Tiga Nama Bersaing

    Pendaftaran Ketum PSSI Dibuka
    Ilustrasi

    JAKARTA – Komite Pemilihan Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah membuka pendaftaran untuk calon ketua umum (ketum) dan wakil ketua umum (waketum) PSSI Periode 2019-2023 pada Kamis (12/9) kemarin.

    Hal itu diungkapkan langsung Ketua Komite Pemilihan PSSI, Syarif Bastaman. Dikatakanya, pendaftaran bakal calon ketum dan waketum serta Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dibuka ihingga 3 Oktober 2019, mendatang.

    “Setelah periode pendaftaran selesai, pemberitahuan kekurangan dokumen pencalonan akan dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai 6 Oktober 2019. Sedangkan, batas kandidat untuk melengkapi dokumen, yakni tanggal 1 Oktober-8 Oktober 2019,” ungkap Syarif. kepada wartawan di Garuda Store, Senayan, Jakarta, Kamis (12/9) kemarin.

    “Nantinya, pengumuman kandidat sementara akan kami sampaikan pada 9-13 Oktober 2019. Kami memberikan waktu banding untuk para kandidat pada 10 sampai 16 Oktober 2019. Pengumuman hasil banding akan dilaksanakan pada 18 Oktober 2019,” bebernya.

    “Dengan adanya keputusan KBP (Komisi Banding Pemilihan maka sudah final. pemberitahun kepada anggota pada 23 Oktober,” sambung Syarif.

    Adapun untuk masa kampenye, Syarif mengatakan bahwa pelaksanaan tersebut akan jatuh pada 24-31 Oktober atau selama satu minggu. Dalam pelaksanaan itu, para calon diminta untuk menyampaikan visi dan misi serta program yang sudah atau sedang dijalankan PSSI.

    “Sehingga nantinya, calon bisa sesuai dengan program PSSI. Apa yang sudah di susun PSSI sudah disupervisi dan disietujui oleh FIFA dan AFC. Kami memandang sekarang PSSI membutuhkan orang, untuk capai target 2045,” jelas Syarif.

    Oleh sebab itu, menurut Syarif telah menetapkan syarat bagi para calon nantinya. Tercatat ada tujuh syarat dasar dan satu syarat terkait individu yang haru dilengkapi.

    “Setiap calon bersedia menandatangani surat pernyataan untuk mengikuti prosedur integrity check sesuai statuta dan kode pemilihan PSSI serta mengikuti prosedur sosialisasi PSSI yang telah ditetapkan oleh Komite Pemilihan dan Komite Banding,” tutur Syarif.

    Mereka yang ikut minimal berusia 30 tahun pada 2 November, kemudian memiliki pengalaman 5 tahun berturut-turut atau tidak dengan penegasan mengelola sepak bola di anggota PSSI.

    “Mereka juga pernah atau aktif di sepak bola Indonesia, memiliki pengetahuan akan tata kelola sepak bola dan hukum sepak bola, memiliki pengalaman dalam posisi strategis,” sambungnya.

    Sementara itu, Ketua Komite Banding Pemilihan PSSI, Erwin Tobing mengaku pihaknya akan menyeleksi persyaratan yang telah ditetapkan tersebut. Menurutnya, pihaknya akan mempelajari jika ada syarat yang dianggap tidak terpenuhi oleh KP.

    “Jadi kami akan seleksi semua persyaratan. Kalau seandainya KP menganggap tidak memenuhi syarat, kami akan mempelajarinya. KP bekerja sendiri, kalau tidak puas (silahkan) banding ke kami dan akan kami teliti. Bisa aja akan ada perubahan,” tutur Erwin.

    Sebagai mana diketahui, setelah melakukan komunkasi intens dengan FIFA, PSSI memutuskan untuk menggelar Kongres PSSI pada tanggal 2 November 2019 mendatang di Jakarta dengan agenda pemilihan Ketua Umum.

    Sebelumnya FIFA sempat tidak memberikan restu terkait waktu pelaksanaan kongres tersebut. Sebab, Federasi Sepak Bola Dunia itu meminta agar PSSI tetap menggelar Kongres pada Januari tahun depan.

