Indonesia Tak Dilirik Investor Asing

Indonesia Tak Dilirik Investor Asing
Indonesia Tak Dilirik Investor Asing

JAKARTA – Pemerintah Indonesia masih kesulitan untuk menggeliatkan investasi asing di Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke depan, dan ini tidaklah mudah.

Hal ini tercermin dari 33 perusahaan yang hengkang dari Cina, malah memilih negara lain ketimbang di Indonesia, yaitu terbanyak ke Vietnam, disusul Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

Dalam masalah ini, Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution mengaku gundah akan kenyataan ini. “Setahun terakhir, cukup banyak relokasi industri dari Cina, dan sedikit sekali yang ke Indonesia, ya sebagian besar larinya ke Vietnam, Kamboja, Thailand, jarang yang ke Indonesia,” ujar Darmin di Jakarta, Rabu (4/9).

Darmin mengungkapkan, selama ini orang beranggapan penyebab permasalahan perizinan, tetapi tidak demikian, melainkan massalah rekomendasi yang terlalu lama untuk dibeirkan ke investor.

“Ada yang nggak berjalan dengan baik di kita. Bukan (masalah izin), kadang-kadang cuma rekomendasi teknis. Ya nggak ada izin tapi perlu rekomendasi, nah ini perlu lama,” ucap dia.

Pasalnya, lanjut Darmin, untuk mendapatkan rekomendasi investor saja, para pelaku usaha harus menunggu hingga tiga bulan. Nah, waktu yang lama ini yang bikin investasi lambat di Indonesia.

“Jadi bukan karena izin, tapi karena rekomendasi dua bulan. Padahal seharusnya cukup 2-3 hari saja. Poinnya kita harus review habis-habisan dan pangkas habis-habisan,” tutur dia.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, memang investasi asing dalam bentuk arus modal internasional (Foreign Direct Investment/FDI) trennya memang menurun. Bahkan, tahun lalu pertumbuhannya negatif.

“Tahun ini menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sudah membaik. Tapi relokasi dari Cina, Jepang, dan Korea tidak ada yang masuk ke Indonesia. Kita kalah dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia,” ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network, Rabu (4/9).

Padahal, kata Pieter, pemerintah telah melakukan upaya untuk menarik investasi ke Indonesia, seperti perbaikan izin yaitu dengan perizinan terintegrasi secara elektronik (Online Single Submission/OSS) hingga pemberian berbagai insentif pajak, berupa tax holiday dan tax allowance. Artinya, Indonesia sudah sangat menarik bagi investor.

“Tapi hambatan seringkali terjadi di saat investor akan merealisasikan investasinya,” ucap Pieter.

Hambatan tersebut umumnya adalah masalah pembebasan lahan dan perizinan. Soal OSS, memang masih belum sempurna, karena masih banyak kendala dalam penerapannya.

“Selain itu masih ada faktor lain yang juga menghambat, seperti tidak konsistennya kebijakan pemerintah, tidak ada koordinasi pusat daerah, dan terakhir masalah perburuhan-pengupahan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluapkan kekesalahnya karena Indonesia kalah dari negara tetangga dalam hal investasi asing. Sebab banyak perusahaan dari Cina yang pindah, namun lebih memilih negara lain ketimbang Indonesia.

“Dari 33 perusahaan, sekali lagi, 33 perusahaan di Tiongkok yang keluar, kita ulang, 23 ke Vietnam, 10 ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia, tidak ada yang ke Indonesia,” kata Jokowi di Jakarta, Rabu (4/9).(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here