Impor Ayam Brasil Pukul Peternak Lokal

Impor Ayam Brasil Pukul Peternak Lokal
Impor Ayam Brasil Pukul Peternak Lokal

JAKARTA – Kalahnya Indonesia dalam pengadilan organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO) berdampak pada peternak ayam lokal. Pasalnya, ayam impor asal Brasil segera membanjiri pasar di Indonesia.

Atas kondisi ini, Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita hanya bisa pasrah impor ayam Brasil membanjiri pasar di Tanah Air. Namun, tidak mudah ayam impor ke Indonesia, sebab harus melewati berbagai tahapan terutama harus memperoleh sertifikat halal.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menilai masuknya ayam Brasil ke Indonesia bakal memukul harga di tingkat peternak. Alhasil, bisa membuat peternak gulung tikar.

“Masuknya ayam impor Brasil yang akan dijual di pasar swalayan mempunyai elastisitas harga yang rendah,” kata Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (19/8).

Selain berdampak pada peternak kecil, impor ayam juga akan memperbesar defisit neraca perdagangan. “Kalau begini akan semakin sulit untuk mengejar suplus neraca perdagangan pada akhir tahun,” ujar Huda.

Peternak asal Bogor, Jawa Barat, Winarno mengatakan, mau tidak mau agar profesi sebagai peternak tetap berlanjut demi menghidupi keluarga harus meningkatkan efisiensi yakni harga pokok produksi (HPP) ditekan serendah mungkin.

“Kita berharap dari eksternal harga sarana produksi peternakan juga bisa turun. Sebab kita bisa menurunkan biaya produksi sehingga kita bisa bersaing, terutama pakan yang mengambil porsi 70 persen biaya produksi kalau bisa rada diturunkan akan membantu kami peternak,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (19/8).

Dia memperkirakan harga karkas ayam Brasil yang masuk ke Indonesia selisihnya tidak akan terlalu besar yakni sekitar Rp24.000 per kilogram (kg). Sementara saat ini di tingkat peternak harga karkas ayam lokal sekitar Rp28.000 per kg, artinya hanya selisih sekitar Rp4.000 per kg.

“Selisihnya tidak besar Rp4.000-6.000 per kg dari harga karkas ayam di tingkat peternak, mau tidak mau harus menekan biaya produksi agar bisa bersaing,” ucap Win.

Tentu saja, di tengah fluktuasi harga, persaingan dengan integrator perusahaan ayam, kemudian ditambah hadirnya impor ayam Brasil. Hal ini semakin memukul usaha peternak ayam lokal. Kendati demikian, peternak telah siap segala kemungkinan yang terjadi.

“Jadi masuknya ayam Brasil kami tidak gentar, karena sudah biasa ditakut-takuti dengan kondisi selama ini,” kata Win.

Untuk itu, dia mengajak para stakeholder perunggasan dan pemerintah mengupayakan bahan baku sarana produksi peternakan yang murah.

“Harus ada koordinasi yang lebih baik antar pelaku usaha dengan pemerintah, agar siap menghadapi masuknya ayam Brasil, jangan sampai ada dumping,” pungkas Win.

Sebelumnya, Indonesia kalah di pengadilan WTO pada 14 Agustus 2019 lalu. Dengan demikian, pemerintah harus merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) agar mengizinkan Brasil impor daging ayamnya di Indonesia.

Sebagai informasi, pada 2014 Indonesia pernah digugat ke WTO oleh Brasil perihal penolakan impor daging ayam. Brasil memenangi gugatan pada 2017. Namun karena pemerintah Indonesia belum juga membuka keran, maka Brasil kembali menyeret masalah ke ke WTO pada Juni lalu. Dan, pada 14 Agustus 2019 mereka kembali memenangi gugatannya. Tahun ini, dipastikan impor daging ayam Brasil dilakukannya.(ds/din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here