarnya.

Sejauh ini, alumni Universitas Tidar jurusan Teknik Mesin itu tak menemui kendala dalam memperoleh bahan baku, produksi maupun pemasaran. Hanya saja, ia masih kekurangan tenaga terampil di bidang usaha yang digeluti.

“Tren anak muda zaman sekarang agak susah diajak kerja di tempat yang bukan kantoran. Padahal saya juga butuh sumber daya manusia (SDM) untuk membantu kelancaran usaha ini, terutama untuk memperkuat offline marketing,” paparnya.

Meski demikian, ia tetap mengoptimalkan jumlah pekerja yang ada. Menurutnya membuat kerajinan berbahan akrilik tidak terlalu rumit. Proses produksi diawali dengan mendesain gambar di komputer, kemudian bahan akrilik dengan ketebalan 2-5 milimeter dimasukkan ke mesin untuk digrafir. Sementara yang membutuhkan warna disemprot menggunakan cat pada proses penyempurnaan.

Baca juga
Gunung Sumbing di Temanggung Terbakar Lagi

“Lama dan tidaknya pengerjaan tergantung dari media yang digrafir. Jadi kerumitan gambar tidak berpengaruh,” ucap pria yang pernah berjualan aneka jus buah itu.

Sampai saat ini, ia sudah membuat puluhan desain kerajinan akrilik. Mulai dari gantungan kunci, hiasan meja, hiasan dinding seperti kaligrafi, plakat, suvernir pernikahan, lampu hias. Selain itu, perlengkapan perkantoran, signboard,nomor rumah, jam dinding, dan sebagainya.

“Harga dibanderol mulai Rp5 ribu sampai di atas Rp3 juta. Sedangkan bentuknya bisa custom atau sesuai keinginan konsumen,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang, Sri Retno Murtiningsih memberi apresiasi kepada para pelaku usaha di wilayah setempat. Dengan begitu, para pelaku usaha ini sekaligus mempromosikan potensi Kota Sejuta Bunga di dunia luar.

“Lebih membanggakan lagi karena karya akrilik ini sempat tembus di pasar Arab Saudi. Yang memesan pun tidak main-main, beliau merupakan imam besar Masjidil Haram,” kata Sri Retno.

Menurut dia, perlu adanya dukungan dari pemerintah terhadap para pelaku usaha di Kota Magelang. Salah satunya, dengan menyelenggarakan pelatihan di bidang kerajinan akrilik. Di samping itu, juga melakukan pembinaan lainnya.

“Upaya kami lebih mengarah ke peningkatan kualitas SDM,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Magelang dan mengusulkan bagi para pengusaha yang kekurangan SDM, bisa membuka lowongan pekerjaan melalui dinas tersebut.

“Disnaker menjadi penaung para pencaker yang rata-rata masih fresh graduate. Sebelum diterjunkan ke lapangan kerja, terlebih dahulu mereka dilatih dan dibina, sehingga menjadi pekerja produktif ketika ditempatkan di lapangan kerja, salah satunya bisnis akrilik ini. Tidak menutup kemungkinan juga mereka bisa membuka usaha sendiri,” paparnya.

Menurut Sri Retno, peran UMKM dan pelaku usaha selama ini sudah cukup tinggi dalam mengangkat kesejahteraan ataupun mengurangi kemiskinan di Kota Sejuta Bunga. Dia berharap, ke depan, akan tampil pengusaha-pengusaha muda yang berwasan luas, sehingga dapat mengurangi tingkat penangguran dan kemiskinan di Kota Magelang, yakni hanya 3 persen saja sesuai target pada tahun 2021 mendatang. (des/hms)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here