    Ketika Exco memutuskan Kongres Pemilihan pada 2 November 2019, mendatang, kami melakukan komunikasi intens dengan FIFA. Pada prinsifnya FIFA tidak keberatan karena yuridiksi PSSI, ujar Sekjen PSSI, Ratu Tisha di tempat yang sama. (gie/fin/tgr)

    Sebelumnya dibuka pendaftaran, tercatat sudah ada tiga nama yang tertarik untuk maju memperbutkan kursi nomor satu di induk sepak bola Tanah Air tersebut.

    Pertama Rahim Soekasah. pada Mei 2019 lalu, ia secara resmi mendklarasikan diri untuk maju sebagai calon Ketum PSSI. Bahkan, ia mengklaim telah mendapat dukungan dari sejumlah mantan pemain Timnas indonesia.

    Ketertarikan Rahim sendiri untuk maju menjadi Ketum PSSI, karena prihatin dengan konsisi PSSI saat ini. Jika melihat salah satu syarat calon ketum PSSI, Rahim memiliki kriteria tersebut, dimana ia sudah aktif di sepak bola lebih dari lima tahun, sejak usianya 39 tahun. Selain itu, Rahim juga merupakan Chairman klub Liga Australia, Brisbane Roar dan mantan Ketua BTN di Timnas Era 2010.

    Selanjutnya ada nama Mochamad Iriawan atau yang akrab disapa Iwan Bule. Ia sendiri mengklaim sudah mendapat dukungan dari 61 voters PSSI.

    Ia sendiri memiiki program untuk membawa Timnas Indonesia berprestasi di kancah Asia hingga menargetkan lolos ke ajang Piala Dunia 2026. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia mengaku telah memiliki program yakni dengan memperbaiki jadwal kompetisi yang dinilainya sangat berantakan.

    Bahkan ia berjanji, jika dirinya terpilih menjadi Ketum PSSI, bakal mempertimbangkan posisi pelatih Timnas Indonesia yang kini dipegang oleh Simon McMenemy. Hal itu diungkapkan, pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Utama Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) itu ketika melihat langsung pertandingan Timnas Indoensia menghadapi Thailand 10 September 2019, kemarin.

    “Banyak masukan (kembalikan) pelatih yang lama (Luis Milla, red). Namun ada juga yang mengatakan, untuk menggunkan pelatih lokal. Namun, saya akan diskusi dulu dengan beberapa pelatih nasional, nantinya,” tutur Iwan Bula kala itu.

    Iwan Bule sendiri mengaku sakit hati atas kekalahan yang diterima Indonesia atas Malaysia (2-3) dan Thailand (0-3). “Apa yang salah di tim ini sehingga kalah cukup menyakitkan. Kemarin kalah sudah menyakitkan. Insyaallah saya akan terus maju. Saya akan dalami dan pelajari, kenapa kita bisa dibawah Thailand. Ini sangat menyakitkan,” ujarnya.

    Calon Ketum PSSI yang baru-baru ini nampak adalah Arif Putra Wicaksono. Beberapa hari lalu, CEO Nine Sport ini mendeklarasiakan diriinya untuk maju ke bursa pencalonan pemilihan ketua umum PSSI. Bahkan, ia sudah menujuk Doni Setiabudi untuk mendampingunya untuk menjadi calon waketum.

    Mereka berdua yang menamakan ABDI memiliki program sekma pembayaran biaya pembangunan sepak bola Indonesia dengan standar FIFA Club Licensing. Bahkan, mereka ingin mendatangkan pelatih kenamaan asal Belanda, Frank de Boer untuk memenuhi ambisi timnas menjuarai Piala AFF 2022.

    “Target reaistis kami adalah revolusi sepak bola Indonesia. Sepak bola indonesia bagai jalan ditempat. Kalau ada yang lebih baik dari kami, tidak masalah. Akan tetapi, mereka harus bisa memajukan sepak bola Indonesia,” tutur Doni beberapa hari lalu.

    Berbekal pengalaman yang mereka miliki, Arif Putra dan Doni Setiabudi yang merupakan CEO Bandung Premier League, yakin jika mereka bisa memberikan perubahan sepak bola Indonesia ke arah profesional jika memiliki standar kriteria FIFA Club Licensing tersebut. (gie/fin/tgr)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here