10 Mahasiswa dari Berbagai Wilayah di Indonesia Pelajari Keberagaman di Wonosobo

Jelajah Toleransi Pelajari Keberagaman Wonosobo
KUNJUNGI TEMPAT IBADAH. Peserta Jelajah Toleransi yang mengunjungi tempat ibadah, Klenteng Hok Hoo Bio dan GKJ serta desa-desa untuk belajar Toleransi selama tiga hari.

WONOSOBO – Sebanyak 10 mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia mengunjungi berbagai tempat di Wonosobo untuk mempelajari langsung toleransi keagamaan dalam Jelajah Toleransi. Agenda tour tersebut diinisiasi oleh Toleransi.id, Indika Fondation, UNDP dan PBB. Agenda itu dihelat sejak 30 September hingga 4 Oktober 2019 selama beberapa hari mereka mempelajari bagaimana proses hadirnya toleransi di Wonosobo ditengah ramainya kasus intoleran di Indonesia. wonosobo jadi salah satu daerah yang menarik dipelajari dengan beberapa wilayah yang disasar.

“Kami semua mahasiswa yang dihimpun dalam Jelajah Toleransi. Kami berkonsentrasi pada pendampingan, toleransi dan contra extremism. Di sini kawan-kawaan yang sudah mendaftar dari seluruh Indonesia diseleksi administrasi hanya diambil 50 orang dari lintas kampus. Mereka dibagi ke lima kota, salah satunya Wonosobo di samping di Ambon, Pos, Batu Malang, dan Pangandaran, sebelumnya ada pembekalan selama tiga hari dua malam untuk membuat konten positif,” ungkap Ketua Tim Wonosobo, Rama Zatria Galih Panuntun.

Rama juga menyebut nantinya hasil yang didapat akan diwujudkan melalui berbagai konten literasi dan konten kreatif yang disusun peserta. Harapanya dari 10 konten dari tiap kota tersebut bisa digunakan untuk menyebarkan konten positif seputar toleransi.

Baca Juga
Diterjang Lisus, 10 Rumah di Wonosobo Rusak

“Sebelum menuju ke Wonosobo salah satu hal yang berhasil ditemukan oleh tim Jelajah Toleransi Wonosobo adalah, adanya unsur kebudayaan yang dapat menyatukan berbagai perbedaan. Kami juga mengunjungi beberapa wilayah seperti Desa Wisata Giyanti, Desa Anggrunggondok serta berbincang dengan beberapa tokoh budaya. Juga ke tempat ibadah yaitu Masjid Al-Mansyur Kauman, Gereja Kristen Jawa, Klenteng Hook Hoo Bio serta Yayasan Katolik Dena Upakaram” ungkapnya.

Bagi rombongan itu, waktu 3 hari terlampau singkat belajar toleransi di Wonosobo. Hal itu mengingat Wonosobo merupakan representasi dari Indonesia dan juga gambaran utuh bagaimana kehidupan beragama dapat berjalan dengan sejuk dan damai. Toleransi dan nilai-nilai kehidupan yang melahirkan keharmonisan sehingga memunculkan kebahagiaan merupakan salah satu hal yang ia temukan di Wonosobo bahkan di beberapa desa yang mereka datangi seperti Giyanti hingga Anggrunggondok.

“Kami juga mengunjungi komunitas maupun rumah seni yang mengangkat bundengan yaitu Woohoo art space. Kami sebenarnya memang mencari cerita bagaimana Wonosobo hadir dalam toleransi. Mengingat di luar Wonosobo banyak yang sudah melihat informasi seperti kota lain yang pernah ada konflik. Ada juga kisah bangkitnya toleransi di beberapa daerah dan inspirasi dari daerah yang selelu kondusif seperti Wonosobo,” pungkasnya. (win)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here