Kopi Arabika Tembus Rp9.250

Kopi Arabika Tembus Rp9.250.
PETIK. Salah satu petani kopi di Desa Tlahab sedang memetik kopi di ladangnya, kemarin.

KLEDUNG – Panen raya kopi arabika tahun ini menjadi panen yang cukup membuat petani bangga. Sebab harga cherry (buah) kopi merah basah tembus hingga Rp9.250 per kilogram. Petani berharap harga ini bisa bertahan hingga akhir panen raya mendatang.

Boyadi (42) salah satu petani kopi arabika di Desa Tlahab Kecamatan Kledung menuturkan, sejak mulai panen di awal bulan Juni lalu, harga cherry merah basah dibeli dengan harga Rp7.000 per kilogram. Kemudian harganya naik kembali setelah perayaan Idul Fitri yakni Rp7.500 per kilogram.

“Alhamdulillah sejak awal panen raya, harganya sudah cukup bagus,” tutur Boyadi, Senin (22/7).

Menurutnya, naiknya harga cherry kopi arabika ini karena permintaan dari pedagang akan kopi arabika cukup tinggi, sehingga pada awal bulan Juli lalu harganya kembali naik.

“Banyak pedagang yang datang mencari kopi arabika,  pedagang lokal juga banyak sekali,” tuturnya.

Menurutnya, sejak awal bulan Juli saat memasuki panen raya, harga cherry kopi arabika sudah dibeli dengan Rp8.000 per kilogram, sepekan kemudian harganya naik menjadi Rp9.000 per kilogram dan saat ini harganya Rp9.250 per kilogram.

“Panen raya tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, harganya juga semakin bagus,” tuturnya.

Senada juga disampaikan Giyono (42), meskipun panen raya tahun ini tidak sebanyak tahun lalu, namun harga kopi arabika saat ini cukup bagus. Apalagi jika saat pemetikan dilakukan dengan teliti yakni hanya memetik kopi yang sudah merah matang saja.

“Biasanya kalau menjual ke pengepul dilihat dulu, banyak kopi yang masih hijau atau tidak. Jika yang dipetik dan dijual itu merata merah semua harganya bisa mencapai Rp9.250 tapi kalau masih ada hijaunya harganya di bawahnya, bisa dibeli Rp8.750 sampai Rp9.000 per kilogram,” ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Peduli Masyarakat Sekitar, FIF GROUP Rutin Bagikan Hewan Kurban Saat Perayaan Idul Adha

Oleh karena itu dirinya, berusaha memetik kopi miliknya jika kopi sudah berubah warna menjadi merah matang. Selain harganya lebih bagus berat kopi juga lebih baik.

“Semakin merah matang, kopinya semakin berat. Sebab kopi sudah matang sempurna, kualitasnya juga lebih baik saat sudah kering. Biasanya pengepul lebih senang dengan kopi yang sudah merah matang,” terangnya.

Dirinya dan petani kopi lainnya berharap, harga cherry kopi arabika bisa bertahan hingga akhir panen raya mendatang. Meskipun turun tidak terlalu banyak.

“Harapan kami bisa bertahan, sebab kualitas kopi antara akhir awal pertengahan hingga akhir panen raya kualitasnya tetap sama,” ujarnya.

Sementara itu terpisah Kepala Bagian Perkebunan Dinas Pertanian Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung Untung Prabowo mengatakan, permintaan kopi arabika Temanggung dari tahun ke tahun semakin meningkat, sehingga sangat berpengaruh terhadap harga kopi arabika.

“Permintaan dari luar daerah cukup banyak, jadi harga kopi arabika Temanggung semakin meningkat, saat ini harga cherry kopi arabika merah sudah lebih dari Rp9.000 per kilogram,” katanya.

Menurutnya, tingginya permintaan kopi arabika ini masih belum sebanding dengan produksi kopi arabika yang ada di Temanggung. Sebagian besar petani kopi arabika masih menanam kopi sebagai tanaman konservasi.

“Belum ada petani kopi arabika yang monokultur, kopi masih ditanam sebagai tumpang sari dengan pola tanam Tlahab,” tandasnya. (set)